saat rindu dinyalakan asapnya membakar hati
sel-sel rindu semakin menyempit memacu pilu yang kian mati
pikiran pun dipermainkan ego yang sakit jiwa
raga ini serasa terpisah dengan jiwanya
jiwa mengamuk menuntut rasa terbalas
dengan balasan yang tak menuntut balas
walau raga ini hanya bisa diam tak berkutik
suara suara berbisik
rindu hanya khayalanmu saja
jangan mau dipermainkan lara
pria saja tak pernah memikirkan rasa
jangan mau diperbudak pria
pria hanya budak nafsu
menjual janji-janji palsu
dengan mengobral cinta palsu
untuk memuaskan nafsu
itu bukan rindu
hanya sekadar candu palsu
Rabu, 05 Juni 2013
Karma, ? (part.1)
Perasaan
suka itu datang bukan hanya karena terbiasa namun karena kebutuhan untuk
menyukai dan disukai. Itu yang dialami rayne pada teman sekelasnya tio. Sudah 2
minggu ia dan tio smsan namun setiap bertemu mereka seakan tidak saling
mengenal. Rayne makin penasaran pada tio dan tanpa ia sadari ia suka pada tio.
Tio cowo pendiam namun kadang nyebelin dan susah di tebak. Ini yang membuat
rayne makin suka pada tio. Entah mungkin karena packaging tio yang sangat
bagus. Tapi dalamnya hanya tio dan Tuhan yang tau.
Rayne
sebenarnya bukan hanya tertarik pada Tio namun dia juga tertarik pada kakak
kelas beda jurusan dengannya namun beberapa bulan belakangan Rayne dapat kabar
bahwa kakak itu sudah punya pacar. Rayne lalu mengalihkan perhatiannya ke Tio
walaupun sampai saat ini tidak ada kejelasan.
Tiga
minggu berlalu barulah Tio dan Rayne makin akrab tidak hanya di sms tapi juga
di kehidupan nyata. Dan tepat sebulan mereka dekat Tio dan Rayne pun memutuskan
untuk pacaran. Entah ini terkesan terburu-buru tapi mereka berdua tidak suka
berada dalam ketidakjelasan hubungan.
Hubungan
rayne dan tio tidak berjalan mulus mereka harus LDR karena rayne memutuskan
pindah kuliah dan mengulang dari semester awal di salah satu perguruan tinggi
di ibu kota. Mimpi rayne menjadi seorang psikolog bukan seorang ilmuwan fisika
seperti yang diimpikan Tio.
Seantero
kampus tau Tio adalah anak cerdas yang punya gift menguasai rumus-rumus fisika
sebelum diajarkan di kelas. Ya dia seperti keturunan Isac Newton dan Albert
Enstein walaupun untuk urusan pacaran dia sama sekali masih awam dan Rayne
adalah pacar pertama Tio.
Awal
pacaran terlihat manis sama seperti yang lain. Tahun pertama mereka lalui
dengan banyak cobaan di akhirnya dan mereka pun memutuskan untuk break.
Beberapa bulan kemudian Rayne dan Tio bertemu. Mereka menyadari masih ada cinta
yang tersisa dan belum terselesaikan diantara mereka, mereka pun kembali
pacaran walaupun konsekuensinya harus LDR (lagi).
Tahun
kedua mereka lalui begitu mulus walaupun sebenarnya Rayne menyimpan banyak
unek-unek di hati. Rayne lebih sering mengalah saat bertengkar dan tidak ingin
mengulang kejadian yang sama saat mereka break dulu.
Tahun
ketiga masalah semakin rumit Tio makin sibuk dengan kegiatannya sebagai
mahasiswa tingkat akhir dan Rayne makin
sibuk dengan tugas kuliahnya yang tidak pernah ada habisnya. Tio butuh
pendamping yang nyata yang bisa mensupport dia mengerjakan tugas akhir namun
Rayne jelas tidak bisa menyanggupi. Sementara Rayne butuh pacar yang
memperhatikan dia ditengah kesibukannya dan karena Tio tipe cowok yang cuek
Rayne pun hanya mampu bersabar.
Di
tahun keempat saat Rayne sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir sementara Tio
bekerja di sebuah perusahaan asing di kotanya. Rayne bisa memaklumi jika tidak
ada waktu untuk mereka bermesraan walaupun hanya di telefon. Namun baginya
hubungan ini hanya begini-begini saja tidak ada kejelasan akan kemana. Tio
tidak pernah mengatakan apapun tentang masa depan hubungan mereka.
Rayne
menyadari keadaan ini tidak bisa ia biarkan terus seperti ini. Bagi rayne, tio
sudah cukup mapan untuk merencanakan pernikahan. Rayne terkadang menanyakan itu
pada tio namun tio justru marah jika ditanyai hal tersebut. Entah karena apa.
Rayne
tidak mau terus-terusan sabar dan mengalah sementara ia sendiri memiliki keinginan
untuk menikah di usia muda. Baginya untuk apa berlama-lama pacaran jika kita
sudah mampu lahir batin. Rayne sadar
sebentar lagi ia lulus kuliah melanjutkan sekolah lagi untuk menjadi psikolog
dan artinya LDR mereka akan semakin lama.
Rayne
tidak pernah menuntut banyak pada Tio. Rayne selalu mengerti keadaan Tio yang
sibuk dengan pekerjaannya walaupun dia harus terabaikan. Namun masalah komitmen
ini cukup membuat Rayne kesal dan tidak bisa bersabar lagi.
Rayne
pun mengatakan pada Tio jika 6 bulan setelah ia lulus kuliah Tio belum juga
memberikan kejelas hubungan mereka, Rayne lebih memilih memutuskan Tio dan
mencari pria yang lain. Tio hanya
menanggapi dengan ucapan kita liat nanti saja kedepannya seperti apa.
Tepat
setelah enam bulan kelulusan Rayne, Tio belum bertindak apa-apa. Rayne pun
memutuskan Tio dan berjanji tidak akan pernah menghubunginya lagi. Tio seperti
sudah bisa membaca keadaan dan tidak begitu shock mendengar keputusan Rayne.
Tanpa ada rasa bersalah dan menyesal dari ekspresi Tio. Hal ini yang paling
membuat Rayne sakit hati. Ia seakan hanya dipermainkan selama ini. Ada ataupun
tidak ada dia baginya Tio akan baik-baik saja. Dan sepertinya seperti itu.
Setahun
kemudian Tio mendapat kabar bahwa Rayne telah bertunangan dengan saudara jauh
yang di jodohkan orangtuanya. Tunangan Rayne tinggal di Kanada sementara Rayne
di Indonesia. Lagi-lagi Rayne LDR namun hubungannya saat ini sudah jelas. Entah
kenapa Tio agak shock mendengar kabar tersbeut. Dia mengira tidak akan secepat
itu. Tio cemburu namun ia sadar ini kesalahan dia setahun yang lalu yang telah
melepas perempuan sebaik Rayne.
Tio
lalu memutuskan menemui Rayne dan meminta maaf dan ia bersedia menikahi Rayne
namun orangtua Rayne sudah sangat tidak suka pada Tio. Sementara Rayne akan
menikah 3 bulan lagi setelah ia menyelesaikan sekolah profesi psikolognya.
Sebulan
setelah pertemuan mereka, Rayne dan Tio kembali di pertemukan oleh semesta.
Rayne sedang melakukan penelitian di pulau dewata sementara Tio sedang liburan
menghilangkan kegalauannya. Mereka tanpa diduga menginap di hotel yang sama dan
bertemu di lobi hotel tersebut. Tio yang melihat Rayne terlebih dahulu enggan
menyapa, namun Rayne akhirnya menengok dan melihat Tio. Tanpa berpikir Rayne
menghampiri Tio.
“eh
yo, kok disini? Liburan ya? Ciee sama siapa?”
“mm
iya lagi cuti nih dua minggu. Sendiri kok. Kamu sendiri ngapain?”
“aku
ada urusan penelitian disini buat tesis aku nanti. Kok sendirian? Pacar kamu
mana?”
“eh
hehehhee masih dirahasiain sama semesta ra”
“hahhaaha
ada-ada aja. eh ntar nikahan aku datang yak.”
“insyaallah”
“jangan
insyaallah dong. Harus datang pokoknya di rumah kok ga di jakarta.”
“eh
iya kalo ga ada kerjaan yah. Eh ntar malam ada janji ga? Diner yuk?”
“hah?
Oh iya ntar aku kabarin kalo baliknya cepet yah. See you”
“eh
oke bye.”
Pertemuan yang singkat, obrolan yang
singkat tapi kembali membuka luka lama yang hampir mengering di hati Tio. Rayne
masih menjadi yang paling berharga bagi Tio. Rasa untuk merebut yang tadinya
miliknya itu muncul kembali didalam diri Tio.
Di perjalanan menuju universitas
udayana Rayne melamun. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa semesta
kembali mempertemukan mereka di sini di bali, tempat yang dulu mereka janji
akan pergi berdua. Di saat dia akan menikah dua bulan lagi kenapa harus bertemu
Tio? Hal ini sungguh membuat Rayne dilema.
Sorenya Rayne memutuskan untuk diner
dengan Tio. Mungkin ada hal yang harus mereka bicarakan. Harus ada yang mereka
selesaikan tidak bisa terus-terusan seperti ini. Rayne sadar ini bisa merusak
rencana pernikahan dia. Rayne tidak mau mengecewakan orang tuanya, dan tidak
ingin kembali sakit hati.
Jam 7 malam Tio menjemput Rayne di
lobi hotel mereka lalu menuju pantai new kuta beach untuk dinner di salah satu
resto disana. Setibanya di resto Tio tampak canggung namun Rayne berhasil
memecah suasana yang dingin itu.
“Yo kamu kok ngajak aku diner? Ada
yang mau di omongi ya?”
“eh iya ra. Ga papa kan? Tunangan
kamu ga marah kan?”
“Ga sih. Aku ga bilang ke dia ga
sempet dia masih tidur kali secara disana masih tengah malam.”
“Oh dia belum balik ke Indonesia
ra?”
“Belom tapi katanya sih 3 minggu
lagi dia balik buat ngurus persiapan pernikahan kami”
“oh gitu ya. Ra?”
“iya tio, kenapa?
“kamu mau ga nikah sama aku?”
Rayne terdiam, dia shock mendengar ucapan
Tio. Lalu dengan cepat ia menjawab permintaan Tio.
“Tio, kamu sadar ga sih aku tuh
sebulan lagi nikah. Ini tuh bukan main-main yo. Ini udah disiapin setahun sama
keluargaku. Lagian aku udah ga ada rasa sama kamu. Aku udah ga berharap kita
bisa sama-sama lagi”
“ra, aku tau ini karena salahku.
Tapi masa iya perasaan kamu ke aku udah benar-benar ga ada?”
“Yo, kalaupun ada aku harus segera
membunuh perasaan itu. Aku udah ngasih kamu kesempatan tapi malah kamu
sia-siain yo. Tunangan aku yang sekarang beda sama kamu yo.”
“Ra, tapi aku masih sayang sama
kamu. Aku mau nikahnya sama kamu.”
“Aku ga bisa. Maaf. Kamu tau aku
tipe cewek yang setia.”
“Kamu coba inget deh kita pernah
janji mau kesini bareng dan kamu mau aku lamar di sini kan? Aku lagi memenuhi janjiku
Ra.”
“Tio maaf ya janji-janji kamu
sekarang udah basi. Mending kamu cari cewek lain. Aku ga bisa.”
“Ra, tapi aku cuman sayang sama
kamu.”
“tolong jangan paksa aku. Maaf.”
Rayne
pun pergi meninggalkan Tio sendirian diresto itu. Impian Tio merebut Rayne
musnah sudah. Rayne sudah bener-benar tidak menginginkan Tio kembali. Rayne
sudah tenang dengan hidupnya yang sekarang walau tanpa Tio.
Di perjalanan pulang menuju hotel
Rayne menangis. Ia sebenarnya terluka melihat Tio seperti itu. Ia telah membohongi
dirinya sendiri. Bagaimana mungkin hubungan yang lama antara mereka perasaannya
bisa hilang hanya dalam setahun? Ini sungguh membuat Rayne bingung dan
menyesal. Kenapa Tio tidak sadar sejak dulu. Kenapa haru sekarang? Kenapa di
saat dia akan menikah Tio kembali datang dan ingin menebus semua janjinya? Bagi
Rayne ini sudah terlambat. Mungkin ia harus menutup buku cerita dirinya dan
Tio.
Bersambung
Langganan:
Postingan (Atom)