Katamu
jujur itu yang terpenting. Katamu, kau lebih suka jika aku sedikit terbuka.
Kata
mereka pria tak pandai menebak. Kata mereka wanita tak pernah jujur.
Kataku
aku baik-baik saja bahkan dengan begini. Kataku lebih baik diam jika bicara
akan mengundang pertengkaran antara kita berdua.
Ya,
aku menyimpan banyak hal untukku sendiri. Semenjak kau bilang kau tak suka
melihatku menangis, bahkan tangispun aku sembunyikan dibalik punggungmu.
Kau
bilang kau tak suka jika aku sedih. Bahkan sedihku pun aku sembunyikan dalam
tawa saat kita bersama.
Bukan
kamu yang membuatku menangis. Bukan kamu yang membuatku bersedih.
Mungkin
ini hanya perasaan yang entah berasal dari symptom otak sebelah mana.
Hanya
rangsangan visual dan auditori yang bahkan bagimu itu tidak penting untuk
diperdebatkan yang menyebabkan itu semua. Bahkan jikalau aku bisa mengatur
syptom di otakku untuk tidak memunculkan emosi tersebut aku akan melakukannya.
Apa
aku masih belum berdamai dengan jarak? Mungkin.
Membayangkan
untuk kembali membentang jarak denganmu saja aku sudah mual.
Rasanya
seperti kau mendapat lotere kemudian hadiahnya di ambil lagi darimu.
Sakit
bukan? Ya sangat sakit.
Bagimu
aku terlalu berlebihan? Bagiku tak pernah ada yang salah soal cinta.
Cinta
mampu membuatmu berlaku yang bagi orang itu sangat tidak wajar.
Ketika
aku jatuh cinta yang aku tau hanya kamu.
Ketika
aku jatuh cinta doa ku hanya merapal namamu.
Ketika
aku jatuh cinta mimpiku hanya kamu.
Dan
ketika aku sakit dan terluka itu bukan salahmu.
Kebodohanku
yang membiarkan aku tersakiti.
Kebodohanku
yang membiarkan diriku bersedih dan menangis.
Bahkan
ketika kamu salah aku selalu membenarkan.
Bukan
demi kamu, tapi demi kita.
Kalimat
itu bahkan sudah berulang kali aku katakan.
Iya,
berulang kali aku katakan walau dalam diam.
Aku
bukan pengecut. Hanya saja sangat takut kehilangan lagi.
Kehilangan
bagiku lebih menyakitkan dari mendapat ip rendah.
Kehilangan
yang karena salahku bahkan bisa membuatku membenci diriku sendiri.
Bagiku
“kita” adalah segalanya. Bahkan kamu tidak bisa membuatku merusaknya.
Bahkan
diriku sendiri tidak akan kubiarkan untuk menghancurkannya.
Walau
sebanyak apapun aku mengucapkan aku baik-baik saja yang berarti aku terluka,
aku takkan pernah merusak ‘kita’.
Bahkan
sebanyak apapun luka yang kusimpan walau tak tebendung aku akan tetap menjaga
“kita”.
Saat
diriku mendesak untuk egoispun aku menahan untuk “kita”.
Semoga
“kita” akan baik-baik saja walaupun saat ini hubungan kita berjalan pincang
seakan hanya aku yang bertahan sendirian.