aku terbiasa akan luka, dan karena luka aku bertahan
aku bertahan (lagi) ditengah ketimpangan,
kesunyian jalan yang berkerikil berdebu,
gersang dan tak terlihat tanda kehidupan
rasanya ingin pulang dan disambut dengan sebuah pelukan
rindu ini memuncak hingga ubun" rasanya ingin meletup
tapi takut dan hanya sanggup meringkuk lemah di pojok asa
apa aku boleh memecah rinduku dengan pelukan?
karena menatap mu saja tak cukup bagiku
tapi aku takut jika lenganmu pada akhirnya
tak mampu lagi mendekapku dalam pelukmu
bukan karena kau tak lagi ada tapi kita tak lagi ada
aku takut kehilangan sesuatu yg bahkan belum benar-benar ku miliki itu KAMU
teruntuk kamu aku bertahan dalam ketidakpastian
sebut saja aku gila, karena aku memang benar-benar tak lagi berlogika
seperti pada semesta aku berharap ia menghadirkan bintang di tengah siang bolong
begitulah aku berharap tentang kamu
karena sejak dulu kamu tidak pernah benar-benar hilang
kamu hanya tergantikan oleh siang namun di bagian lain kau tetap ada dan masih bersinar
pada malam aku berterimakasih karena telah menjagamu untuk ku kembali
dan jikapun kau bukan tempatku kembali
kau akan selalu menjadi bagian diruang otak dan hatiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar