Selasa, 10 Juni 2014

gadis berbibir merah jambu

Gadis bermata cokelat,
bibirnya merah jambu
memandang langit dengan sayu
menekuk wajahnya menahan kalut
bibirnya kelu menahan getir hidup
ditangannya ada sepucuk surat
dengan kertas yang sudah kust
mungkin bekas diremas kuat-kuat.
kalender bertanda silang ditiap tanggalnya, tergeletak disebelahnya
rupanya ia sedang menghitung hari,
mungkin menunggu, entah apa
entah sejak kapan, entah sampai kapan..

gadis berwajah sendu, dengan bibir merah jambu
masih menatap langit
meremas kertas ditangannya sesekali
sesekali ia menatap jam dinding
sesekali ia menghitung hari dikalender

gadis berkulit putih berparas jelita dengan bibir merah jambu,
ia masih saja gelisah
matanya berkaca-kaca
bibirnya bergetar lirih
rupanya ia menahan tangis
ia tak lagi menatap langit
rupanya awan hitam disana mulai berganti senja merah menyala

gadis bermata sipit dengan bibir merah jambu
kini memunggungi langit yang merona merah menyala
seakan ia takut kejelitaannya tersaingi

gadis bermata coklat dengan bibir merah jambu,
kini ia sibuk menghitung hari yg berlalu dikalender
sambil sesekali melihat jam dinding
sepanjang hari, sampai ia jatuh tertidur disisi jendela

gadis berbibir merah jambu masih terus menunggu
menghitung hari yang dijanjikan akan tiba
menunggu entah sudah berapa lama
entah sampai kapan...

Jumat, 06 Juni 2014

kenangan dalam peti mati

aku pernah menyimpan cinta dan menanamnya dihalaman hati
aku pernah memupuk cinta hingga berbunga indah
aku pernah memetik bunga cinta menaruhnya dalam gelas kaca
mengganti airnya tiap hari
memangkas bagian yang busuk biar tak merusak tubuhnya
aku memberi cinta pada bunga cinta dalam gelas kaca setiap hari
dengan cinta ku pikir cukup membuat bunga itu hidup
sayang, aku salah
perlahan bagian yang busuk semakin banyak
bunga cinta yang dulu berkelopak indah kini mulai layu
semakin hari indahnya semakin sirna
padahal semakin hari cintaku tak pernah berubah bahkan bertambah untuknya
aku ingin mempertahankannya walau sampai ia benar-benar mati
aku ingin menyimpannya walau ia tidak lagi tumbuh, 
tapi itu dulu..
dulu sebelum aku paham bahwa yang ingin pergi tak seharusnya ditahan
sebelum aku sadar yang tidak lagi berarti tidak semestinya disimpan..
kelopak-kelopaknya sudah ku satukan lagi..
bukan untuk kurawat..
aku ingin menyimpan bunga cinta yang mati ini didalam peti mati..
biarkan ia terkubur dalam-dalam..
mengubur kenangan-kenangan yang menyertainya...
membawa semua gundah kedalam liang lahatnya..
ku biarkan ia tenang didalm peti matinya..
tanpa pernah lagi mengusiknya..
membiarkannya terkubur bersama cinta yang mati.


T.

Kamis, 05 Juni 2014

pekat yang begitu lekat

saya tidak mampu lagi mendefinisikan apa yang saya rasakan saat ini. tidak cukup kata lelah, jemu, jenuh, untuk menjelaskannya. mungkin ini waktu dimana saya merasa sudah sampai dititik kemampuan untuk bersabar. mungkin sudah habis masanya untuk merasa kuat dan mampu. sudah saatnya untuk meluapkan apa yang tidak pernah tersampaikan.
saya pikir merasa kuat merasa bisa merasa mampu itu cukup untuk menghadapi segala macam tantangan kehidupan.. saya salah.. bahkan usaha pun tidak cukup membuat saya bertahan dengan ketegaran.. saya tidak paham apa yang kurang dari segala usaha saya..
saya tidak pernah lupa dengan Tuhan yang maha penguji hambanya. saya juga tidak pernah lupa untuk bertindak daripada hanya memikirkan masalah..
kurang apa dari segala usaha saya selama ini?
kenapa lelah itu kini mencapai titik terjenuh nya?
Tuhan memang tidak menjanjikan tidak akan menguji hambanya dengan ujian yang tidak bisa hambanya lalui.. lantas apa yang saya rasakan kali ini? kenapa saya merasa berada dititik teertinggi kemampuan saya untuk menghadapi semua pelajaran hidup yang datang silih berganti, tapi rasanya saya sudah tidak sanggup lagi  menghadapi apa yang akan datang esok hari?
bukan masalah cinta yang membuat saya akhirnya merasa  paling lemah.. patah hati hanya cerita lama.. bahkan gelombang ini lebih dahsyat menghanyutkan kekuatan saya ke pulau anta berantah dan menenggelamkan semangat saya untuk bertahan..
ternyata begini rasanya merasa tidak berdaya.. bukan lagi karena patah hati.. itu cerita beda dimensi.. beda masa... bukan lagi saatnya..
rasanya ingin menyerah dan melepaskan semuanya.. 
tapi bagaimana perasaan ayah ibu disana? mereka mengharapkan lebih dari ini.. tapi bahkan mereka pun tidak mampu menguatkan, justru membuat semakin merasa bersalah dan kian terpuruk...
bagaimana caranya untuk kembali bangkit melawan perasaan dan hasrat ingin lenyap dari muka bumi ini?
rasanya ingin rehat sejenak dari kenyataan hidup.. melupakan sejenak apa yang menunggu dihadapi.. rasanya ingin pergi ke negeri antah berantah tanpa membawa beban hidup sedikit pun..
ini lelah ini rindu yang ingin bebas... tapi inilah hidup yang minta dihadapi dengan sejuta pelajarannya yang kadang membuat senang dan sedih..
mungkin sekarang lebih baik berpura-pura mampu daripada menunjukkan ketidakmampuan itu sendiri.. malu rasanya sama hidup.. walau memang sudah lelah dan ingin pergi tapi belum saatnya.. sebelum membuat ayah ibu bangga dan mengakui kemampuan saya, saya harus mampu bertahan dengan kepura-puraan merasa kuat..

T.