Kamis, 12 September 2013

Pesan yang belum tersampaikan



Katamu jujur itu yang terpenting. Katamu, kau lebih suka jika aku sedikit terbuka.
Kata mereka pria tak pandai menebak. Kata mereka wanita tak pernah jujur.
Kataku aku baik-baik saja bahkan dengan begini. Kataku lebih baik diam jika bicara akan mengundang pertengkaran antara kita berdua.
Ya, aku menyimpan banyak hal untukku sendiri. Semenjak kau bilang kau tak suka melihatku menangis, bahkan tangispun aku sembunyikan dibalik punggungmu.
Kau bilang kau tak suka jika aku sedih. Bahkan sedihku pun aku sembunyikan dalam tawa saat kita bersama.
Bukan kamu yang membuatku menangis. Bukan kamu yang membuatku bersedih.
Mungkin ini hanya perasaan yang entah berasal dari symptom otak sebelah mana.
Hanya rangsangan visual dan auditori yang bahkan bagimu itu tidak penting untuk diperdebatkan yang menyebabkan itu semua. Bahkan jikalau aku bisa mengatur syptom di otakku untuk tidak memunculkan emosi tersebut aku akan melakukannya.
Apa aku masih belum berdamai dengan jarak? Mungkin.
Membayangkan untuk kembali membentang jarak denganmu saja aku sudah mual.
Rasanya seperti kau mendapat lotere kemudian hadiahnya di ambil lagi darimu.
Sakit bukan? Ya sangat sakit.
Bagimu aku terlalu berlebihan? Bagiku tak pernah ada yang salah soal cinta.
Cinta mampu membuatmu berlaku yang bagi orang itu sangat tidak wajar.
Ketika aku jatuh cinta yang aku tau hanya kamu.
Ketika aku jatuh cinta doa ku hanya merapal namamu.
Ketika aku jatuh cinta mimpiku hanya kamu.
Dan ketika aku sakit dan terluka itu bukan salahmu.
Kebodohanku yang membiarkan aku tersakiti.
Kebodohanku yang membiarkan diriku bersedih dan menangis.
Bahkan ketika kamu salah aku selalu membenarkan.
Bukan demi kamu, tapi demi kita.
Kalimat itu bahkan sudah berulang kali aku katakan.
Iya, berulang kali aku katakan walau dalam diam.
Aku bukan pengecut. Hanya saja sangat takut kehilangan lagi.
Kehilangan bagiku lebih menyakitkan dari mendapat ip rendah.
Kehilangan yang karena salahku bahkan bisa membuatku membenci diriku sendiri.
Bagiku “kita” adalah segalanya. Bahkan kamu tidak bisa membuatku merusaknya.
Bahkan diriku sendiri tidak akan kubiarkan untuk menghancurkannya.
Walau sebanyak apapun aku mengucapkan aku baik-baik saja yang berarti aku terluka, aku takkan pernah merusak ‘kita’.
Bahkan sebanyak apapun luka yang kusimpan walau tak tebendung aku akan tetap menjaga “kita”.
Saat diriku mendesak untuk egoispun aku menahan untuk “kita”.
Semoga “kita” akan baik-baik saja walaupun saat ini hubungan kita berjalan pincang seakan hanya aku yang bertahan sendirian.

Rabu, 05 Juni 2013

candu palsu (RINDU!)

saat rindu dinyalakan asapnya membakar hati
sel-sel rindu semakin menyempit memacu pilu yang kian mati
pikiran pun dipermainkan ego yang sakit jiwa
raga ini serasa terpisah dengan jiwanya
jiwa mengamuk menuntut rasa terbalas
dengan balasan yang tak menuntut balas
walau raga ini hanya bisa diam tak berkutik
suara suara berbisik
rindu hanya khayalanmu saja
jangan mau dipermainkan lara
pria saja tak pernah memikirkan rasa
jangan mau diperbudak pria
pria hanya budak nafsu
menjual janji-janji palsu
dengan mengobral cinta palsu
untuk memuaskan nafsu
itu bukan rindu
hanya sekadar candu palsu


Karma, ? (part.1)


Perasaan suka itu datang bukan hanya karena terbiasa namun karena kebutuhan untuk menyukai dan disukai. Itu yang dialami rayne pada teman sekelasnya tio. Sudah 2 minggu ia dan tio smsan namun setiap bertemu mereka seakan tidak saling mengenal. Rayne makin penasaran pada tio dan tanpa ia sadari ia suka pada tio. Tio cowo pendiam namun kadang nyebelin dan susah di tebak. Ini yang membuat rayne makin suka pada tio. Entah mungkin karena packaging tio yang sangat bagus. Tapi dalamnya hanya tio dan Tuhan yang tau.
Rayne sebenarnya bukan hanya tertarik pada Tio namun dia juga tertarik pada kakak kelas beda jurusan dengannya namun beberapa bulan belakangan Rayne dapat kabar bahwa kakak itu sudah punya pacar. Rayne lalu mengalihkan perhatiannya ke Tio walaupun sampai saat ini tidak ada kejelasan.
Tiga minggu berlalu barulah Tio dan Rayne makin akrab tidak hanya di sms tapi juga di kehidupan nyata. Dan tepat sebulan mereka dekat Tio dan Rayne pun memutuskan untuk pacaran. Entah ini terkesan terburu-buru tapi mereka berdua tidak suka berada dalam ketidakjelasan hubungan.
Hubungan rayne dan tio tidak berjalan mulus mereka harus LDR karena rayne memutuskan pindah kuliah dan mengulang dari semester awal di salah satu perguruan tinggi di ibu kota. Mimpi rayne menjadi seorang psikolog bukan seorang ilmuwan fisika seperti yang diimpikan Tio.
Seantero kampus tau Tio adalah anak cerdas yang punya gift menguasai rumus-rumus fisika sebelum diajarkan di kelas. Ya dia seperti keturunan Isac Newton dan Albert Enstein walaupun untuk urusan pacaran dia sama sekali masih awam dan Rayne adalah pacar pertama Tio.
Awal pacaran terlihat manis sama seperti yang lain. Tahun pertama mereka lalui dengan banyak cobaan di akhirnya dan mereka pun memutuskan untuk break. Beberapa bulan kemudian Rayne dan Tio bertemu. Mereka menyadari masih ada cinta yang tersisa dan belum terselesaikan diantara mereka, mereka pun kembali pacaran walaupun konsekuensinya harus LDR (lagi).
Tahun kedua mereka lalui begitu mulus walaupun sebenarnya Rayne menyimpan banyak unek-unek di hati. Rayne lebih sering mengalah saat bertengkar dan tidak ingin mengulang kejadian yang sama saat mereka break dulu.
Tahun ketiga masalah semakin rumit Tio makin sibuk dengan kegiatannya sebagai mahasiswa tingkat akhir  dan Rayne makin sibuk dengan tugas kuliahnya yang tidak pernah ada habisnya. Tio butuh pendamping yang nyata yang bisa mensupport dia mengerjakan tugas akhir namun Rayne jelas tidak bisa menyanggupi. Sementara Rayne butuh pacar yang memperhatikan dia ditengah kesibukannya dan karena Tio tipe cowok yang cuek Rayne pun hanya mampu bersabar.
Di tahun keempat saat Rayne sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir sementara Tio bekerja di sebuah perusahaan asing di kotanya. Rayne bisa memaklumi jika tidak ada waktu untuk mereka bermesraan walaupun hanya di telefon. Namun baginya hubungan ini hanya begini-begini saja tidak ada kejelasan akan kemana. Tio tidak pernah mengatakan apapun tentang masa depan hubungan mereka.
Rayne menyadari keadaan ini tidak bisa ia biarkan terus seperti ini. Bagi rayne, tio sudah cukup mapan untuk merencanakan pernikahan. Rayne terkadang menanyakan itu pada tio namun tio justru marah jika ditanyai hal tersebut. Entah karena apa.
Rayne tidak mau terus-terusan sabar dan mengalah sementara ia sendiri memiliki keinginan untuk menikah di usia muda. Baginya untuk apa berlama-lama pacaran jika kita sudah mampu lahir batin.  Rayne sadar sebentar lagi ia lulus kuliah melanjutkan sekolah lagi untuk menjadi psikolog dan artinya LDR mereka akan semakin lama.
Rayne tidak pernah menuntut banyak pada Tio. Rayne selalu mengerti keadaan Tio yang sibuk dengan pekerjaannya walaupun dia harus terabaikan. Namun masalah komitmen ini cukup membuat Rayne kesal dan tidak bisa bersabar lagi.
Rayne pun mengatakan pada Tio jika 6 bulan setelah ia lulus kuliah Tio belum juga memberikan kejelas hubungan mereka, Rayne lebih memilih memutuskan Tio dan mencari pria yang lain.  Tio hanya menanggapi dengan ucapan kita liat nanti saja kedepannya seperti apa.
Tepat setelah enam bulan kelulusan Rayne, Tio belum bertindak apa-apa. Rayne pun memutuskan Tio dan berjanji tidak akan pernah menghubunginya lagi. Tio seperti sudah bisa membaca keadaan dan tidak begitu shock mendengar keputusan Rayne. Tanpa ada rasa bersalah dan menyesal dari ekspresi Tio. Hal ini yang paling membuat Rayne sakit hati. Ia seakan hanya dipermainkan selama ini. Ada ataupun tidak ada dia baginya Tio akan baik-baik saja. Dan sepertinya seperti itu.
Setahun kemudian Tio mendapat kabar bahwa Rayne telah bertunangan dengan saudara jauh yang di jodohkan orangtuanya. Tunangan Rayne tinggal di Kanada sementara Rayne di Indonesia. Lagi-lagi Rayne LDR namun hubungannya saat ini sudah jelas. Entah kenapa Tio agak shock mendengar kabar tersbeut. Dia mengira tidak akan secepat itu. Tio cemburu namun ia sadar ini kesalahan dia setahun yang lalu yang telah melepas perempuan sebaik Rayne.
Tio lalu memutuskan menemui Rayne dan meminta maaf dan ia bersedia menikahi Rayne namun orangtua Rayne sudah sangat tidak suka pada Tio. Sementara Rayne akan menikah 3 bulan lagi setelah ia menyelesaikan sekolah profesi psikolognya.
Sebulan setelah pertemuan mereka, Rayne dan Tio kembali di pertemukan oleh semesta. Rayne sedang melakukan penelitian di pulau dewata sementara Tio sedang liburan menghilangkan kegalauannya. Mereka tanpa diduga menginap di hotel yang sama dan bertemu di lobi hotel tersebut. Tio yang melihat Rayne terlebih dahulu enggan menyapa, namun Rayne akhirnya menengok dan melihat Tio. Tanpa berpikir Rayne menghampiri Tio.
“eh yo, kok disini? Liburan ya? Ciee sama siapa?”
“mm iya lagi cuti nih dua minggu. Sendiri kok. Kamu sendiri ngapain?”
“aku ada urusan penelitian disini buat tesis aku nanti. Kok sendirian? Pacar kamu mana?”
“eh hehehhee masih dirahasiain sama semesta ra”
“hahhaaha ada-ada aja. eh ntar nikahan aku datang yak.”
“insyaallah”
“jangan insyaallah dong. Harus datang pokoknya di rumah kok ga di jakarta.”
“eh iya kalo ga ada kerjaan yah. Eh ntar malam ada janji ga? Diner yuk?”
“hah? Oh iya ntar aku kabarin kalo baliknya cepet yah. See you”
“eh oke bye.”
            Pertemuan yang singkat, obrolan yang singkat tapi kembali membuka luka lama yang hampir mengering di hati Tio. Rayne masih menjadi yang paling berharga bagi Tio. Rasa untuk merebut yang tadinya miliknya itu muncul kembali didalam diri Tio.
            Di perjalanan menuju universitas udayana Rayne melamun. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa semesta kembali mempertemukan mereka di sini di bali, tempat yang dulu mereka janji akan pergi berdua. Di saat dia akan menikah dua bulan lagi kenapa harus bertemu Tio? Hal ini sungguh membuat Rayne dilema.
            Sorenya Rayne memutuskan untuk diner dengan Tio. Mungkin ada hal yang harus mereka bicarakan. Harus ada yang mereka selesaikan tidak bisa terus-terusan seperti ini. Rayne sadar ini bisa merusak rencana pernikahan dia. Rayne tidak mau mengecewakan orang tuanya, dan tidak ingin kembali sakit hati.
            Jam 7 malam Tio menjemput Rayne di lobi hotel mereka lalu menuju pantai new kuta beach untuk dinner di salah satu resto disana. Setibanya di resto Tio tampak canggung namun Rayne berhasil memecah suasana yang dingin itu.
            “Yo kamu kok ngajak aku diner? Ada yang mau di omongi ya?”
            “eh iya ra. Ga papa kan? Tunangan kamu ga marah kan?”
            “Ga sih. Aku ga bilang ke dia ga sempet dia masih tidur kali secara disana masih tengah malam.”
            “Oh dia belum balik ke Indonesia ra?”
            “Belom tapi katanya sih 3 minggu lagi dia balik buat ngurus persiapan pernikahan kami”
            “oh gitu ya. Ra?”
            “iya tio, kenapa?
            “kamu mau ga nikah sama aku?”
            Rayne terdiam, dia shock mendengar ucapan Tio. Lalu dengan cepat ia menjawab permintaan Tio.
            “Tio, kamu sadar ga sih aku tuh sebulan lagi nikah. Ini tuh bukan main-main yo. Ini udah disiapin setahun sama keluargaku. Lagian aku udah ga ada rasa sama kamu. Aku udah ga berharap kita bisa sama-sama lagi”
            “ra, aku tau ini karena salahku. Tapi masa iya perasaan kamu ke aku udah benar-benar ga ada?”
            “Yo, kalaupun ada aku harus segera membunuh perasaan itu. Aku udah ngasih kamu kesempatan tapi malah kamu sia-siain yo. Tunangan aku yang sekarang beda sama kamu yo.”
            “Ra, tapi aku masih sayang sama kamu. Aku mau nikahnya sama kamu.”
            “Aku ga bisa. Maaf. Kamu tau aku tipe cewek yang setia.”
            “Kamu coba inget deh kita pernah janji mau kesini bareng dan kamu mau aku lamar di sini kan? Aku lagi memenuhi janjiku Ra.”
            “Tio maaf ya janji-janji kamu sekarang udah basi. Mending kamu cari cewek lain. Aku ga bisa.”
            “Ra, tapi aku cuman sayang sama kamu.”
            “tolong jangan paksa aku. Maaf.”
Rayne pun pergi meninggalkan Tio sendirian diresto itu. Impian Tio merebut Rayne musnah sudah. Rayne sudah bener-benar tidak menginginkan Tio kembali. Rayne sudah tenang dengan hidupnya yang sekarang walau tanpa Tio.
            Di perjalanan pulang menuju hotel Rayne menangis. Ia sebenarnya terluka melihat Tio seperti itu. Ia telah membohongi dirinya sendiri. Bagaimana mungkin hubungan yang lama antara mereka perasaannya bisa hilang hanya dalam setahun? Ini sungguh membuat Rayne bingung dan menyesal. Kenapa Tio tidak sadar sejak dulu. Kenapa haru sekarang? Kenapa di saat dia akan menikah Tio kembali datang dan ingin menebus semua janjinya? Bagi Rayne ini sudah terlambat. Mungkin ia harus menutup buku cerita dirinya dan Tio.
                                                           
                                                                                                                        Bersambung

Minggu, 17 Februari 2013

rindu ini (masih) untuk kamu

kita kembali menjadi kita
bukan hanya aku atau kamu
kita sempat melipat jarak mendekatkan cinta yang berarak
memecahkan rindu dengan bertemu
namun akhirnya kita kembali menguntai jarak
menciptakan rindu di sepanjang jalan
rindu yang tak pernah habis walau mentari bersinar terik
walau hujan turun membasahi bumi dan menyapu seluruh alam
walau angin bertiup kencang
rindu tetap disini tetap utuh dan semakin besar
rindu ini kembali menjadi candu
menyakitkan dan menyenangkan
rindu ini berbeda bukan lagi rindu sebelah tangan
rindu ini kamu
untuk kamu kekasih yang di pisahkan jarak ribuan kilometer
rindu ini untuk kamu
masih sama ketika ia pincang dan lalu utuh kembali
rindu ini masih menuju satu nama
untuk kamu dengan segala rindu yang semakin besar
aku menitipkan cinta dengan sejuta harap
harapan suatu saat kita akan kembali melipat jarak dan memecah rindu dengan bertemu

Sabtu, 02 Februari 2013

untitled

ragaku dan jiwaku akhirnya dituntun kembali
langkah ini menuntunku pulang
pulang ke kota kita, kota kita dulu
di sepanjang jalan ini tangispun pecah
aku memasang topeng tebal
menguatkan hati
disana nanti aku akan mencoba menjadi tak peka
seakan tak melihat bekas
serpihan kisah masa lalu
semoga hujan ini menghapus semuanya
menghapus rindu bahkan sisa cinta
yang masih menempel dihati

catatan saat aku pulang

rinai hujan membelai mesra jendela
mobil terus berpacu seperti jantung
yang kian cepat berpacu
ada resah dititipkan hujan siang ini
dinginny kian menusuk
memperbesar gundah yang perlahan
muncul setitik demi setitik di ruang hati
air mengalir meninggalkan bekas
menuju muara yang entah kemana
ada suara berbisik mendecit
seperti suara besi yang bergesekam
jangan takut ini hanya hujan
ini hanya air berkah dari semesta

Jumat, 01 Februari 2013

rindu dan hujan

air mata mengalir di tengah rinai hujan
samar memang tak terlihat
rindu kian membuncah ketika pemecah rindu
ada di ujung mata
tapi tak sanggup kau gapai dengan segala upayamu
rindu yang candu kian menjadi racun
racun yang merusak sebelah hati
atau bahkan dua hati sekaligus
rindu tak hanya butuh mata untuk saling menatap
lisan untuk saling berucap
rindu butuh pelukan pemecah rindu
rindu yang memuncak perlahan2 menjadi luka
membuat luka sang pemilik rindu dan yg dituju
aku tak mengerti mengapa rindu masih ada
ketika lisan berucap benci
karena aku tak sanggup membaca hati
hati yang kian abu-abu
karena terkena racun rindu
jangan pernah menanyakan mengapa aku menangis
mengapa aku merindu
mengapa aku masih berharap dan bertahan
ketika sejuta luka datang sebelumnya
aku menikmati rindu tapi aku tak menikmati luka
karena bagiku penikmat luka adalah pecandu cinta
aku mencinta bukan untuk menjadi candu
aku mencinta untuk kembali menjadi "kita"
kepada kamu yang selalu mengisi rindu
menjadikannya racun namun tetap ku cinta
walau aku tak benar paham apa itu cinta
rindu ini selalu untuk kamu
dalam rinai hujan ini biarkan rindu mencari celah menuju pemiliknya

Kamis, 31 Januari 2013

BIMBANG song by melly goeslaw

Pertama kali aku tergugah 
Dalam setiap kata yang kau ucap 
Bila malam tlah datang 
Terkadang ingin ku tulis semua perasaan
Kata orang rindu itu indah 
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimu 
Namun sulit ku membenci
Pejamkan mata bila kuingin bernafas lega
Dalam anganku aku berada disatu
Persimpangan jalan yang sulit kupilih
Ku peluk semua indah hidupku 
Hikmah yang ku rasa sangat tulus 
Ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa 
Namun ada yang hilang separuhDiriku

Sabtu, 26 Januari 2013

TEATER SYAHID GOES TO BADUY LUAR (Bagian.1)



Minggu pagi itu begitu cerah saat kami berangkat dari ciputat untuk menuju stasiun pondok ranji. Kami tiba di stasiun sekitar jam 8 pagi. Stasiunnya belum begitu riuh oleh penumpang. Baru hanya ada beberapa pedagang yang ingin menjajakan dagannya. Sontak saat kami baru tiba semua mata seakan tertuju pada kami. Jelas saja semua orang penasaran kami mau kemana, soalnya kami datang berombongan dengan membawa tas gunung dan perlengkapan seperti ingin camping. Saat itu kereta kami terlambat tiba di stasiun karena ada hambatan di stasiun lain. Di jadwal kami seharusnya berangkat pukul sembilan pagi namun akhirnya molor menjadi jam 10 pagi. Di dalam kereta begitu penuh sesak bukan hanya oleh penumpang tapi juga pedagang yang mondar-mandir sepanjang gerbong menjajakan dagangannya. Karena kami rombongan dan kereta sudah amat penuh akhirnya kami berpencar berbeda gerbong.
Saat di perjalanan menuju stasiun rangkasbitung aku memperhatikan orang-orang di sekelilingku, mereka berasal dari kelas sosial yang berbeda tapi berbaur dalam satu gerbong itu. Sungguh pengalaman baru bagi aku berdesak-desakan dengan banyak orang di dalam kereta. Setelah melalui dua jam perjalanan kami akhirnya tiba di stasiun rangkas. Saat itu pukul 12.00 hari sudah semakin siang dan matahari makin mengarah ingin bersembunyi di balik awan. Saat tiba di stasiun kami istirahat sejenak melepas penat sepanjang perjalanan. Kami makan siang bersama di pinggiran rel kereta. Tepat pukul 13.00 kami berkumpul dan berdoa untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Perjalan inilah perjalan kami sesungguhnya. Rutenya kami jalan kaki dari stasiun rangkas menuju pasir roko, desa cimarga. Perjalanannya lumayan jauh. Di sepanjang perjalanan banyak yang bertanya kami hendak kemana. Kami jawab saja ingin ke baduy dan kebanyakan orang kaget dan malah menyarankan kami naik angkutan umum. Kami hanya mengiyakan saja saran mereka.
Di perjalanan langit cukup bersahabat, matahari bersinar tidak begitu terik. Di awal perjalan aku cukup bersemangat namun di pertengahan merasa perjalanan ini lumayan juga yah rasanya gregetan ingin cepat-cepat tiba di camp 1. Di tengan perjalanan kami mendapat materi improvisasi di sebuah lembah perbukitan. Pemandangannya begitu indah. Ada sungai dan mata air yang mengalir dari balik bukit. Suasananya begitu hening. Kami di instruksikan untuk menikmati apa yang ada disitu dan merasakan energi yang di berikan semesta untuk kami melanjutkan perjalanan selanjutnya. Setelah itu kami melanjutkan lagi perjalanan melewati beberapa desa dan akhirnya sekitar pukul 17.30 kami tiba di camp 1.
Sungguh alhamdulillah setelah melalui perjalanan yang panjang dan berbagai rintangan di jalan kami bisa tiba di camp dengan selamat dan sehat. Saat tiba di camp kami langsung di instruksikan untuk mendirikan tenda dan memasak untuk makan malam kami. Karena sekelompok aku hanya berempat kami membagi tugas dua orang yang mendirikan tenda dan dua orang yang memasak. Aku kebagian tugas untuk memasak. Sungguh karena ini pengalaman pertama aku memasak nasi tanpa menggunakan magiccom nasinya tidak matang dan malah berasa beras. Akhirnya kami berempat hanya makan indomie malam itu.
Setelah makan kami berkumpul untuk mendapat materi selanjutnya. Kami membentuk lingkaran dan disuruh untuk memilih benda yang mewakili perasaan kami terhadap perjalanan ini. Ada pipa warna hijau yang melambangkan menyatu dengan alam, plastik putih melambangkan memperoleh teman baru, plastik hitam melambangkan lelah dan kesakitan, dan terakhir keris melambangkan kemarahan. Tiap-tiap orang memilih barang yang berbeda, ada yang memilih 2 barang bahkan ada yang memilih keempatnya yang mewakili perasaan dia. Setelah itu kami di suruh untuk mengitari teman-teman kami dan menatap matanya langsung dan berbicara melalui tatapan mata apa yang kamu rasakan sebenarnya ke dia. Disini kebanyakan dari kami emosinya meluap sampai matanya tidak dapat lagi membendung air mata. Sungguh bercampur aduk saar menatap mata teman-teman yang beberapa bulan ini baru kami kenal namun kami sudah begitu akrab dengan intensitas ketemu yang hampir tiap hari apalagi menjelang perjalanan ini. Di sesi ini kami di harapkan untuk jujur mengenai ekspresi mata karena hanya mata yang di tuntut untuk berbicara dan menyampaikan perasaan kami. Setelah sesi ini kami melanjutkan ke materi selanjutnya.
Materi kedua ini namanya gerak naluri. Pertama kami di suruh untuk rileks dan beberapa orang di tunjuk untuk mulai terlebih dahulu. Saat maju ketengah kami disuruh fokus dan membayangkan ada dua titik di telapak tangan kami terserah itu berbentuk apa. Setelah itu kami di tuntut untuk bergerak tetapi tidak menggunakan otak melainkan naluri yang menggerakkan kami. Kebanyakan gerakannya begitu liar dan menunjukkan kemarahan karena perjalanan yang begitu melelahkan ini. Dari gerak naluri ini kami merasakan rasa puas dan ketenangan. Saat bergerak ini kami melepaskan kepenatan setelah berjalan hampir 5 jam. Sungguh luar biasa dan setiap dari kami memiliki gerakan dengan maksud yang berbeda. Setelah gerak naluri, kami di ajarkan rileksasi untuk merilekskan setiap bagian dari tubuh kami baik yang di luar maupun yang didalam. Saat sesi ini ada beberapa orang yang sampai tertidur saking rileksnya. Namun ada juga yang tidak bisa fokus karena di gigit nyamuk. Setelah itu kami kembali ke tenda dan beristirahat untuk melanjutkan perjalanan lagi esok hari.
Pukul 4 pagi kami di bangunkan untuk melakukan pemanasan dan setelah itu sarapan lalu packing untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Kali ini rute kami dari pasir roko menuju portal. Jarak tempuhnya cukup dekat namun medannya begitu menantang karena kebanyakan tanjakan. Pukul 7 pagi kami berangkat dari pasir roko. Di sepanjang perjalan banyak warga sekitar yang bertanya “neng bade kamana?” “neng, mau kemana?” “ ka baduy bu” “ke baduy bu” “baduy pan jauh neng ulah jalan kaki atuh pan aya angkot” “baduy kan jauh jangan jalan kaki kan ada angkot”, mendengar itu kami hanya tersenyum.
Di perjalanan banyak dari kami yang tumbang satu persatu dan kebanyakan itu karena tidak sanggup melalui tanjakan yang begitu banyak yang rasanya tidak ada habisnya. Ada yang pingsan bahkan ada yang asmanya kumat. Selain medan yang berat matahari saat itu juga bersinar sangat terik membakar kulit kami. Kami tiba di warung yang dekat dengan camp II itu sekitar pukul 12 siang. Disini kami beristirahat sangat lama karena ada gangguan teknis di camp yang akan kami tempati. Karena ada beberapa gangguan akhirnya camp kami di pindahkan.
Saat tiba di camp kami membersihkan dulu rumput-rumputnya lalu kami mendirikan tenda dan menaburkan garam di sekeliling tenda kami. Setelah itu kami memasak untuk makan siang. Sekitar pukul 4 sore kami berkumpul lagi untuk melanjutkan ke materi selanjutnya. Untuk menuju tempat materi kami berjalan lumayan jauh. Kami masuk ke hutan dan melalui pematang sawah akhirnya kami tiba di lokasi materi selanjutnya. Di sini kami suruh menceritakan kisah di balik benda kesayangan yang kami bawa masing-masing. Aku saking bersemangat untuk bercerita akhirnya aku memilih untuk maju pertama dan bercerita. Kami bergantian-gantian maju untuk bercerita. Ada yang barangnya di kasih, ada yang minta keorangnya, ada yang beli sendiri, bahkan ada yang mengambil paksa dari orangnya. Ceritanya juga ada yang lucu bahkan mengharukan. Setelah bercerita barang kami di kumpulkan di dalam trash bag. Dan di luar pemikiran kami ternyata setelah materi barang-barang kami di bakar. Aku dan kawan di sebelahku sontak menangis. Namanya juga itu barang kesayangan wajar kalau ada beberapa dari kami yang menangis. Kami di ajarkan untuk ikhlas dan tidak menggantungkan diri kami hanya pada benda karena itu hanya sebuah benda dan ada yang lebih besar dari bend itu yaitu Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Walaupun akhirnya di mulut kami berkata ikhlas namun kebanyakan belum ikhlas merelakan barang kesayangannya di bakar.
Tidak lama berselang kami melanjutkan kemateri selanjutnya yaitu pemanggungan. Kami berkumpul di kelompok masing-masing dan membuat suatu cerita dalam waktu 15 menit dan mempresentasikannya di depan teman-teman. Ceritanya seputar kegiatan kami selama dua hari ini dan alam yang ada di sekitar kami saat itu.
Bersambung