teruntuk kamu yang memilih mengakhiri cerita..
kamu apa kabar? kalau aku tidak sedang baik seperti seharusnya..
masih ingat kapan kau tau kabar ku? mungkin kau lupa..
untuk sekedar pengingat, kau terakhir menanyakan kabarku saat aku pulang untuk menguntai jarak.
ya, kita memang menjalani pacaran yang tak biasa.
bahkan saat putus pun kita tak beradu pandang..
cerita kita ternyata tidak abadi ya.. tidak seperti yang kukira.
cerita kita cukup sampai dimana ego saling beradu dan memaksa berpisah.
terlalu gampang kata putus kau ucap, sayang..
terlalu cepat kau memaksa mengakhiri cerita yang seharsunya belum mencapai klimaks.
untuk kamu yang memaksa membuat lembaran akhir cerita kita,
jangan pernah kau lupa sayang, bagaimana cara kita saling jatuh cinta
bukan untuk membuatmu kembali,
tapi untuk menghargai pengorbanan yang bertahun-tahun kita tulis dalam jarak..
sayang, aku tau kini tidak ada lagi rasa yang sama ketika kita diam-diam saling jatuh cinta..
hanya ada penyesalan yang berakhir air mata..
tangispun yang jatuh untuk pengorbanan kita sudah tak terhitung..
ya, aku tak menangisi kepergianmu...
aku menangisi pengorbanan tiga tahun yang sia-sia..
sayang, kemana aku harus menempatkan cita-cita kita untuk menghabiskan sisa hidup bersama?
dimana aku harus mengubur semua mimpi untuk bersamamu sampai akhir hayat?
ketidakmampuanku menerima kenyataan membuatku tersiksa dengan semua kenangan tentang kita..
semua kenangan kita masih segar dalam benakku..
aku tidak meminta untuk dibuat lupa..
aku tidak ingin menghapus semua kenangan..
untuk apa sayang?
untuk mengahapus luka?
luka yang kau toreh tidak akan terhapus begitu saja...
kenangan mungkin bisa aku lupa, tapi rasa sakit ini seakan mendarah daging..
aku tidak membencimu karena ini..
kau dan aku tau ini bukan salah siapa-siapa..
tapi mengapa engkau dengan mudahnya mengubah takdir kita?
bagaimana jika seharusnya kita berjodoh tapi kau ingkari?
sayang.. untuk sekedar kau tahu aku belajar melupakan bahkan sebelum ini terjadi
tapi mengapa hingga saat ini pun aku selalu dikalahkan hati
mengapa hatiku tak bisa mengalah?
dia memaksa untuk memaksamu kembali..
mungkin kau sudah muak dengan paksaanku.. aku pun demikian sayang..
aku lelah mengikuti kemauan hatiku..
aku lelah harus mengemis apa yang sudah tidak ingin kumiliki..
aku menyerah pada kenyataan..
jika kau mengingkari takdirmu, karma menantimu..
untuk sekedar kau ingat, luka yang lama kini kembali menjadi luka baru
masih segar, masing terbuka lebar..
luka baru yang muncul karena tanpa sebab yang jelas kau mengatakan sudah tak sayang..
padahal baru kemarin kita mengucap rindu..
ya kau mengatakan itu dengan jelas dan hingga kini kau tidak kembali...
sayang, sesayang apapun hatiku, logika memaksaku pergi..
jalanku bukan menujumu...
mungkin memang arah kita berbeda..
atau mungkin takdir kita keliru..
jika pun benar bersiaplah untuk takdirmu yang kau ingkari,
karma menantimu..
selamat tinggal, wahai kau pria pengakhir cerita..
ini adalah akhir dari kisah kita..
tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel bernard batubara
tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel bernard batubara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar