18 Desember 2016
Hari
ini saya harus kembali menghadapi masa lalu yang seakan tidak mau pergi jauh
dari hidup saya. Dua hari yang lalu akhirnya saya mengambil keputusan untuk
kembali ke kota dimana saya tidak ingin lagi kembali. Lamaran kerja yang saya
kirim jauh hari sebelum hati saya terluka kembali mengantarkan saya pada hari
ini kembali menginjakkan kaki di Kalimantan Utara. Kali ini saya tidak berharap
untuk tinggal lebih lama dari dua hari. Tapi kenyataan berkata lain. Saya lulus
pada tes tahap awal sehingga harus mengikuti tes selanjutnya dan karena jarak
dari satu tes ke tes berikutnya yang berdekatan memaksa saya untuk menetap
cukup lama sambil menunggu pengumuman. Suatu kehendak semesta yang tidak bisa
saya tolak.
Saat
itu untuk menenangkan hati saya mencoba untuk meyakinkan diri tujuan saya
kesini adalah untuk bekerja. Apapun yang terjadi setelahnya harus saya hadapi
dengan lapang dada. Saya harus fokus pada tes mendatang dan tidak boleh goyah
oleh masalah hati. Tapi manusia hanya bisa berniat dan berencana semesta yang
menentukan segalanya. Bahkan hatipun akan kembali goyah ketika dua insan yang
pernah saling jatuh cinta kembali bertemu tanpa terduga sebelumnya.
22 Desember 2016
Sore
itu kami akhinya bertemu lagi setelah sebulan lalu berdebat yang berakhir tanpa
kejelasan. Hari itu berasa ada yang berbeda dari sikapnya. Bahasa tubuhnya
menunjukkan penolakan untuk kembali bertemu. Namun, karena aku setengah memaksa
dan mengatakan hanya ingin bertemu sebentar saja akhirnya ia mengiyakan. Tidak
ada perdebatan hari itu karena aku membawa dua orang keponakan kecilku
mengunjunginya dipenginapan. Hatiku tidak siap terluka mendengar kata-katanya.
Aku hanya ingin bertemu. Bagiku itu sudah lebih dari cukup. Tanpa obrolan tanpa
pembahasan akan hubungan kami.
24 & 25 Desember 2016
Akhirnya aku meniatkan diri
mengunjunginya sekali lagi di kotanya. Bahasa tubuh yang kulihat dua hari lalu
itu masih sama. Kali ini kami benar-benar membahas masalah hubungan kami. Sudah
bisa ditebak sebenarnya, apa yang ia katakana sangat sesuai dengan bahasa
tubuhnya. Dan masih sama seperti sebulan lalu, ia mengatakan tidak ingin
membuatku berharap. Ia ingin menikmati hidupnya saat ini. akren baginya apa
yang ia miliki saat ini sudah cukup. Ia tidak mau dipusingkan dengan hubungan
percintaan yang akhirnya menyakitkan.
28 Desember 2016
Akhirnya tiba hari dimana aku
akan pulang beberapa hari kerumah sebelum kembali lagi ke kota yang saat ini
tidak ingin lagi ku kunjungi. Walaupun
pada kenyataannya aku masih ada tanggung jawab untuk kembali kesana dua hari
berikutnya. Sungguh dilemma ketika langkah kian berat. Aku lebih sayang pada
diriku sendiri dibanding pada perasaan yang bagai duri dalam daging ini.
3 Januari 2017
Akhirnya aku kembali kekota yang
dekat denganmu. Aku tahu kita tidak akan bertemu tapi mengapa jusru itu terasa
menyakitkan? Bukankah harusnya aku merasa senang? Sepertinya perasaan ini masih
begitu kuat mengalahkan logikaku.
6 Januari 2017
Akhirnya aku pulang dan hingga
kini tidak pernah lagi kembali ke kotamu. Namun aku sadar ujian hatiku belum
berakhir karena kau yang akan berkunjung ke kota ku dilebaran tahun ini. Jujur
aku senang walaupun logika ku menginginkan kita tidak usahlah untuk bertemu
lagi selamanya. Hati kita harus dijaga agar tidak lagi terluka.
Mei 2017
Pertemuan yang tidak pernah
kubayangkan sebelumnya. Lebih cepat sebulan dibandingkan yang ku kira. Akhirnya
kita kembali bertemu. Kesalahan terbesarku adalah menemuimu dikotaku, dan lagi
aku terperangkap dalam kenyamanan saat didekatmu. Logikaku sudah menahan ku
untuk menjaga jarak saat bertemu denganmu, namun akhirnya rindu yang terlalu
lama kusimpan mengalahkan logikaku. Aku jatuh dipelukmu. Aku pikir kita akan
kembali baik-baik saja. Tapi nyatanya ini awal petaka sakit hati jilid
kesekian. Setelah berpisah kau kembali menjadi dirimu yang apa adanya. Dirimu
yang menolak keberadaanku. Dan aku kembali menjadi aku yang mengharapkanmu.
Lebaran 2017
Kita kembali bertemu. Seperti
ritual lebaran sebelumnya aku bertemu orang tuamu. Namun saat aku meminnta mu
menemuI kedua orang tuaku, kau menolak. Aku mengerti ini terlalu mendadak.
Namun keseRiusan mu justru saat itu sedang kuuji. Ternyata kau masih sama
seperti kemarin, masih tidak ingin berkomitmen denganku. Walaupun kau
mengatakan masih punya perasaan yang sama tapi kupikir itu hanya karena saat
itu kita bertemu. Saat kita terpisah, kau pasti akan kembali menjadi kau yang
mengabaikanku dan menganggapku tidak ada. Ya aku tidak akan lagi berharap. Aku
akan menyerahkan pada Tuhan urusan hatiku. Sudah 7 tahun lamanya kita berada
dihubungan seperti ini. sudah saatnya untuk berhenti dan saling mengikhlaskan.
Aku berharap aku bisa kembali pada diriku yang dulu yang bisa baik baik saja
sebelum adanya kamu. Aku ingin pulang pada kepolosan perasaan yang belum tersakiti
oleh konflik dua manusia yang pernah saling cinta. Namun semua hal itu tidak
mungkin. Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah berharap dan berdoa pada Tuhan
perasaan ini hilang bila memang kita tidak ditakdirkan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar