Kamis, 24 April 2014

ikhlas itu seberat baja

katanya kalau kita sudah mampu menertawakan masa lalu berarti kita sudah berdamai dengan masalah yang ada didalamnya. begitukah?

puluhan hari sudah berlalu setelah masalah yang muncul memaksaku berpisah dengan apa yang dulunya sangat ku sayangi. namun entah kenapa rasanya peristiwa itu masih kemarin sore. ingatan itu masih lekat mengingat pertengkaran melalui telfon hingga membuatku benar-benar menangis semalam. bahkan tiga malam.

hahahhaa kenapa drama percintaan ini terlalu dramatis rasanya?

rasanya baru kemarin dia malu-malu mengajak ku jalan berdua sebelum aku berangkat ke jakarta. bahkan kita belum pacaran. masih jelas juga ketika sehari setelah pengumuman SNMPTN yang menyatakan aku LULUS dan berarti kita berpisah sebagai sahabat, dia menangis semalaman. ya, dia menangis karena takut bahwa kita yang saat itu sudah saling merasa nyaman untuk bersama akan jadi berbeda jika harus berpisah. sering setiap aku pulang dia meminta agar aku tidak lagi pergi kemana-mana.

pacaran dengan harus menjalani LDR dalam waktu yang terbilang lama memang sangat sayang jika harus berakhir. tapi, kenapa harus dipertahankan jika hanya sebelah pihak yang bertahan? tidak akan pernah adil rasanya.masing-masing kita berhak memiliki kebahagiaannya walau salah satu harus merasakan sakit yang mendalam.

tidak masalah bagiku jika harus berkorban. toh masalah ini membuatku belajar banyak hal. membuatku semakin dewasa dalam menghadapi apapun. takdir ku memang menjadi perempuan tangguh yang mandiri. tidak untuk selalu bergantung kepada pria.

memang awalanya tidak terhitung berapa puluh ribu pulsa yang kuhabiskan untuk memohon memperbaikin keadaan. namun sayang, pengorbanan itu tidak memberiku balasan yang kuinginkan. sakit memang tapi tidak selamanya rasa itu akan tetap disitu. walaupun sayatannya dalam, suatu saat dia juga akan sembuh. walaupun tidak ada yang tahu kapan pastinya.

kehilangan membuatku lebih dekat kepada yang paling mencintaiku. mungkin ini teguran dariNya karena cinta manusia membuatku berpaling dariNya. dia yang paling mencintaiku tidak ingin kuduakan. Dia memberikan masalah yang membuatku kembali memohon kasih dan pertolonganNya. Dia yang tidak akan pernah meninggalkanku dan selalu mencintaiku.

lantas kapan aku akan berdamai dengan masa lalu dan masalahnya? mungkin sudah kulakukan. mungkin belum.

aku terkadang menertawakan masa lalu yang indah yang tanpa sengaja terkenang. entah melalui foto atau tulisan.dan ketika aku bertemu potongan masa lalu yang menyakitkan membuatku tidak bisa tidur semalaman. rasa sakit itu menjalar keseluruh pembuluh darah. rasanya tidak ada hasrat untuk melakukan apapun selain menangis.

kapan masalalu yang menyakitkan mau datang menyalamiku dan mengucap maaf? ataukah aku yang harus memaafkan walau dia tidak meminta? bukan tidak mau, tapi berat rasanya.

bisakah kita berdamai dengan masalah yang membuat kita menjadi orang yang berbeda yang bukan kita seharusnya. yang mengacaukan sebagian besar harapan kita?

walau tidak selamanya masalalu menyakitkan. walau ia bisa mengajarkan banyak hal. masih berat rasanya untuk melepas maaf dan mengikhlaskan. ya rasanya ikhlas itu seberat baja. berat. entah kenapa.

Oh ya dan satu lagi kenapa orang lain sering merasa paling benar menganggap kita yang baru kehilangan terlalu terpuruk akan masalah yang kita hadapi? kenapa mereka menganggap kita yang sengaja membuat diri kita terjebak didalam masalah itu sendiri? kenapa orang lain dengan mudahnya mengatakn, "yaudah lupain aja", hey kehilangan tidak seperti kenalan baru yang tidak berkesan yang baru semenit kita sudah lupa namanya. ikhlas? ya aku tahu, tapi itu berat. jangan pernah merasa paling benar dan paling tau harus berbuat apa untuk masalah orang lain. JANGAN.

-tiara-, ditulis dengan segenap rasa sakit 
dan setitik cinta yang tersisa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar