Senin, 13 Maret 2017

Perjalanan menuju pulang (bagian 3)

20 November 2016
Minggu siang yang lebih terik dari pertama kali saya menginjakkan kaki di Tanjung Selor, saya harus kembali menjalani kehidupan saya seperti yang ia mau. Saya pulang kejakarta dengan perasaan yang lebih buruk dari sebelumnya. Apa yang saya pikirkan saat itu hanyalah bagaimana saya harus melupakan hari kemarin dan menguburnya dalam-dalam.

Di perjalanan menuju pulang saya tidak hentinya menangis dalam diam. Beruntung hari itu saya memilih flight menjelang maghrib karena dimalam hari lampu pesawat pasti akan dimatikan sepanjang perjalanan. Begitupun setiba di bandara soekarno hatta saya menumpangi bus damri bandara yang lampunya dipadamkan sepanjang jalan. Seolah semesta telah berkonfrontasi membantu saya merenungi tangis ini dalam gelap.

Suasana Jakarta yang selalu ramai hingga dini hari dengan lampu-lampu jalan, jalanan yang padat kendaraan, gedung-gedung pencakar langitnya tidak membantu menghapus rasa hampa dan perih yang saya rasakan saat itu. Bahkan ditengah gemerlap dan keramaian jalanan Jakarta saya merasa sendirian. Ditengah riuh jalanan jakarta malam itu isi kepala saya terus berputar berpikir dan mengingat kembali percakapan sehari sebelumnya. Dan sekali lagi otak saya memerintahkan untuk berhenti melakukan hal yang sia-sia dan berujung melukai hati saya lagi.


Bagi saya tidak ada alasan saya harus kembali kesana dan bertemu dengannya. Saya bersumpah saat itu untuk diri sendiri saya harus menghapus perasaan ini. Tidak ada lagi jalan yang bisa menyatukan kami. Benteng penghalang diantara kami terlalu kokoh dan tinggi. Tujuan kami yang dulunya sama kini telah berbeda arah. Tidak ada lagi yang bisa membuat kami bersama seperti sebelumnya kecuali takdir dari Tuhan. Saya tidak lagi memiliki tenaga untuk terus tetap berjuang mempertahankan hubungan kami. Tidak ada artinya berjuang sendirian ketika yang kau perjuangkan sesungguhnya tidak ingin diperjuangkan. (bersambung)

Jumat, 10 Maret 2017

Perjalanan menuju pulang (Bagian.2)

Tibalah saat saya sekali lagi harus bertemu dengan masa lalu yang harusnya sudah ditinggalkan. Seperti biasa saya terlihat baik-baik saja. Walau didalam hati seperti ingin memakinya tapi tidak tega saya lakukan. Apa yang membuat saya terlihat baik-baik saja mungkin karena didekatnyalah saya bisa merasa sangat nyaman sekaligus tersakiti. Dialah yang mengobati sekaligus membuat terluka. Namun sepertinya dia tidak pernah menyadari hal itu.
“Kamu udah makan?” tanyanya.
“Sarapan sih tadi dipesawat, makan siang mana sempet”, jawaku.
“Oh yaudah aku antar ke tempat interview dulu ya kalo udah selesai aku jemput baru kita makan.” Saya pun hanya mengangguk mengiyakan. Setelah itu saya sibuk untuk berdandan karena saya yakin bedak saya tadi pagi sudah tersapu angin pulau jawa hingga Kalimantan hahaha.
Jam 3 sore saat interview saya selesai ia datang menjemput. Sore itu hingga malam kami bersikap seolah tidak ada yang salah diantara kami. Kami hanya mengobrol seputar apa yang sedang saya sibuk kerjakan dan ia kerjakan. Kami tidak sekalipun membahas jarak yang menjauhkan kami saat itu secara psikis sekalipun fisik kami hanya berjarak sejengkal.
Keesokan paginya, saya terbangun lebih dulu dan memandanginya yang masih tertidur di balik pintu. Ketika ia terbangun ia lalu menghampiri saya. Mungkin hampir sama seperti yang saya rasakan seperti ada yang ingin disampaikan satu sama lain tapi kami tahan dan akhirnya diungkapkan pagi itu.
“Kamu udah lihat kan keadaan aku disini. Masih belum juga mengerti kenapa aku selama ini bersikap seperti itu?”
“Aku tidak mempersoalkan waktu yang terbatas.”
“Lantas apa?”
“Aku hanya mempertanyakan perasaan kamu ke aku bagaimana.”
“Aku tidak mau kamu berharap.”
“Bukannya aku mau berharap tapi aku masih punya perasaan yang entah ini harus diapakan.”
“Sudahlah biar kita jalani dulu hidup kita saat ini. Toh kamu sendiri liat aku disini tidak dengan siapa-siapa.”
“Tapi sikapmu masih sama. Perilakumu masih sama.”
“Maksud kamu?”
“Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi, tapi aku berharap kamu berubah jadi lebih baik. Kamu mungkin tidak sadar ada banyak hati yang sudah kau buat terluka karena sikapmu.”
“Maksudmu sifatku yang terlalu ramah dengan wanita?”
“Iya apa lagi. Semua wanita sama. Kau piker tidak ada yang merasa diperhatikan dengan sikapmu pada mereka? Tentu saja sebagian dari mereka ada yang terbawa perasaan.”
“Kamu saja yang terlalu berpikir negative.”
“Itu bukan hal negative. Itu sangat wajar. Hati wanita memang sangat lembut. Disentuh sedikit mereka akan terkesan da jatuh hati. Aku tidak mengatakan ini sembarangan. Karena aku juga pernah beberapakali mengalami. Tergantung bagaimana sang lelaki bersikap setelahnya apakah ia peka atau malah cuek dan yang akhirnya berkorban perasaan adalah wanita.”
“Jalan pikiranmu sulit kupahami. Aku tidak setuju. Aku hanya bermain-main mencari kesenangan tidak ada yang serius. Apakah itu salah?”
“Justru kesalahan terbesarmu adalah tidak menyadari kesalahanmu sendiri.”
“Lantas mau kamu sekarang apa?”
“Sudahlah aku juga tidak tahu harus bagaimana. Seperti yang kau katakan mungkin lebih baik kita menjalani hidup kita masing-masing.”
“Tanpa sakit hati?”
“Apa urusanmu soal itu?”
“Hmm baiklah.”
Percakapan yang sesungguhnya membuat hati saya terluka lagi kali ini berakhir begitu saja. Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk merubah keadaan. Saya hanya berhapa semoga sabar yang berlipat menyelamatkan saya dari perasaan ini. Bahkan apapun yang saya rasakan saya lakukan tidak ada lagi yang berarti baginya. Belum genap 24 jam semenjak kami bertemu dan masih 30 jam lagi saya harus bersamanya. Jujur sangat berat keadaan saat itu tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa.
Selama 30 jam sisa waktu dengannya kami tidak banyak membicarakan hal penting. Kami bahkan tidak lagi membahas masalah kami. Baginya sikapnya sudah benar dan sayapun harus mengikuti semua rule yang ia buat. Sebenarnya ia baru saja membuat benteng pemisah yang sangat tinggi diantara kami. Saking tinggi seolah hanya mukjizat Allah yang dapat meruntuhkannya. Sekuat apapun usaha kami berdua benteng itu tidak akan runtuh. Dan semakin hari benteng itu seolah bertambah tingginya tiap saat. (bersambung)

Perjalanan panjang menuju pulang (Bagian 1)

       Bagi sebagian orang berjalan lebih jauh dari tempat kita berasal adalah proses menemukan diri kita. Saya bukannya tidak sependapat hanya bagi saya berjalan lebih jauh adalah proses menyembuhkan luka sekaligus pemberi luka. Saya bisa mendapatkan salah satunya atau bisa sekaligus keduanya. Dan perjalanan menyembuhkan luka sekaligus memberi luka baru itu bermula di akhir tahun 2016 hingga awal 2017.

18 November 2016
Sejujurnya ini perjalanan yang ingin saya hapus memorinya tapi justru malah masih melekat dengan jelas diingatan saya. Saya masih mengingat subuh itu saya harus terbang meninggalkan Jakarta menuju Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Perjalanan ke Kalimantan bagian utara ini bermula ketika hari rabu sore selepas saya mengikuti wawancara kerja di salah satu perusahaan di ibu kota, saya mendapat telfon dari Tanjung Selor. Saya di undang untuk mengikuti wawancara kerja di salah satu bank milik pemerintah di ibu kota provinsi Kalimantan Utara itu. Perjalanan ke Tanjung Selor ditempuh kurang lebih 5 jam. 2 jam penerbangan menuju Balikpapan ditambah 1 jam transit kemudian dilanjutkan penerbangan menuju Tarakan selama 45 menit. Dari Tarakan kita harus menaiki speedboat untuk menuju Tanjung Selor selama 1 jam. Sungguh perjalanan panjang (darat, laut, sungai, udara) pertama yang saya tempuh di penghujung 2016.
                Subuh itu cuaca sangat bersahabat mengantarkan perjalanan saya ke Kalimantan.  Perjalanan dari Cijantung menuju bandara Halim Perdana Kusuma sekitar 35 menit. Setiba di bandara saya langsung melapor kepetugas untuk menukarkan e-ticket saya dengan boarding pass. Saat itu saya langsung naik ke pesawat karena saat tiba dibandara sudah menunjukkan pukul 5 lebih 5 menit dan pesawat memang telah siap untuk boarding. Saya tidak menunggu lama ketika pesawat lepas landas dari bandara Halim Perdana Kusuma.
Selama dua jam perjalanan menuju Balikapapan saya ingin tidur karena saat itu saya sangat kurang tidur. Saya baru terlelap pukul 1 dini hari sementara set 4 subuh saya harus bangun karena pesawat saya dijadwalkan boarding pukul 5 subuh. Perasaan saya sangat bercampur aduk selama perjalanan yang menyebabkan saya tidak dapat tidur. Saat pesawat masih berada diketinggian 27000 mdpl dan mulai memasuki area pulau Bornea, saya dibuat terpesona. Pemandangannya sangat menakjubkan. Hamparan dataran hijau yang sangat menyegarkan mata tidak pernah saya jumpai sebelumnya selama penerbangan PP Jakarta – Makassar. Walaupun keindahan lautnya masih kalah dengan laut di Sulawesi tapi keindahan alamnya yang juara adalah Kalimantan. Wajar saya rasa karena Kalimantan memiliki julukan paru-paru dunia. Saya sangat bersyukur akhirnya saya bisa menikmati sendiri kekayaan yang dimiliki Indonesia ini.
Pukul 8.30 pesawat Batik Air yang saya tumpangi mendarat di kota Balikpapan. Pemandangan yang disajikan ketika akan mendarat di bandara Sepinggan, Balikpapan tidak kalah mempesona dengan pemandangan sebelumnya. Deretan pantai dengan pasir putih di sekitar bandara sangat memanjakan mata para penumpang pesawat khususnya yang duduk disisi jendela sebelah kiri. Suatu keberuntungan untuk saya karena inilah pemandangan terindah yang pernah saya lihat sebelum mendarat. Bandara sepinggan tepat berada tidak jauh dari pantai berpasir putih yang ada di Balikpapan. Seandainya hari itu saya tidak terburu buru untuk segera tiba di tanjung selor dan waktu transit yang lebih panjang dari satu jam, mungkin saya akan berjalan jalan terlebih dahulu disekitar Bandara Sepinggan untuk menikmati pemandangannya. Sayangnya hari itu saya harus tiba di Tanjung Selor tepat jam 1 siang.
Pemandangan 20 menit sebelum mendarat di Tarakan

Pesawat saya kembali melanjutkan penerbangan menuju Tarakan sekitar pukul 10 pagi. Diperjalanan menuju Tarakan pemandangannya tidak kalah cantiknya saat pesawat baru memasuki area Kalimantan. Namun saat itu mental saya sebagai anak kota tiba-tiba ciut. Saya semakin penasaran dan bertanya-tanya bagaimana sepinya kota Tanjung Selor jika Tarakan saja yang lebih dulu menjadi kota administratif sepertinya masih jarang rumah dan masih dikelilingi hutan.

Bandara juwata Tarakan. (sumber: google)

Saat tiba di bandara Juwata Tarakan saya agak kagok awalnya karena ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kalimantan Utara. Namun berdasarkan instruksi yang diberikan oleh teman saya akhirnya memberanikan diri memesan taksi resmi bandara untuk menuju pelabuhan speed Tarakan. Beruntung siang itu saya mendapatkan driver taxi yang asal daerahnya sama dengan saya namanya pak Darwis. Menurut informasi dari teman saya sekitar 70% penduduk Tarakan adalah pendatang termasuk dari Sulawesi Selatan. Saya menanyakan ke pak Darwis seputar bagaimana kota Tarakan, apa ciri khasnya, oleh-oleh yang terkenal dan tempat wisata apa saja yang harus dikunjungi. Beliau memberikan saya semua informasi yang saya butuhkan. Setibanya dipelabuhan pak Darwis membantu saya memesankan tiket speedboat untuk menyebrang ke Tanjung Selor. Beliau mengantar saya sampai didepan ruang tunggu keberangkatan kapal dan memberi tahu saya saya harus menunggu dimana, serta kapal saya akan dating pukul berapa. Sebelum pulang beliau juga memberikan nomor handphonenya jika suatu waktu saya butuh dijemput lagi. Dan dua bulan kemudian nomer handphone beliau sangat berguna ketika saya kembali lagi ke Tarakan. Saya beruntung bertemu pak Darwis hari itu.
Speed yang membawa saya menyebrang menuju tanjung selor menyusuri sungai Kayan hari itu penuh dengan penumpang. Saya duduk disebelah seorang ibu dengan satu anak balitanya. Ibu disebalah saya ini sepertinya salah satu amoy karena dari perawakannya saja ia mirip dengan ciri-ciri amoy yang saya ketahui dari internet. Ibunya cantik seperti wanita amoy lainnya dan saya sangat yakin dia amoy. Tapi sayangnya saya mengobrol namun lupa menanyakan namanya. Berkat beliau pula saya akhirnya tahu harus turun di mana nanti. Tidak seperti pesawat saat kita sudah tiba atau akan mendarat disuatu kota maka pramugari akan mengumumkan sementara saat naik speed kita harus hapal sendiri lokasi turun kita atau menanyakan ke petugas speed.


Setiba di Tanjung Selor seseorang yang menjanjikan akan menjemput saya membuat saya menunggu 15 menit. Saya agak takut dengan keadaan pelabuhan yang tidak seaman dibandara. Maka saya akhirnya memutuskan menunggu diluar. Ketika pertama kali melangkahkan kaki keluar dari pelabuhan saya sontak kaget dengan panas matahari yang begitu menyengat. Tanjung lebih panas disbanding Tarakan yang panasnya hampir sama seperti Makassar. Entah karena kota kecil ini dikelilingi sungai atau karena wilayahnya memang dekat garis khatulistiwa.

Setelah menunggu dibawah terik matahari yang membuat kulit saya perih, akhirnya seseorang yang saya tunggu itu dating juga. Jujur saat itu saya lebih degdegan akan bertemu dengan dia dibandingkan untuk wawancara siang itu. Ini pertama kalinya kami bertemu lagi setelah perdebatan hebat yang berakhir saya kembali tersakiti oleh kata-katanya. Saya takut hal itu akan terluang lagi dalam dua hari selama saya di Tanjung Selor. Saya harus menyiapkan sabar yang lebih banyak dan hati yang sekuat baja. Seperti kata salah seorang sahabat saya, saya ahli menyembunyikan kesakitan dengan bersikap seolah semua baik-baik saja ketika dihadapannya. (bersambung)