Jumat, 10 Maret 2017

Perjalanan menuju pulang (Bagian.2)

Tibalah saat saya sekali lagi harus bertemu dengan masa lalu yang harusnya sudah ditinggalkan. Seperti biasa saya terlihat baik-baik saja. Walau didalam hati seperti ingin memakinya tapi tidak tega saya lakukan. Apa yang membuat saya terlihat baik-baik saja mungkin karena didekatnyalah saya bisa merasa sangat nyaman sekaligus tersakiti. Dialah yang mengobati sekaligus membuat terluka. Namun sepertinya dia tidak pernah menyadari hal itu.
“Kamu udah makan?” tanyanya.
“Sarapan sih tadi dipesawat, makan siang mana sempet”, jawaku.
“Oh yaudah aku antar ke tempat interview dulu ya kalo udah selesai aku jemput baru kita makan.” Saya pun hanya mengangguk mengiyakan. Setelah itu saya sibuk untuk berdandan karena saya yakin bedak saya tadi pagi sudah tersapu angin pulau jawa hingga Kalimantan hahaha.
Jam 3 sore saat interview saya selesai ia datang menjemput. Sore itu hingga malam kami bersikap seolah tidak ada yang salah diantara kami. Kami hanya mengobrol seputar apa yang sedang saya sibuk kerjakan dan ia kerjakan. Kami tidak sekalipun membahas jarak yang menjauhkan kami saat itu secara psikis sekalipun fisik kami hanya berjarak sejengkal.
Keesokan paginya, saya terbangun lebih dulu dan memandanginya yang masih tertidur di balik pintu. Ketika ia terbangun ia lalu menghampiri saya. Mungkin hampir sama seperti yang saya rasakan seperti ada yang ingin disampaikan satu sama lain tapi kami tahan dan akhirnya diungkapkan pagi itu.
“Kamu udah lihat kan keadaan aku disini. Masih belum juga mengerti kenapa aku selama ini bersikap seperti itu?”
“Aku tidak mempersoalkan waktu yang terbatas.”
“Lantas apa?”
“Aku hanya mempertanyakan perasaan kamu ke aku bagaimana.”
“Aku tidak mau kamu berharap.”
“Bukannya aku mau berharap tapi aku masih punya perasaan yang entah ini harus diapakan.”
“Sudahlah biar kita jalani dulu hidup kita saat ini. Toh kamu sendiri liat aku disini tidak dengan siapa-siapa.”
“Tapi sikapmu masih sama. Perilakumu masih sama.”
“Maksud kamu?”
“Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi, tapi aku berharap kamu berubah jadi lebih baik. Kamu mungkin tidak sadar ada banyak hati yang sudah kau buat terluka karena sikapmu.”
“Maksudmu sifatku yang terlalu ramah dengan wanita?”
“Iya apa lagi. Semua wanita sama. Kau piker tidak ada yang merasa diperhatikan dengan sikapmu pada mereka? Tentu saja sebagian dari mereka ada yang terbawa perasaan.”
“Kamu saja yang terlalu berpikir negative.”
“Itu bukan hal negative. Itu sangat wajar. Hati wanita memang sangat lembut. Disentuh sedikit mereka akan terkesan da jatuh hati. Aku tidak mengatakan ini sembarangan. Karena aku juga pernah beberapakali mengalami. Tergantung bagaimana sang lelaki bersikap setelahnya apakah ia peka atau malah cuek dan yang akhirnya berkorban perasaan adalah wanita.”
“Jalan pikiranmu sulit kupahami. Aku tidak setuju. Aku hanya bermain-main mencari kesenangan tidak ada yang serius. Apakah itu salah?”
“Justru kesalahan terbesarmu adalah tidak menyadari kesalahanmu sendiri.”
“Lantas mau kamu sekarang apa?”
“Sudahlah aku juga tidak tahu harus bagaimana. Seperti yang kau katakan mungkin lebih baik kita menjalani hidup kita masing-masing.”
“Tanpa sakit hati?”
“Apa urusanmu soal itu?”
“Hmm baiklah.”
Percakapan yang sesungguhnya membuat hati saya terluka lagi kali ini berakhir begitu saja. Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk merubah keadaan. Saya hanya berhapa semoga sabar yang berlipat menyelamatkan saya dari perasaan ini. Bahkan apapun yang saya rasakan saya lakukan tidak ada lagi yang berarti baginya. Belum genap 24 jam semenjak kami bertemu dan masih 30 jam lagi saya harus bersamanya. Jujur sangat berat keadaan saat itu tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa.
Selama 30 jam sisa waktu dengannya kami tidak banyak membicarakan hal penting. Kami bahkan tidak lagi membahas masalah kami. Baginya sikapnya sudah benar dan sayapun harus mengikuti semua rule yang ia buat. Sebenarnya ia baru saja membuat benteng pemisah yang sangat tinggi diantara kami. Saking tinggi seolah hanya mukjizat Allah yang dapat meruntuhkannya. Sekuat apapun usaha kami berdua benteng itu tidak akan runtuh. Dan semakin hari benteng itu seolah bertambah tingginya tiap saat. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar