Selasa, 05 Desember 2017

Perjalanan menuju pulang Bag.4 (END)

18 Desember 2016
                Hari ini saya harus kembali menghadapi masa lalu yang seakan tidak mau pergi jauh dari hidup saya. Dua hari yang lalu akhirnya saya mengambil keputusan untuk kembali ke kota dimana saya tidak ingin lagi kembali. Lamaran kerja yang saya kirim jauh hari sebelum hati saya terluka kembali mengantarkan saya pada hari ini kembali menginjakkan kaki di Kalimantan Utara. Kali ini saya tidak berharap untuk tinggal lebih lama dari dua hari. Tapi kenyataan berkata lain. Saya lulus pada tes tahap awal sehingga harus mengikuti tes selanjutnya dan karena jarak dari satu tes ke tes berikutnya yang berdekatan memaksa saya untuk menetap cukup lama sambil menunggu pengumuman. Suatu kehendak semesta yang tidak bisa saya tolak.
                Saat itu untuk menenangkan hati saya mencoba untuk meyakinkan diri tujuan saya kesini adalah untuk bekerja. Apapun yang terjadi setelahnya harus saya hadapi dengan lapang dada. Saya harus fokus pada tes mendatang dan tidak boleh goyah oleh masalah hati. Tapi manusia hanya bisa berniat dan berencana semesta yang menentukan segalanya. Bahkan hatipun akan kembali goyah ketika dua insan yang pernah saling jatuh cinta kembali bertemu tanpa terduga sebelumnya.

22 Desember 2016
                Sore itu kami akhinya bertemu lagi setelah sebulan lalu berdebat yang berakhir tanpa kejelasan. Hari itu berasa ada yang berbeda dari sikapnya. Bahasa tubuhnya menunjukkan penolakan untuk kembali bertemu. Namun, karena aku setengah memaksa dan mengatakan hanya ingin bertemu sebentar saja akhirnya ia mengiyakan. Tidak ada perdebatan hari itu karena aku membawa dua orang keponakan kecilku mengunjunginya dipenginapan. Hatiku tidak siap terluka mendengar kata-katanya. Aku hanya ingin bertemu. Bagiku itu sudah lebih dari cukup. Tanpa obrolan tanpa pembahasan akan hubungan kami.

24 & 25 Desember 2016
Akhirnya aku meniatkan diri mengunjunginya sekali lagi di kotanya. Bahasa tubuh yang kulihat dua hari lalu itu masih sama. Kali ini kami benar-benar membahas masalah hubungan kami. Sudah bisa ditebak sebenarnya, apa yang ia katakana sangat sesuai dengan bahasa tubuhnya. Dan masih sama seperti sebulan lalu, ia mengatakan tidak ingin membuatku berharap. Ia ingin menikmati hidupnya saat ini. akren baginya apa yang ia miliki saat ini sudah cukup. Ia tidak mau dipusingkan dengan hubungan percintaan yang akhirnya menyakitkan.

28 Desember 2016
Akhirnya tiba hari dimana aku akan pulang beberapa hari kerumah sebelum kembali lagi ke kota yang saat ini tidak ingin lagi ku kunjungi.  Walaupun pada kenyataannya aku masih ada tanggung jawab untuk kembali kesana dua hari berikutnya. Sungguh dilemma ketika langkah kian berat. Aku lebih sayang pada diriku sendiri dibanding pada perasaan yang bagai duri dalam daging ini.

3 Januari 2017
Akhirnya aku kembali kekota yang dekat denganmu. Aku tahu kita tidak akan bertemu tapi mengapa jusru itu terasa menyakitkan? Bukankah harusnya aku merasa senang? Sepertinya perasaan ini masih begitu kuat mengalahkan logikaku.

6 Januari 2017
Akhirnya aku pulang dan hingga kini tidak pernah lagi kembali ke kotamu. Namun aku sadar ujian hatiku belum berakhir karena kau yang akan berkunjung ke kota ku dilebaran tahun ini. Jujur aku senang walaupun logika ku menginginkan kita tidak usahlah untuk bertemu lagi selamanya. Hati kita harus dijaga agar tidak lagi terluka.

Mei 2017
Pertemuan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Lebih cepat sebulan dibandingkan yang ku kira. Akhirnya kita kembali bertemu. Kesalahan terbesarku adalah menemuimu dikotaku, dan lagi aku terperangkap dalam kenyamanan saat didekatmu. Logikaku sudah menahan ku untuk menjaga jarak saat bertemu denganmu, namun akhirnya rindu yang terlalu lama kusimpan mengalahkan logikaku. Aku jatuh dipelukmu. Aku pikir kita akan kembali baik-baik saja. Tapi nyatanya ini awal petaka sakit hati jilid kesekian. Setelah berpisah kau kembali menjadi dirimu yang apa adanya. Dirimu yang menolak keberadaanku. Dan aku kembali menjadi aku yang mengharapkanmu.

Lebaran 2017

Kita kembali bertemu. Seperti ritual lebaran sebelumnya aku bertemu orang tuamu. Namun saat aku meminnta mu menemuI kedua orang tuaku, kau menolak. Aku mengerti ini terlalu mendadak. Namun keseRiusan mu justru saat itu sedang kuuji. Ternyata kau masih sama seperti kemarin, masih tidak ingin berkomitmen denganku. Walaupun kau mengatakan masih punya perasaan yang sama tapi kupikir itu hanya karena saat itu kita bertemu. Saat kita terpisah, kau pasti akan kembali menjadi kau yang mengabaikanku dan menganggapku tidak ada. Ya aku tidak akan lagi berharap. Aku akan menyerahkan pada Tuhan urusan hatiku. Sudah 7 tahun lamanya kita berada dihubungan seperti ini. sudah saatnya untuk berhenti dan saling mengikhlaskan. Aku berharap aku bisa kembali pada diriku yang dulu yang bisa baik baik saja sebelum adanya kamu. Aku ingin pulang pada kepolosan perasaan yang belum tersakiti oleh konflik dua manusia yang pernah saling cinta. Namun semua hal itu tidak mungkin. Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah berharap dan berdoa pada Tuhan perasaan ini hilang bila memang kita tidak ditakdirkan bersama.