Rabu, 09 Januari 2013

menunggu pagi

di derai hujan yang kian deras membasahi bumi
menumpahkan segala emosi
menuangkan segala kalut
aku masih terdiam di sudut semesta
mendengarkan suara rinai hujan
deras berhenti rintik-rintik
tak ada yang jelas
tak ada yang pasti kapan ia berhenti
ingatanku menembus lorong waktu
aku teringat dikala hujan bersamamu
hanya ada hujan tawa
hanya ada derai bahagia
masalalu kebanyakan memang manis
namun terlalu pahit untuk diusik
masih di rinai hujan ini
yang kian deras curahnya
udara begitu dingin menusuk ketulang
kapan rinai hujan ini berhenti?
tak ada yang tau
malam yang begitu kelam
hanya ada hujan angin dan langit yang gelap
tak ada bintang tak ada cahaya sang rembulan
kota ini seperti mati
tak ada cahaya pertanda bahagia
semua orang pergi meninggalkan kota ini
kota ini telah mati
mati dan hanya ada aku dan rinai hujan ini
tanpa bintang tanpa cahaya rembulan
ku tengok kedalam hati
rupanya ia juga telah mati
semua yang dicinta telah pergi
mungkin bukan pergi
tapi luka ini yang memaksa aku yang pergi
masih di rinai hujan ini
hujan yang perlahan gerimis lagi
langit masih gelap
aku masih sendiri disini di kota mati
tanpa cinta tanpa bahagia
hanya ada separuh hati yang tersisa
namun perlahan akan musnah digerogoti luka
aku bertahan sendirian
menunggu hujan ini usai
menanti langit yang cerah
dengan goresan warna merah di sana
aku menunggu pelangi setelah hujan di malam ini
mustahil memang
menanti yang tak akan pernah datang
karena pelangi bukan untuk langit malam
aku menunggu kamu
dan mustahil
kamu tak akan pernah datang
hanya untung sekeping hati yang hampir musnah digerogoti luka
aku sendiri melawan sepi
mencoba memahami maksud semesta
aku masih sendiri menunggu pagi
mungkin esok ia datang
dengan harapan yang baru
menolongku keluar dari kota mati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar