Tibalah saat
saya sekali lagi harus bertemu dengan masa lalu yang harusnya sudah
ditinggalkan. Seperti biasa saya terlihat baik-baik saja. Walau didalam hati
seperti ingin memakinya tapi tidak tega saya lakukan. Apa yang membuat saya
terlihat baik-baik saja mungkin karena didekatnyalah saya bisa merasa sangat
nyaman sekaligus tersakiti. Dialah yang mengobati sekaligus membuat terluka.
Namun sepertinya dia tidak pernah menyadari hal itu.
“Kamu udah
makan?” tanyanya.
“Sarapan sih
tadi dipesawat, makan siang mana sempet”, jawaku.
“Oh yaudah aku
antar ke tempat interview dulu ya kalo udah selesai aku jemput baru kita makan.”
Saya pun hanya mengangguk mengiyakan. Setelah itu saya sibuk untuk berdandan
karena saya yakin bedak saya tadi pagi sudah tersapu angin pulau jawa hingga Kalimantan
hahaha.
Jam 3 sore saat
interview saya selesai ia datang menjemput. Sore itu hingga malam kami bersikap
seolah tidak ada yang salah diantara kami. Kami hanya mengobrol seputar apa
yang sedang saya sibuk kerjakan dan ia kerjakan. Kami tidak sekalipun membahas
jarak yang menjauhkan kami saat itu secara psikis sekalipun fisik kami hanya
berjarak sejengkal.
Keesokan
paginya, saya terbangun lebih dulu dan memandanginya yang masih tertidur di
balik pintu. Ketika ia terbangun ia lalu menghampiri saya. Mungkin hampir sama
seperti yang saya rasakan seperti ada yang ingin disampaikan satu sama lain tapi
kami tahan dan akhirnya diungkapkan pagi itu.
“Kamu udah lihat
kan keadaan aku disini. Masih belum juga mengerti kenapa aku selama ini
bersikap seperti itu?”
“Aku tidak
mempersoalkan waktu yang terbatas.”
“Lantas apa?”
“Aku hanya
mempertanyakan perasaan kamu ke aku bagaimana.”
“Aku tidak mau
kamu berharap.”
“Bukannya aku
mau berharap tapi aku masih punya perasaan yang entah ini harus diapakan.”
“Sudahlah biar
kita jalani dulu hidup kita saat ini. Toh kamu sendiri liat aku disini tidak
dengan siapa-siapa.”
“Tapi sikapmu
masih sama. Perilakumu masih sama.”
“Maksud kamu?”
“Aku tahu aku
bukan siapa-siapa lagi, tapi aku berharap kamu berubah jadi lebih baik. Kamu
mungkin tidak sadar ada banyak hati yang sudah kau buat terluka karena sikapmu.”
“Maksudmu
sifatku yang terlalu ramah dengan wanita?”
“Iya apa lagi.
Semua wanita sama. Kau piker tidak ada yang merasa diperhatikan dengan sikapmu
pada mereka? Tentu saja sebagian dari mereka ada yang terbawa perasaan.”
“Kamu saja yang
terlalu berpikir negative.”
“Itu bukan hal negative.
Itu sangat wajar. Hati wanita memang sangat lembut. Disentuh sedikit mereka
akan terkesan da jatuh hati. Aku tidak mengatakan ini sembarangan. Karena aku
juga pernah beberapakali mengalami. Tergantung bagaimana sang lelaki bersikap
setelahnya apakah ia peka atau malah cuek dan yang akhirnya berkorban perasaan
adalah wanita.”
“Jalan pikiranmu
sulit kupahami. Aku tidak setuju. Aku hanya bermain-main mencari kesenangan
tidak ada yang serius. Apakah itu salah?”
“Justru
kesalahan terbesarmu adalah tidak menyadari kesalahanmu sendiri.”
“Lantas mau kamu
sekarang apa?”
“Sudahlah aku
juga tidak tahu harus bagaimana. Seperti yang kau katakan mungkin lebih baik kita
menjalani hidup kita masing-masing.”
“Tanpa sakit
hati?”
“Apa urusanmu
soal itu?”
“Hmm baiklah.”
Percakapan yang
sesungguhnya membuat hati saya terluka lagi kali ini berakhir begitu saja.
Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk merubah keadaan. Saya hanya berhapa semoga
sabar yang berlipat menyelamatkan saya dari perasaan ini. Bahkan apapun yang
saya rasakan saya lakukan tidak ada lagi yang berarti baginya. Belum genap 24
jam semenjak kami bertemu dan masih 30 jam lagi saya harus bersamanya. Jujur
sangat berat keadaan saat itu tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa.
Selama 30 jam
sisa waktu dengannya kami tidak banyak membicarakan hal penting. Kami bahkan
tidak lagi membahas masalah kami. Baginya sikapnya sudah benar dan sayapun
harus mengikuti semua rule yang ia buat. Sebenarnya ia baru saja membuat
benteng pemisah yang sangat tinggi diantara kami. Saking tinggi seolah hanya
mukjizat Allah yang dapat meruntuhkannya. Sekuat apapun usaha kami berdua benteng
itu tidak akan runtuh. Dan semakin hari benteng itu seolah bertambah tingginya
tiap saat. (bersambung)