20 November 2016
Minggu siang
yang lebih terik dari pertama kali saya menginjakkan kaki di Tanjung Selor,
saya harus kembali menjalani kehidupan saya seperti yang ia mau. Saya pulang
kejakarta dengan perasaan yang lebih buruk dari sebelumnya. Apa yang saya
pikirkan saat itu hanyalah bagaimana saya harus melupakan hari kemarin dan
menguburnya dalam-dalam.
Di perjalanan
menuju pulang saya tidak hentinya menangis dalam diam. Beruntung hari itu saya
memilih flight menjelang maghrib karena dimalam hari lampu pesawat pasti akan
dimatikan sepanjang perjalanan. Begitupun setiba di bandara soekarno hatta saya
menumpangi bus damri bandara yang lampunya dipadamkan sepanjang jalan. Seolah
semesta telah berkonfrontasi membantu saya merenungi tangis ini dalam gelap.
Suasana Jakarta
yang selalu ramai hingga dini hari dengan lampu-lampu jalan, jalanan yang padat
kendaraan, gedung-gedung pencakar langitnya tidak membantu menghapus rasa hampa
dan perih yang saya rasakan saat itu. Bahkan ditengah gemerlap dan keramaian
jalanan Jakarta saya merasa sendirian. Ditengah riuh jalanan jakarta malam itu
isi kepala saya terus berputar berpikir dan mengingat kembali percakapan sehari
sebelumnya. Dan sekali lagi otak saya memerintahkan untuk berhenti melakukan
hal yang sia-sia dan berujung melukai hati saya lagi.
Bagi saya tidak
ada alasan saya harus kembali kesana dan bertemu dengannya. Saya bersumpah saat
itu untuk diri sendiri saya harus menghapus perasaan ini. Tidak ada lagi jalan
yang bisa menyatukan kami. Benteng penghalang diantara kami terlalu kokoh dan
tinggi. Tujuan kami yang dulunya sama kini telah berbeda arah. Tidak ada lagi yang
bisa membuat kami bersama seperti sebelumnya kecuali takdir dari Tuhan. Saya
tidak lagi memiliki tenaga untuk terus tetap berjuang mempertahankan hubungan
kami. Tidak ada artinya berjuang sendirian ketika yang kau perjuangkan
sesungguhnya tidak ingin diperjuangkan. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar