Gadis bermata cokelat,
bibirnya merah jambu
memandang langit dengan sayu
menekuk wajahnya menahan kalut
bibirnya kelu menahan getir hidup
ditangannya ada sepucuk surat
dengan kertas yang sudah kust
mungkin bekas diremas kuat-kuat.
kalender bertanda silang ditiap tanggalnya, tergeletak disebelahnya
rupanya ia sedang menghitung hari,
mungkin menunggu, entah apa
entah sejak kapan, entah sampai kapan..
gadis berwajah sendu, dengan bibir merah jambu
masih menatap langit
meremas kertas ditangannya sesekali
sesekali ia menatap jam dinding
sesekali ia menghitung hari dikalender
gadis berkulit putih berparas jelita dengan bibir merah jambu,
ia masih saja gelisah
matanya berkaca-kaca
bibirnya bergetar lirih
rupanya ia menahan tangis
ia tak lagi menatap langit
rupanya awan hitam disana mulai berganti senja merah menyala
gadis bermata sipit dengan bibir merah jambu
kini memunggungi langit yang merona merah menyala
seakan ia takut kejelitaannya tersaingi
gadis bermata coklat dengan bibir merah jambu,
kini ia sibuk menghitung hari yg berlalu dikalender
sambil sesekali melihat jam dinding
sepanjang hari, sampai ia jatuh tertidur disisi jendela
gadis berbibir merah jambu masih terus menunggu
menghitung hari yang dijanjikan akan tiba
menunggu entah sudah berapa lama
entah sampai kapan...
Selasa, 10 Juni 2014
Jumat, 06 Juni 2014
kenangan dalam peti mati
aku
pernah menyimpan cinta dan menanamnya dihalaman hati
aku
pernah memupuk cinta hingga berbunga indah
aku
pernah memetik bunga cinta menaruhnya dalam gelas kaca
mengganti airnya tiap hari
memangkas
bagian yang busuk biar tak merusak tubuhnya
aku
memberi cinta pada bunga cinta dalam gelas kaca setiap hari
dengan
cinta ku pikir cukup membuat bunga itu hidup
sayang,
aku salah
perlahan
bagian yang busuk semakin banyak
bunga
cinta yang dulu berkelopak indah kini mulai layu
semakin
hari indahnya semakin sirna
padahal
semakin hari cintaku tak pernah berubah bahkan bertambah untuknya
aku
ingin mempertahankannya walau sampai ia benar-benar mati
aku
ingin menyimpannya walau ia tidak lagi tumbuh,
tapi
itu dulu..
dulu
sebelum aku paham bahwa yang ingin pergi tak seharusnya ditahan
sebelum
aku sadar yang tidak lagi berarti tidak semestinya disimpan..
kelopak-kelopaknya
sudah ku satukan lagi..
bukan
untuk kurawat..
aku
ingin menyimpan bunga cinta yang mati ini didalam peti mati..
biarkan
ia terkubur dalam-dalam..
mengubur
kenangan-kenangan yang menyertainya...
membawa
semua gundah kedalam liang lahatnya..
ku biarkan ia tenang didalm peti matinya..
tanpa
pernah lagi mengusiknya..
membiarkannya
terkubur bersama cinta yang mati.
T.
Kamis, 05 Juni 2014
pekat yang begitu lekat
saya
tidak mampu lagi mendefinisikan apa yang saya rasakan saat ini. tidak cukup
kata lelah, jemu, jenuh, untuk menjelaskannya. mungkin ini waktu dimana saya
merasa sudah sampai dititik kemampuan untuk bersabar. mungkin sudah habis
masanya untuk merasa kuat dan mampu. sudah saatnya untuk meluapkan apa yang
tidak pernah tersampaikan.
saya
pikir merasa kuat merasa bisa merasa mampu itu cukup untuk menghadapi segala
macam tantangan kehidupan.. saya salah.. bahkan usaha pun tidak cukup membuat
saya bertahan dengan ketegaran.. saya tidak paham apa yang kurang dari segala
usaha saya..
saya
tidak pernah lupa dengan Tuhan yang maha penguji hambanya. saya juga tidak
pernah lupa untuk bertindak daripada hanya memikirkan masalah..
kurang
apa dari segala usaha saya selama ini?
kenapa
lelah itu kini mencapai titik terjenuh nya?
Tuhan
memang tidak menjanjikan tidak akan menguji hambanya dengan ujian yang tidak
bisa hambanya lalui.. lantas apa yang saya rasakan kali ini? kenapa saya merasa
berada dititik teertinggi kemampuan saya untuk menghadapi semua pelajaran hidup
yang datang silih berganti, tapi rasanya saya sudah tidak sanggup lagi menghadapi
apa yang akan datang esok hari?
bukan
masalah cinta yang membuat saya akhirnya merasa paling lemah.. patah hati
hanya cerita lama.. bahkan gelombang ini lebih dahsyat menghanyutkan
kekuatan saya ke pulau anta berantah dan menenggelamkan semangat saya
untuk bertahan..
ternyata
begini rasanya merasa tidak berdaya.. bukan lagi karena patah hati.. itu
cerita beda dimensi.. beda masa... bukan lagi saatnya..
rasanya
ingin menyerah dan melepaskan semuanya..
tapi
bagaimana perasaan ayah ibu disana? mereka mengharapkan lebih dari ini.. tapi
bahkan mereka pun tidak mampu menguatkan, justru membuat semakin merasa
bersalah dan kian terpuruk...
bagaimana
caranya untuk kembali bangkit melawan perasaan dan hasrat ingin lenyap dari
muka bumi ini?
rasanya
ingin rehat sejenak dari kenyataan hidup.. melupakan sejenak apa yang menunggu
dihadapi.. rasanya ingin pergi ke negeri antah berantah tanpa membawa beban
hidup sedikit pun..
ini
lelah ini rindu yang ingin bebas... tapi inilah hidup yang minta dihadapi
dengan sejuta pelajarannya yang kadang membuat senang dan sedih..
mungkin
sekarang lebih baik berpura-pura mampu daripada menunjukkan ketidakmampuan itu
sendiri.. malu rasanya sama hidup.. walau memang sudah lelah dan ingin pergi tapi
belum saatnya.. sebelum membuat ayah ibu bangga dan mengakui kemampuan saya,
saya harus mampu bertahan dengan kepura-puraan merasa kuat..
T.
Langganan:
Postingan (Atom)