Seminggu
yang lalu saat kuliah konseling, buku yang sudah ku tutup rapat-rapat
kembali di buka. Bukan salah dosen konseling yang menanyakan hal yang
menyakitkan itu. Namun memang aku yang berusaha menghindar dari perasaan sakit dan
kenyataan yang pahit.Luka yang sebenarnya belum sembuh itu kembali dikorek.
Sakit sekali. Rasanya sama seperti pertama kali mendapatkannya. Perih.
Siang itu dosen konseling menanyakan bagaimana
rasanya kehilangan? Aku menjawab dengan terbata, gemetar, tanganku dingin dan
hanya mampu menjawab lirih. Sakit pak, sedih, bingung, tidak tahu harus
bagaimana. Jawabku sejujurnya. Ya memang seperti itu rasanya walau masih banyak
perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Ketika ditanya bagaimana caraku mengatasi
kehilangan itu, aku bingung. Jujur aku lebih memilih pura-pura lupa daripada
harus mengikhlaskannya. Aku sendiri belum mampu mengatasi kehilangan yang
kualami. Akupun menjawab sekenanya. Dengan curhat keteman dan menulis kataku.
Tulisanku pun tak ada satupun yang tidak menunjukkan perasaan negatif yang
sedang kualami.
Tidak adil memang jika kita berbagi energi negatif
ke orang lain. Walaupun sebenarnya niatku hanya meluapkan emosi kedalam
tulisan. Aku tidak bermaksud membuat orang lain terhanyut merasakan pesan
negatif dari tulisanku. Aku tidak ingin orang bersedih atas apa yang kualami.
Aku hanya ingin menjadikan menulis sebagai terapi menyembuhkan luka sayatan
yang begitu dalam. Walau memang tidak semudah itu. Aku harap seiring waktu
berlalu ia akan sembuh.
Jujur aku lelah. Pikiran dan perasaaan ini begitu
mengganggu aktifitasku. Ini sudah melebihi batas wajar ketika jam tidurku pun
hanya sedikit setiap harinya. Kesehatanku apa kabar? Konsentrasi belajarku juga
terganggu. Padahal tidak ada gunanya aku merisaukan hal yang tidak
menguntungkan bagiku.
Kesakitan dan kebingungan. Itu yang aku rasakan.
Aku tidak tahu haus berbuat apa melawan ini semua. Rasanya tidak ada yang paham
dengan yang kurasakan. Kehilangan itu begitu menyakitkan. Bahkan lebih sakit
dari ditinggal mati oleh orang yang kau kasihi.
Apa yang sebenarnya ada namun kini menjadi tidak
ada. Aku kehilangan sosok yang menjadi sandaran ketika sedih dan berbagi tawa
bersama.
Kenapa dia pergi tanpa rasa bersalah dan
meninggalkan apa yang harusnya dia jaga? Bukankah cinta yang selalu membuat
kita bertahan? Memang, katanya cinta itu telah mati. Lantas kenapa tidak ada
usaha menumbuhkan cinta sebelum ia benar-benar mati? Bukankah memang tidak ada
cinta yang abadi? Cinta ayah ibuku pun tetap bertahan karena komitmen dan
kesetiaan. Bukan berarti cinta diantara mereka tidak memudar. Tapi mereka
berusaha tetap menumbuhkan cinta yang kian hari menua bersama mereka.
Tidak bisakah kita belajar dari orang tua kita?
Bukankah kau pernah menjanjikan menjadikanku yang pertama dan terakhir?
Kenapa kau pernah mengucap itu jika tidak sanggup memenuhinya? Bukankah itu
adalah hutang? Lantas haruskah aku menagih janji? Atau kah aku lebih baik
menganggap janji itu tidak lagi berlaku?
Dulu sebelum aku banyak berharap, kau menjanjikanku
banyak hal. Bercerita seakan memang kita adalah jodoh. Namun ketika aku mulai
berharap kita berjodoh, diam-diam kau membunuh cinta diantara kita. Dan tanpa
kutahu aku ternyata mencintai sebelah tangan yang tidak lagi berbalas.
Aku sadar aku tidak seharusnya begitu larut. Tapi
aku tidak kuasa menghentikan otakku untuk tidak berpikir dan mematikan hatiku
untuk tidak merasa. Mereka seakan berkonfrontasi membuatku semakin terpuruk.
Bantu
aku menghentikan semua ini. Masa depanku begitu panjang jika harus dirusak oleh
hal seperti ini. Aku tahu hanya Tuhan yang mengerti dan memahami. Tapi ia pun
membiarkan mandiri menyelesaikan ini. Aku tahu ini adalah teguran karena
dosa-dosaku. Lalu sampai kapan aku sanggup bertahan? Rasanya waktu berjalan
begitu lambat.