Rabu, 30 April 2014

waktukah yang melambat?

Seminggu yang lalu saat kuliah konseling, buku yang sudah ku tutup rapat-rapat kembali di buka. Bukan salah dosen konseling yang menanyakan hal yang menyakitkan itu. Namun memang aku yang berusaha menghindar dari perasaan sakit dan kenyataan yang pahit.Luka yang sebenarnya belum sembuh itu kembali dikorek. Sakit sekali. Rasanya sama seperti pertama kali mendapatkannya. Perih.
Siang itu dosen konseling menanyakan bagaimana rasanya kehilangan? Aku menjawab dengan terbata, gemetar, tanganku dingin dan hanya mampu menjawab lirih. Sakit pak, sedih, bingung, tidak tahu harus bagaimana. Jawabku sejujurnya. Ya memang seperti itu rasanya walau masih banyak perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Ketika ditanya bagaimana caraku mengatasi kehilangan itu, aku bingung. Jujur aku lebih memilih pura-pura lupa daripada harus mengikhlaskannya. Aku sendiri belum mampu mengatasi kehilangan yang kualami. Akupun menjawab sekenanya. Dengan curhat keteman dan menulis kataku. Tulisanku pun tak ada satupun yang tidak menunjukkan perasaan negatif yang sedang kualami.
Tidak adil memang jika kita berbagi energi negatif ke orang lain. Walaupun sebenarnya niatku hanya meluapkan emosi kedalam tulisan. Aku tidak bermaksud membuat orang lain terhanyut merasakan pesan negatif dari tulisanku. Aku tidak ingin orang bersedih atas apa yang kualami. Aku hanya ingin menjadikan menulis sebagai terapi menyembuhkan luka sayatan yang begitu dalam. Walau memang tidak semudah itu. Aku harap seiring waktu berlalu ia akan sembuh.
Jujur aku lelah. Pikiran dan perasaaan ini begitu mengganggu aktifitasku. Ini sudah melebihi batas wajar ketika jam tidurku pun hanya sedikit setiap harinya. Kesehatanku apa kabar? Konsentrasi belajarku juga terganggu. Padahal tidak ada gunanya aku merisaukan hal yang tidak menguntungkan bagiku.
Kesakitan dan kebingungan. Itu yang aku rasakan. Aku tidak tahu haus berbuat apa melawan ini semua. Rasanya tidak ada yang paham dengan yang kurasakan. Kehilangan itu begitu menyakitkan. Bahkan lebih sakit dari ditinggal mati oleh orang yang kau kasihi.
Apa yang sebenarnya ada namun kini menjadi tidak ada. Aku kehilangan sosok yang menjadi sandaran ketika sedih dan berbagi tawa bersama.
Kenapa dia pergi tanpa rasa bersalah dan meninggalkan apa yang harusnya dia jaga? Bukankah cinta yang selalu membuat kita bertahan? Memang, katanya cinta itu telah mati. Lantas kenapa tidak ada usaha menumbuhkan cinta sebelum ia benar-benar mati? Bukankah memang tidak ada cinta yang abadi? Cinta ayah ibuku pun tetap bertahan karena komitmen dan kesetiaan. Bukan berarti cinta diantara mereka tidak memudar. Tapi mereka berusaha tetap menumbuhkan cinta yang kian hari menua bersama mereka.
Tidak bisakah kita belajar dari orang tua kita? Bukankah kau pernah menjanjikan menjadikanku yang pertama dan terakhir? Kenapa kau pernah mengucap itu jika tidak sanggup memenuhinya? Bukankah itu adalah hutang? Lantas haruskah aku menagih janji? Atau kah aku lebih baik menganggap janji itu tidak lagi berlaku?
Dulu sebelum aku banyak berharap, kau menjanjikanku banyak hal. Bercerita seakan memang kita adalah jodoh. Namun ketika aku mulai berharap kita berjodoh, diam-diam kau membunuh cinta diantara kita. Dan tanpa kutahu aku ternyata mencintai sebelah tangan yang tidak lagi berbalas.
Aku sadar aku tidak seharusnya begitu larut. Tapi aku tidak kuasa menghentikan otakku untuk tidak berpikir dan mematikan hatiku untuk tidak merasa. Mereka seakan berkonfrontasi membuatku semakin terpuruk.
Bantu aku menghentikan semua ini. Masa depanku begitu panjang jika harus dirusak oleh hal seperti ini. Aku tahu hanya Tuhan yang mengerti dan memahami. Tapi ia pun membiarkan mandiri menyelesaikan ini. Aku tahu ini adalah teguran karena dosa-dosaku. Lalu sampai kapan aku sanggup bertahan? Rasanya waktu berjalan begitu lambat.

                                                                                                                                   -tiara-

Kamis, 24 April 2014

ikhlas itu seberat baja

katanya kalau kita sudah mampu menertawakan masa lalu berarti kita sudah berdamai dengan masalah yang ada didalamnya. begitukah?

puluhan hari sudah berlalu setelah masalah yang muncul memaksaku berpisah dengan apa yang dulunya sangat ku sayangi. namun entah kenapa rasanya peristiwa itu masih kemarin sore. ingatan itu masih lekat mengingat pertengkaran melalui telfon hingga membuatku benar-benar menangis semalam. bahkan tiga malam.

hahahhaa kenapa drama percintaan ini terlalu dramatis rasanya?

rasanya baru kemarin dia malu-malu mengajak ku jalan berdua sebelum aku berangkat ke jakarta. bahkan kita belum pacaran. masih jelas juga ketika sehari setelah pengumuman SNMPTN yang menyatakan aku LULUS dan berarti kita berpisah sebagai sahabat, dia menangis semalaman. ya, dia menangis karena takut bahwa kita yang saat itu sudah saling merasa nyaman untuk bersama akan jadi berbeda jika harus berpisah. sering setiap aku pulang dia meminta agar aku tidak lagi pergi kemana-mana.

pacaran dengan harus menjalani LDR dalam waktu yang terbilang lama memang sangat sayang jika harus berakhir. tapi, kenapa harus dipertahankan jika hanya sebelah pihak yang bertahan? tidak akan pernah adil rasanya.masing-masing kita berhak memiliki kebahagiaannya walau salah satu harus merasakan sakit yang mendalam.

tidak masalah bagiku jika harus berkorban. toh masalah ini membuatku belajar banyak hal. membuatku semakin dewasa dalam menghadapi apapun. takdir ku memang menjadi perempuan tangguh yang mandiri. tidak untuk selalu bergantung kepada pria.

memang awalanya tidak terhitung berapa puluh ribu pulsa yang kuhabiskan untuk memohon memperbaikin keadaan. namun sayang, pengorbanan itu tidak memberiku balasan yang kuinginkan. sakit memang tapi tidak selamanya rasa itu akan tetap disitu. walaupun sayatannya dalam, suatu saat dia juga akan sembuh. walaupun tidak ada yang tahu kapan pastinya.

kehilangan membuatku lebih dekat kepada yang paling mencintaiku. mungkin ini teguran dariNya karena cinta manusia membuatku berpaling dariNya. dia yang paling mencintaiku tidak ingin kuduakan. Dia memberikan masalah yang membuatku kembali memohon kasih dan pertolonganNya. Dia yang tidak akan pernah meninggalkanku dan selalu mencintaiku.

lantas kapan aku akan berdamai dengan masa lalu dan masalahnya? mungkin sudah kulakukan. mungkin belum.

aku terkadang menertawakan masa lalu yang indah yang tanpa sengaja terkenang. entah melalui foto atau tulisan.dan ketika aku bertemu potongan masa lalu yang menyakitkan membuatku tidak bisa tidur semalaman. rasa sakit itu menjalar keseluruh pembuluh darah. rasanya tidak ada hasrat untuk melakukan apapun selain menangis.

kapan masalalu yang menyakitkan mau datang menyalamiku dan mengucap maaf? ataukah aku yang harus memaafkan walau dia tidak meminta? bukan tidak mau, tapi berat rasanya.

bisakah kita berdamai dengan masalah yang membuat kita menjadi orang yang berbeda yang bukan kita seharusnya. yang mengacaukan sebagian besar harapan kita?

walau tidak selamanya masalalu menyakitkan. walau ia bisa mengajarkan banyak hal. masih berat rasanya untuk melepas maaf dan mengikhlaskan. ya rasanya ikhlas itu seberat baja. berat. entah kenapa.

Oh ya dan satu lagi kenapa orang lain sering merasa paling benar menganggap kita yang baru kehilangan terlalu terpuruk akan masalah yang kita hadapi? kenapa mereka menganggap kita yang sengaja membuat diri kita terjebak didalam masalah itu sendiri? kenapa orang lain dengan mudahnya mengatakn, "yaudah lupain aja", hey kehilangan tidak seperti kenalan baru yang tidak berkesan yang baru semenit kita sudah lupa namanya. ikhlas? ya aku tahu, tapi itu berat. jangan pernah merasa paling benar dan paling tau harus berbuat apa untuk masalah orang lain. JANGAN.

-tiara-, ditulis dengan segenap rasa sakit 
dan setitik cinta yang tersisa.


Dear Tiara



Dear my real love


Tiara....
Ya ku tau nama itu yang selalu buatku sedih, bukan karna kamu telah sakitiku, tapi karena....
Aku tak tau apakah aku pantas mencintaimu, kau bagai burung merak yang jika mengembangkan ekornya semua mata terpukau, seketika jagat raya hening , sedangkan aku hanya seekor burung kondor nista tak berarti, yang selalu terseok akan kekejaman angin, jatuh terhempas dikala malam tak bersahabat, dan terbuang jika telah menjadi mayat.
                Aku sadar.... tak mungkinlah Mutiara indah sepertimu mau dengan kerikil kecil busuk yang retak di sana sini. Aku juga menyadari..... aku tak mungkin sanggup membuatmu bahagia , yah selain karna keburukan parasku juga karna, aku tak memiliki apa-apa bahkan untuk bernafaspun aku hanya dapat meminta kepada alam.
                Tapi.....
Taukah kamu wahai Mutiara hatiku, aku selalu berusaha menjadi bintang terang yang selalu menunjukan jalan padamu di kala bintang lain meredup dan menyesatkanmu, akupun selalu berusaha untuk menjadi bangku nan nyaman bagimu, agar kau dapat berisitirahat dikala lelah menyelimuti tubuhmu dan tak satupun bangku sedia untuk menentramkan tubuhmu.
Namun terkadang aku ingin menjadi angin kencang dikala malam agar aku dapat meniup para nyamuk-nyamuk busuk yang hendak mencelakakanmu di kala kau terlelap dan bermimpi suatu hal.
                Ya.... memang aku sangatlah hina di banding buaya-buaya besar yang membawa emas dan perak di sela-sela taringnya yang berjalan menelusuri daratan dan udara yang siap menerkam siapa yang hendak tergoda dengan emas dan perak mereka. Akupun lebih hina di banding para tikus-tikus tak bermoral mengoda dengan mulut di penuhi madu hitam, dan mencuri dengan dasi-dasi sutra nan indah. Namun aku selalu menunjukan kepada dirimu bahwa diriku masih bermanfaat bagimu, walau aku hanya bisa menjadi keset yang terinjak-injak, akan ku bersihkan kakimu dari kotoran-kotoran hina dan ku keringkan tetesan-tetesan air yang mendinginkan kaki indahmu. Akupun menjadi sebuah sapu tangan kumal yang selalu bersedia menghentikan aliran kesedihan di pipimu dikala sapu tangan lain menjauh darimu, menghianatimu, dan menyakitimu.
                Mutiara cintku.....
Sudikah sejenak kau menatapku, menatap setiap hening di hatiku, menatap goresan-goresan darah di jiwaku, lalu mengukir hati di dada kotorku? . karna selama ini kurasakan air jernih nan bersih selalu mengalir menjauhkan kotoran-kotoran itu dari tubuhku, ya itu saat kau manatapku, akupun merasakan angin segar yang mengembangkan paru-paruku yang selama ini kering terciutkan oleh terpaan angin kotor kehidupan di kala aku mendapati senyumanmu untukku.
                Mutiara belahan jiwaku....
Aku tau jika aku bukanlah arjuna sang pandawa tampan yang pandai memanah hati gadis-gadis, karna aku tak punya panah sakti semacam itu yang ku punya hanya perisai kesetiaan yang siap melindungimu dari anak panah-anak panah busuk yang hanya ingin manfaatkan senyumanmu. Aku juga tak memiliki paras tampan yang dapat kau banggakan kepada temanmu namun, aku memiliki jiwa indah yang siap menentramkanmu dikala dunia ini tak lagi bersahabat denganmu. Akupun tak punya payung indah yang lindungimu dari rintikan-rintikan hujan kesedihan, tapi aku selalu menjadi handuk serta selimut yang siap mengeringkan kesedihan itu dan menjaga hatimu untuk selalu hangat walau terkadang aku yang akan merasakan dinginnya kesedihan, dengan senyummu ku kan menjadi hangat kembali.
                Mutiara hidupku....
Aku selalu bedoa agar Venus mengirimkan cupit-cupit nan cantik, beranak panahkan lembut datang menghampirimu dikala kau terpejam didekatku, agar salah satu anak panahnya nyasar mengenai hatiku dan hatimu hingga benang merahnya dapat menyatukan kedua hati kita, walau aku tau tak pantas aku bagimu. Namun kejujuran hatiku tak dapat ke bendung lagi, Mutiara.... aku sangat mencintai dirimu selalu.
Ciputat, 26 Januari 13

Nb: happy holiday in makasar,,,,, don’t forget back to ciputat because I do Miss U..


Ttd


orang yang setia mencintaimu.... elvath

Sabtu, 19 April 2014

Karma, ? (part. 3 END)



tio menghampiri rayne yang sedang duduk seorang diri didermaga. Rayne tampak terkejut namun masih bisa mengendalikan situasi.
“eh yo, kok kamu kesini juga?”
“entah ra, aku selama pulang dari bali tiap hari pasti kesini sekedar mampir atau malah menghabiskan waktu hingga malam.”
“kamu jangan disperate gitu dong mau aku tinggal nikah hehhe.” Canda rayne, namun terdengar kaku.
“ya tau sendiri ra, aku masih ga bisa maafin diri aku sendiri pernah mencampakkan kamu gitu aja.”
“yo, hidup tuh kedepan bukan kebelakang. Aku memang sayang sama kamu, tapi itu dulu. Dulu sekali yo, jauh sebelum kamu muncul lagi dihidup aku dan membuat aku sempat ragu untuk tetap menikah. Aku kini sadar yo, takdir, jodoh sebenarnya ada ditangan kita sendiri. Ya, dulu kita pernah saling mengucap janji untuk menikah. Tapi kamu malah memilih mengkhianati ketulusan aku, janji kita, mimpi kita. Bukan aku ingin menyalahkan kamu yo. Aku sadar aku juga salah. Kita sama-sama salah, tapi dulu yo, dulu sekali aku masih ngasih kamu kesempatan buat memperbaiki hubungan kita. Tapi respon kamu apa? Kamu bilang kamu udah ga sayang sama aku. katamu sudah tidak ada harapan buat kita. Ga ada yang bisa dan harus diperbaiki kan yo? Disitu tuh aku merasa hancur banget yo. Setahun aku berusaha bangkit dari rasa terpuruk dan kehilangan. Bukan hanya kamu aja yang menyesal membuat keputusan sepihak. Akupun dulu menyesal yo. Aku menyesal kenapa dulu aku maksain kamu ngasih kejelasan untuk hubungan kita toh saat itu kita masih baik-baik pun harusnya aku bersyukur. Tapi sekarang aku sadar yo, kita memang tidak ditakdirkan jalan beriringan. Walau sebenarnya bisa saja aku memilih kembali ke kamu tapi tidak aku lakuin.”
“kenapa?” tanya tio memelas.
“apa yang kita alami sebelumnya seolah nunjukin ke aku, siapa yang pantas dan tidak seharusnya aku pilih. Ya, berat memang buat memutuskan hal ini yo. Tapi aku sekarang yakin untuk tetap menikah minggu depan. Bukan berarti aku sayang kamu tapi aku ga sayang sama tunangan aku. aku sayang sama kamu, tapi itu dulu sebelum kamu memilih buat ninggalin aku gitu aja.”
Tio mematung mendengarkan semua isi hati rayne. Dia semakin merasa bersalah. Entah rayne sengaja membuat sakit dihati Tio semakin parah. Mungkin ini karma yang telah lama menunggu untuk dikirimkan pada yang dituju. Namun rasa sakit ini tidak sebanding dengan penolakan demi penolakan yang dulu dilakukan Tio ketika Rayne meminta maaf dan berusaha untuk kembali dengannya. Itu dulu, cerita yang sudah berlalu dan tidak bisa diperbaiki lagi. Rasa sakit rayne membuatnya dewasa untuk memilih melepas Tio dan tetap menikah dengan Riza.
Rayne tidak bisa membayangkan jika dirinya setega itu meninggalkan Riza, pria yang membantunya bangkit dari bayang-bayang masa lalu hanya demi kembali ke masa lalu yang pernah membuatnya hidupnya hancur. Bagi Rayne, cinta bukanlah pengorbanan tapi cinta adalah kedewasaan yang menuntun kita memilih orang yang tepat untuk menjatuhkannya. Tidak ada lagi yang pantas untuk dikorbankan mengejar cinta yang semu jika cinta yang nyata itu benar adanya. Cinta bukan sekedar keinginan untuk memiliki, tapi cinta yang membuat kita merasa dimiliki.
Cinta rayne ke tio perlahan memudar karena waktu dan tertutup luka. Sudah tidak ada lagi yang harus diperjuangkan dan dipertahankan diantara mereka. Mungkin, ini saatnya rayne menutup kisah lama, dan menyembuhkan luka yang perlahan-lahan sembuh seiring pudarnya rasa cintanya. Rayne sudah yakin untuk menikah denga Riza dan membiarkan masa lalunya tetap terkubur dipantai itu.
“Ra, aku minta maaf. Mungkin ini sudah terlambat. Aku merasa malu karena memaksa kamu sebegini ngototnya. Walaupun rasa sakit itu makin membesar mendengar semua ucapan kamu tadi, tapi aku ga nyalahin kamu. Semoga kamu bahagia dengan Riza. Maaf kalau aku tidak menghadiri pernikahanmu nanti. Kamu pasti mengerti.” Tio pun pergi meninggalkan Rayne yang kini kembali duduk sendiri didermaga. Rayne memandangi kepergian Tio dengan sebuah senyum kemenangan dan berkata dalam hati “Boys, you have got a karma. Semoga kamu ga sampai depresi ya. Maafkan aku yang terlalu jahat, tapi memang aku udah ga sayang sama kamu.” :)
The End.

Karma, ? (part. 2)



Hari ini adalah hari terakhir rayne di bali, besok ia harus kembali ke ibu kota untuk menyelesaikan laporan penelitiannya dan sehari setelahnya ia harus pulang ke kota kelahirannya untuk menyelesaikan urusan pernikahannya.
Rayne sedang melamun sambil menikmati hembusan angin pantai kuta yang hari itu lumayan sepi pengunjung, tiba-tiba ia dikagetkan dengan pria yang muncul di hadapannya. Tio mengenakan kaos hitam kerah V, jeans belel dan sepatu kets yang dulu style tio yang menjadi favorit Rayne. Entah apa maksudnya.
“selamat pagi cantik. Masih di bali juga? Kapan balik ke jakarta?”
“pagi yo. Ngapain disini? Aku balik besok pesawat subuh.”
“emang ga boleh? Oh naik singa apa burung? Hati-hati delay hahhaha”
“terserah sih. apa urusan kamu sih nanaya-nanya mulu.”
“selow mba ga usah marah-marah.”
“mau ngapain nyamperin aku? Kamu buntutin aku dari hotel ya?” tanya rayne penuh curiga.
“dih mba pede banget sih. aku abis breakfast di Mcd depan iseng aja main kesini eh malah ketemu situ yaudah aku samperin ntar dikira sombong lagi.” Balas tio ketus.
“oh yaudah.” Ucap rayne.
Mereka berdua lalu terdiam beberapa saat. Tio lalu duduk disebalh rayne memandangi debur ombak sambil menikmati hembusan angin pantai di pagi hari dalam diam. Lalu tio kembali melontarkan pertanyaan ke rayne.
“ra, jujur nih ya aku masih sayang sama kamu seperti waktu kita pertama ketemu. Kamu masih sayang juga kan sama aku?”
Rayne terkejut mendengar pertanyaan tio. Ia bingung harus menjawab apa. Rasanya lidahnya kelu. Semua kosa kata di otaknya seperti hilang tak bersisa. Semakin ia gali kosa kata yang ingin ia ucapkan semakin sulit rasanya. Hingga terucaplah kata yang membuat logikanya lumpuh.
“ iya yo aku masih sayang kamu.” Logika rayne kalah dengan kata hatinya. Semakin ia memikirkan untuk mengtakan tidak semakin kuat kata iya aku masih sayang kamu di kepalanya. Rayne pun terdiam setelah menjawab pertanyaan tio.
Tio tidak begitu kaget tapi ia menyembunyikannya dari rayne.
“ra, kamu serius mau nikah beberapa minggu lagi? Sama orang lain? Bukan aku?”
Rayne semakin bingung ia kali ini betul-betul tidak sanggup berkata-kata. Lidahnya kini semakin beku. Seluruh aliran darahnya rasanya beku. Ia hanya mematung. Namun ada bulir-bulir air yang keluar dari matanya. Rayne terdiam menangis dalam diam. Dan menjawab pertanyaan tio hanya dengan air mata.
“ra, aku ga maksud bikin kamu nangis.” Tio mendekap rayne dalam pelukannya.
Rayne tidak sanggup menolak pelukan tio. Tangisannya semakin pecah dan membuatnya pusing hingga jatuh pingsan di pelukan tio. Tio pun panik dan segera menggendong rayne mengantarkan ke rumah sakit terdekat.
Setibanya di rumah sakit tio menunggu rayne di depan ruang tunggu pengunjung. Kata dokter Rayne hanya kecapaian dan banyak pikiran. Sebaiknya ia tidak menghadapi situasi yang begitu menekan pikirannya katanya lagi. Tio menunggu dengan sabar untuk mengantarkan Rayne kembali ke hotel.
Rayne dan tio hanya diam, tidak mengatakan satu kata pun selama perjalanan ke hotel. Setibanya di hotel barulah tio membuka pembicaraan.
“ra, maafin aku ya. Gara-gara aku kamu jadi begini. Padahal ini hari terakhir kamu disini harusnya kamu relax bukan malah aku bikin stress dengan pertanyaan-pertanyaanku tadi.”
“yo, please jangan dibahas sekarang aku butuh istirahat. Aku butuh berpikir tenang. Aku mau sendirian. Kamu pergilah kemanapun kamu mau.” Balas rayne.
“yasudah kalo ada apa-apa atau ada yang bisa aku bantu kamu hubungi aku aja yah. Kamu hati-hati jangan terlalu dipikirkan.”
“iya. Bye” rayne pun berlalu menuju kamarnya.
Tinggallah tio dengan perasaan bersalah. Ia sudah merasa putus asa untuk mendapatkan cintanya kembali. Ia tidak ingin menyakiti rayne.
Rasanyatio kini berada di jalan buntu. Jika ia lanjut maka ada yang harus ia rusak walaupun itu tidak merugikannya tapi justru merugikan orang yang ia cintai. Ia tidak ingin membuat rayne jatuh sakit memikirkan masalah percintaan mereka yang rumit.
Ada penyesalan dalam diri tio mengingat rayne pernah memberinya kesempatan namun telah ia sia-siakan. Tio tidak lagi tahu harus berbuat apa untuk memperjuangkan cintanya. Mungkin takdirnya adalah tidak bersama Rayne tapi rasanya ia tidak sanggup menerima kenyataan ini.
Keesokan harinya rayne bertolak ke jakarta, menyelesaikan apa yang harus ia selesaikan sebelum pernikahannya. Di hari yang sama Tio juga kembali ke kota kelahirannya. Membawa segala kenangan manis dan pahit yang ia peroleh dari liburan di bali beberapa hari terakhir. Ada sesuatu yang hilang dari sebelah hatinya. Di wajahnya pun tidak menunjukkan orang yang baru pulang dari liburan.
Waktu berlalu hingga akhirnya tio dan rayne kembali bertemu tepat seminggu sebelum pernikahan Rayne. Mereka bertemu di pantai akkarena, pantai yang dulunya menjadi area nge date favorit mereka di kala senja. Senja disana memang begitu indah bila langit tidak diselimuti awan.
Rayne kesana tidak hanya untuk menghilangkan penat. Ada sesuatu yang menuntunnya hari itu, sebuah kekuatan yang begitu besar hingga ia mau melihat kembali kenangan yang telah ia kubur.
Bersambung ke part 3