Minggu pagi itu begitu cerah saat
kami berangkat dari ciputat untuk menuju stasiun pondok ranji. Kami tiba di
stasiun sekitar jam 8 pagi. Stasiunnya belum begitu riuh oleh penumpang. Baru
hanya ada beberapa pedagang yang ingin menjajakan dagannya. Sontak saat kami
baru tiba semua mata seakan tertuju pada kami. Jelas saja semua orang penasaran
kami mau kemana, soalnya kami datang berombongan dengan membawa tas gunung dan
perlengkapan seperti ingin camping. Saat itu kereta kami terlambat tiba di
stasiun karena ada hambatan di stasiun lain. Di jadwal kami seharusnya
berangkat pukul sembilan pagi namun akhirnya molor menjadi jam 10 pagi. Di
dalam kereta begitu penuh sesak bukan hanya oleh penumpang tapi juga pedagang
yang mondar-mandir sepanjang gerbong menjajakan dagangannya. Karena kami
rombongan dan kereta sudah amat penuh akhirnya kami berpencar berbeda gerbong.
Saat di perjalanan menuju stasiun
rangkasbitung aku memperhatikan orang-orang di sekelilingku, mereka berasal
dari kelas sosial yang berbeda tapi berbaur dalam satu gerbong itu. Sungguh
pengalaman baru bagi aku berdesak-desakan dengan banyak orang di dalam kereta.
Setelah melalui dua jam perjalanan kami akhirnya tiba di stasiun rangkas. Saat
itu pukul 12.00 hari sudah semakin siang dan matahari makin mengarah ingin
bersembunyi di balik awan. Saat tiba di stasiun kami istirahat sejenak melepas
penat sepanjang perjalanan. Kami makan siang bersama di pinggiran rel kereta.
Tepat pukul 13.00 kami berkumpul dan berdoa untuk melanjutkan perjalanan
selanjutnya. Perjalan inilah perjalan kami sesungguhnya. Rutenya kami jalan
kaki dari stasiun rangkas menuju pasir roko, desa cimarga. Perjalanannya
lumayan jauh. Di sepanjang perjalanan banyak yang bertanya kami hendak kemana.
Kami jawab saja ingin ke baduy dan kebanyakan orang kaget dan malah menyarankan
kami naik angkutan umum. Kami hanya mengiyakan saja saran mereka.
Di perjalanan langit cukup
bersahabat, matahari bersinar tidak begitu terik. Di awal perjalan aku cukup
bersemangat namun di pertengahan merasa perjalanan ini lumayan juga yah rasanya
gregetan ingin cepat-cepat tiba di camp 1. Di tengan perjalanan kami mendapat
materi improvisasi di sebuah lembah perbukitan. Pemandangannya begitu indah.
Ada sungai dan mata air yang mengalir dari balik bukit. Suasananya begitu
hening. Kami di instruksikan untuk menikmati apa yang ada disitu dan merasakan
energi yang di berikan semesta untuk kami melanjutkan perjalanan selanjutnya.
Setelah itu kami melanjutkan lagi perjalanan melewati beberapa desa dan
akhirnya sekitar pukul 17.30 kami tiba di camp 1.
Sungguh alhamdulillah setelah
melalui perjalanan yang panjang dan berbagai rintangan di jalan kami bisa tiba
di camp dengan selamat dan sehat. Saat tiba di camp kami langsung di
instruksikan untuk mendirikan tenda dan memasak untuk makan malam kami. Karena
sekelompok aku hanya berempat kami membagi tugas dua orang yang mendirikan
tenda dan dua orang yang memasak. Aku kebagian tugas untuk memasak. Sungguh
karena ini pengalaman pertama aku memasak nasi tanpa menggunakan magiccom
nasinya tidak matang dan malah berasa beras. Akhirnya kami berempat hanya makan
indomie malam itu.
Setelah makan kami berkumpul
untuk mendapat materi selanjutnya. Kami membentuk lingkaran dan disuruh untuk
memilih benda yang mewakili perasaan kami terhadap perjalanan ini. Ada pipa
warna hijau yang melambangkan menyatu dengan alam, plastik putih melambangkan
memperoleh teman baru, plastik hitam melambangkan lelah dan kesakitan, dan
terakhir keris melambangkan kemarahan. Tiap-tiap orang memilih barang yang
berbeda, ada yang memilih 2 barang bahkan ada yang memilih keempatnya yang
mewakili perasaan dia. Setelah itu kami di suruh untuk mengitari teman-teman
kami dan menatap matanya langsung dan berbicara melalui tatapan mata apa yang
kamu rasakan sebenarnya ke dia. Disini kebanyakan dari kami emosinya meluap
sampai matanya tidak dapat lagi membendung air mata. Sungguh bercampur aduk
saar menatap mata teman-teman yang beberapa bulan ini baru kami kenal namun
kami sudah begitu akrab dengan intensitas ketemu yang hampir tiap hari apalagi
menjelang perjalanan ini. Di sesi ini kami di harapkan untuk jujur mengenai
ekspresi mata karena hanya mata yang di tuntut untuk berbicara dan menyampaikan
perasaan kami. Setelah sesi ini kami melanjutkan ke materi selanjutnya.
Materi kedua ini namanya gerak
naluri. Pertama kami di suruh untuk rileks dan beberapa orang di tunjuk untuk
mulai terlebih dahulu. Saat maju ketengah kami disuruh fokus dan membayangkan
ada dua titik di telapak tangan kami terserah itu berbentuk apa. Setelah itu
kami di tuntut untuk bergerak tetapi tidak menggunakan otak melainkan naluri
yang menggerakkan kami. Kebanyakan gerakannya begitu liar dan menunjukkan
kemarahan karena perjalanan yang begitu melelahkan ini. Dari gerak naluri ini
kami merasakan rasa puas dan ketenangan. Saat bergerak ini kami melepaskan
kepenatan setelah berjalan hampir 5 jam. Sungguh luar biasa dan setiap dari
kami memiliki gerakan dengan maksud yang berbeda. Setelah gerak naluri, kami di
ajarkan rileksasi untuk merilekskan setiap bagian dari tubuh kami baik yang di
luar maupun yang didalam. Saat sesi ini ada beberapa orang yang sampai tertidur
saking rileksnya. Namun ada juga yang tidak bisa fokus karena di gigit nyamuk.
Setelah itu kami kembali ke tenda dan beristirahat untuk melanjutkan perjalanan
lagi esok hari.
Pukul 4 pagi kami di bangunkan
untuk melakukan pemanasan dan setelah itu sarapan lalu packing untuk
melanjutkan perjalanan selanjutnya. Kali ini rute kami dari pasir roko menuju
portal. Jarak tempuhnya cukup dekat namun medannya begitu menantang karena
kebanyakan tanjakan. Pukul 7 pagi kami berangkat dari pasir roko. Di sepanjang
perjalan banyak warga sekitar yang bertanya “neng bade kamana?” “neng, mau
kemana?” “ ka baduy bu” “ke baduy bu” “baduy pan jauh neng ulah jalan kaki atuh
pan aya angkot” “baduy kan jauh jangan jalan kaki kan ada angkot”, mendengar
itu kami hanya tersenyum.
Di perjalanan banyak dari kami
yang tumbang satu persatu dan kebanyakan itu karena tidak sanggup melalui
tanjakan yang begitu banyak yang rasanya tidak ada habisnya. Ada yang pingsan
bahkan ada yang asmanya kumat. Selain medan yang berat matahari saat itu juga
bersinar sangat terik membakar kulit kami. Kami tiba di warung yang dekat
dengan camp II itu sekitar pukul 12 siang. Disini kami beristirahat sangat lama
karena ada gangguan teknis di camp yang akan kami tempati. Karena ada beberapa
gangguan akhirnya camp kami di pindahkan.
Saat tiba di camp kami
membersihkan dulu rumput-rumputnya lalu kami mendirikan tenda dan menaburkan
garam di sekeliling tenda kami. Setelah itu kami memasak untuk makan siang.
Sekitar pukul 4 sore kami berkumpul lagi untuk melanjutkan ke materi
selanjutnya. Untuk menuju tempat materi kami berjalan lumayan jauh. Kami masuk
ke hutan dan melalui pematang sawah akhirnya kami tiba di lokasi materi
selanjutnya. Di sini kami suruh menceritakan kisah di balik benda kesayangan
yang kami bawa masing-masing. Aku saking bersemangat untuk bercerita akhirnya
aku memilih untuk maju pertama dan bercerita. Kami bergantian-gantian maju untuk
bercerita. Ada yang barangnya di kasih, ada yang minta keorangnya, ada yang
beli sendiri, bahkan ada yang mengambil paksa dari orangnya. Ceritanya juga ada
yang lucu bahkan mengharukan. Setelah bercerita barang kami di kumpulkan di
dalam trash bag. Dan di luar pemikiran kami ternyata setelah materi
barang-barang kami di bakar. Aku dan kawan di sebelahku sontak menangis.
Namanya juga itu barang kesayangan wajar kalau ada beberapa dari kami yang
menangis. Kami di ajarkan untuk ikhlas dan tidak menggantungkan diri kami hanya
pada benda karena itu hanya sebuah benda dan ada yang lebih besar dari bend itu
yaitu Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Walaupun akhirnya di mulut kami
berkata ikhlas namun kebanyakan belum ikhlas merelakan barang kesayangannya di
bakar.
Tidak lama berselang kami
melanjutkan kemateri selanjutnya yaitu pemanggungan. Kami berkumpul di kelompok
masing-masing dan membuat suatu cerita dalam waktu 15 menit dan
mempresentasikannya di depan teman-teman. Ceritanya seputar kegiatan kami
selama dua hari ini dan alam yang ada di sekitar kami saat itu.
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar