Bagi sebagian orang berjalan lebih jauh dari tempat kita berasal adalah
proses menemukan diri kita. Saya bukannya tidak sependapat hanya bagi saya
berjalan lebih jauh adalah proses menyembuhkan luka sekaligus pemberi luka.
Saya bisa mendapatkan salah satunya atau bisa sekaligus keduanya. Dan
perjalanan menyembuhkan luka sekaligus memberi luka baru itu bermula di akhir
tahun 2016 hingga awal 2017.
18 November 2016
Sejujurnya ini perjalanan yang
ingin saya hapus memorinya tapi justru malah masih melekat dengan jelas
diingatan saya. Saya masih mengingat subuh itu saya harus terbang meninggalkan
Jakarta menuju Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Perjalanan ke Kalimantan bagian
utara ini bermula ketika hari rabu sore selepas saya mengikuti wawancara kerja
di salah satu perusahaan di ibu kota, saya mendapat telfon dari Tanjung Selor.
Saya di undang untuk mengikuti wawancara kerja di salah satu bank milik
pemerintah di ibu kota provinsi Kalimantan Utara itu. Perjalanan ke Tanjung
Selor ditempuh kurang lebih 5 jam. 2 jam penerbangan menuju Balikpapan ditambah
1 jam transit kemudian dilanjutkan penerbangan menuju Tarakan selama 45 menit.
Dari Tarakan kita harus menaiki speedboat untuk menuju Tanjung Selor selama 1
jam. Sungguh perjalanan panjang (darat, laut, sungai, udara) pertama yang saya
tempuh di penghujung 2016.
Subuh
itu cuaca sangat bersahabat mengantarkan perjalanan saya ke Kalimantan. Perjalanan dari Cijantung menuju bandara Halim
Perdana Kusuma sekitar 35 menit. Setiba di bandara saya langsung melapor
kepetugas untuk menukarkan e-ticket saya dengan boarding pass. Saat itu saya
langsung naik ke pesawat karena saat tiba dibandara sudah menunjukkan pukul 5
lebih 5 menit dan pesawat memang telah siap untuk boarding. Saya tidak menunggu
lama ketika pesawat lepas landas dari bandara Halim Perdana Kusuma.
Selama dua jam
perjalanan menuju Balikapapan saya ingin tidur karena saat itu saya sangat
kurang tidur. Saya baru terlelap pukul 1 dini hari sementara set 4 subuh saya
harus bangun karena pesawat saya dijadwalkan boarding pukul 5 subuh. Perasaan
saya sangat bercampur aduk selama perjalanan yang menyebabkan saya tidak dapat
tidur. Saat pesawat masih berada diketinggian 27000 mdpl dan mulai memasuki
area pulau Bornea, saya dibuat terpesona. Pemandangannya sangat menakjubkan.
Hamparan dataran hijau yang sangat menyegarkan mata tidak pernah saya jumpai
sebelumnya selama penerbangan PP Jakarta – Makassar. Walaupun keindahan lautnya
masih kalah dengan laut di Sulawesi tapi keindahan alamnya yang juara adalah
Kalimantan. Wajar saya rasa karena Kalimantan memiliki julukan paru-paru dunia.
Saya sangat bersyukur akhirnya saya bisa menikmati sendiri kekayaan yang
dimiliki Indonesia ini.
Pukul 8.30
pesawat Batik Air yang saya tumpangi mendarat di kota Balikpapan. Pemandangan
yang disajikan ketika akan mendarat di bandara Sepinggan, Balikpapan tidak
kalah mempesona dengan pemandangan sebelumnya. Deretan pantai dengan pasir
putih di sekitar bandara sangat memanjakan mata para penumpang pesawat
khususnya yang duduk disisi jendela sebelah kiri. Suatu keberuntungan untuk
saya karena inilah pemandangan terindah yang pernah saya lihat sebelum
mendarat. Bandara sepinggan tepat berada tidak jauh dari pantai berpasir putih
yang ada di Balikpapan. Seandainya hari itu saya tidak terburu buru untuk
segera tiba di tanjung selor dan waktu transit yang lebih panjang dari satu
jam, mungkin saya akan berjalan jalan terlebih dahulu disekitar Bandara Sepinggan
untuk menikmati pemandangannya. Sayangnya hari itu saya harus tiba di Tanjung
Selor tepat jam 1 siang.
Pemandangan 20 menit sebelum mendarat di Tarakan
Pesawat saya
kembali melanjutkan penerbangan menuju Tarakan sekitar pukul 10 pagi.
Diperjalanan menuju Tarakan pemandangannya tidak kalah cantiknya saat pesawat
baru memasuki area Kalimantan. Namun saat itu mental saya sebagai anak kota
tiba-tiba ciut. Saya semakin penasaran dan bertanya-tanya bagaimana sepinya
kota Tanjung Selor jika Tarakan saja yang lebih dulu menjadi kota administratif
sepertinya masih jarang rumah dan masih dikelilingi hutan.
Bandara juwata Tarakan. (sumber: google)
Saat tiba di bandara
Juwata Tarakan saya agak kagok awalnya karena ini adalah pertama kalinya saya
menginjakkan kaki di Kalimantan Utara. Namun berdasarkan instruksi yang diberikan
oleh teman saya akhirnya memberanikan diri memesan taksi resmi bandara untuk menuju
pelabuhan speed Tarakan. Beruntung siang itu saya mendapatkan driver taxi yang
asal daerahnya sama dengan saya namanya pak Darwis. Menurut informasi dari
teman saya sekitar 70% penduduk Tarakan adalah pendatang termasuk dari Sulawesi
Selatan. Saya menanyakan ke pak Darwis seputar bagaimana kota Tarakan, apa ciri
khasnya, oleh-oleh yang terkenal dan tempat wisata apa saja yang harus
dikunjungi. Beliau memberikan saya semua informasi yang saya butuhkan. Setibanya
dipelabuhan pak Darwis membantu saya memesankan tiket speedboat untuk
menyebrang ke Tanjung Selor. Beliau mengantar saya sampai didepan ruang tunggu
keberangkatan kapal dan memberi tahu saya saya harus menunggu dimana, serta
kapal saya akan dating pukul berapa. Sebelum pulang beliau juga memberikan
nomor handphonenya jika suatu waktu saya butuh dijemput lagi. Dan dua bulan
kemudian nomer handphone beliau sangat berguna ketika saya kembali lagi ke
Tarakan. Saya beruntung bertemu pak Darwis hari itu.
Speed yang
membawa saya menyebrang menuju tanjung selor menyusuri sungai Kayan hari itu
penuh dengan penumpang. Saya duduk disebelah seorang ibu dengan satu anak
balitanya. Ibu disebalah saya ini sepertinya salah satu amoy karena dari
perawakannya saja ia mirip dengan ciri-ciri amoy yang saya ketahui dari
internet. Ibunya cantik seperti wanita amoy lainnya dan saya sangat yakin dia
amoy. Tapi sayangnya saya mengobrol namun lupa menanyakan namanya. Berkat
beliau pula saya akhirnya tahu harus turun di mana nanti. Tidak seperti pesawat
saat kita sudah tiba atau akan mendarat disuatu kota maka pramugari akan
mengumumkan sementara saat naik speed kita harus hapal sendiri lokasi turun
kita atau menanyakan ke petugas speed.
Setiba di
Tanjung Selor seseorang yang menjanjikan akan menjemput saya membuat saya
menunggu 15 menit. Saya agak takut dengan keadaan pelabuhan yang tidak seaman
dibandara. Maka saya akhirnya memutuskan menunggu diluar. Ketika pertama kali
melangkahkan kaki keluar dari pelabuhan saya sontak kaget dengan panas matahari
yang begitu menyengat. Tanjung lebih panas disbanding Tarakan yang panasnya hampir
sama seperti Makassar. Entah karena kota kecil ini dikelilingi sungai atau
karena wilayahnya memang dekat garis khatulistiwa.
Setelah menunggu
dibawah terik matahari yang membuat kulit saya perih, akhirnya seseorang yang
saya tunggu itu dating juga. Jujur saat itu saya lebih degdegan akan bertemu
dengan dia dibandingkan untuk wawancara siang itu. Ini pertama kalinya kami
bertemu lagi setelah perdebatan hebat yang berakhir saya kembali tersakiti oleh
kata-katanya. Saya takut hal itu akan terluang lagi dalam dua hari selama saya
di Tanjung Selor. Saya harus menyiapkan sabar yang lebih banyak dan hati yang
sekuat baja. Seperti kata salah seorang sahabat saya, saya ahli menyembunyikan
kesakitan dengan bersikap seolah semua baik-baik saja ketika dihadapannya. (bersambung)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar