Sabtu, 19 April 2014

Karma, ? (part. 2)



Hari ini adalah hari terakhir rayne di bali, besok ia harus kembali ke ibu kota untuk menyelesaikan laporan penelitiannya dan sehari setelahnya ia harus pulang ke kota kelahirannya untuk menyelesaikan urusan pernikahannya.
Rayne sedang melamun sambil menikmati hembusan angin pantai kuta yang hari itu lumayan sepi pengunjung, tiba-tiba ia dikagetkan dengan pria yang muncul di hadapannya. Tio mengenakan kaos hitam kerah V, jeans belel dan sepatu kets yang dulu style tio yang menjadi favorit Rayne. Entah apa maksudnya.
“selamat pagi cantik. Masih di bali juga? Kapan balik ke jakarta?”
“pagi yo. Ngapain disini? Aku balik besok pesawat subuh.”
“emang ga boleh? Oh naik singa apa burung? Hati-hati delay hahhaha”
“terserah sih. apa urusan kamu sih nanaya-nanya mulu.”
“selow mba ga usah marah-marah.”
“mau ngapain nyamperin aku? Kamu buntutin aku dari hotel ya?” tanya rayne penuh curiga.
“dih mba pede banget sih. aku abis breakfast di Mcd depan iseng aja main kesini eh malah ketemu situ yaudah aku samperin ntar dikira sombong lagi.” Balas tio ketus.
“oh yaudah.” Ucap rayne.
Mereka berdua lalu terdiam beberapa saat. Tio lalu duduk disebalh rayne memandangi debur ombak sambil menikmati hembusan angin pantai di pagi hari dalam diam. Lalu tio kembali melontarkan pertanyaan ke rayne.
“ra, jujur nih ya aku masih sayang sama kamu seperti waktu kita pertama ketemu. Kamu masih sayang juga kan sama aku?”
Rayne terkejut mendengar pertanyaan tio. Ia bingung harus menjawab apa. Rasanya lidahnya kelu. Semua kosa kata di otaknya seperti hilang tak bersisa. Semakin ia gali kosa kata yang ingin ia ucapkan semakin sulit rasanya. Hingga terucaplah kata yang membuat logikanya lumpuh.
“ iya yo aku masih sayang kamu.” Logika rayne kalah dengan kata hatinya. Semakin ia memikirkan untuk mengtakan tidak semakin kuat kata iya aku masih sayang kamu di kepalanya. Rayne pun terdiam setelah menjawab pertanyaan tio.
Tio tidak begitu kaget tapi ia menyembunyikannya dari rayne.
“ra, kamu serius mau nikah beberapa minggu lagi? Sama orang lain? Bukan aku?”
Rayne semakin bingung ia kali ini betul-betul tidak sanggup berkata-kata. Lidahnya kini semakin beku. Seluruh aliran darahnya rasanya beku. Ia hanya mematung. Namun ada bulir-bulir air yang keluar dari matanya. Rayne terdiam menangis dalam diam. Dan menjawab pertanyaan tio hanya dengan air mata.
“ra, aku ga maksud bikin kamu nangis.” Tio mendekap rayne dalam pelukannya.
Rayne tidak sanggup menolak pelukan tio. Tangisannya semakin pecah dan membuatnya pusing hingga jatuh pingsan di pelukan tio. Tio pun panik dan segera menggendong rayne mengantarkan ke rumah sakit terdekat.
Setibanya di rumah sakit tio menunggu rayne di depan ruang tunggu pengunjung. Kata dokter Rayne hanya kecapaian dan banyak pikiran. Sebaiknya ia tidak menghadapi situasi yang begitu menekan pikirannya katanya lagi. Tio menunggu dengan sabar untuk mengantarkan Rayne kembali ke hotel.
Rayne dan tio hanya diam, tidak mengatakan satu kata pun selama perjalanan ke hotel. Setibanya di hotel barulah tio membuka pembicaraan.
“ra, maafin aku ya. Gara-gara aku kamu jadi begini. Padahal ini hari terakhir kamu disini harusnya kamu relax bukan malah aku bikin stress dengan pertanyaan-pertanyaanku tadi.”
“yo, please jangan dibahas sekarang aku butuh istirahat. Aku butuh berpikir tenang. Aku mau sendirian. Kamu pergilah kemanapun kamu mau.” Balas rayne.
“yasudah kalo ada apa-apa atau ada yang bisa aku bantu kamu hubungi aku aja yah. Kamu hati-hati jangan terlalu dipikirkan.”
“iya. Bye” rayne pun berlalu menuju kamarnya.
Tinggallah tio dengan perasaan bersalah. Ia sudah merasa putus asa untuk mendapatkan cintanya kembali. Ia tidak ingin menyakiti rayne.
Rasanyatio kini berada di jalan buntu. Jika ia lanjut maka ada yang harus ia rusak walaupun itu tidak merugikannya tapi justru merugikan orang yang ia cintai. Ia tidak ingin membuat rayne jatuh sakit memikirkan masalah percintaan mereka yang rumit.
Ada penyesalan dalam diri tio mengingat rayne pernah memberinya kesempatan namun telah ia sia-siakan. Tio tidak lagi tahu harus berbuat apa untuk memperjuangkan cintanya. Mungkin takdirnya adalah tidak bersama Rayne tapi rasanya ia tidak sanggup menerima kenyataan ini.
Keesokan harinya rayne bertolak ke jakarta, menyelesaikan apa yang harus ia selesaikan sebelum pernikahannya. Di hari yang sama Tio juga kembali ke kota kelahirannya. Membawa segala kenangan manis dan pahit yang ia peroleh dari liburan di bali beberapa hari terakhir. Ada sesuatu yang hilang dari sebelah hatinya. Di wajahnya pun tidak menunjukkan orang yang baru pulang dari liburan.
Waktu berlalu hingga akhirnya tio dan rayne kembali bertemu tepat seminggu sebelum pernikahan Rayne. Mereka bertemu di pantai akkarena, pantai yang dulunya menjadi area nge date favorit mereka di kala senja. Senja disana memang begitu indah bila langit tidak diselimuti awan.
Rayne kesana tidak hanya untuk menghilangkan penat. Ada sesuatu yang menuntunnya hari itu, sebuah kekuatan yang begitu besar hingga ia mau melihat kembali kenangan yang telah ia kubur.
Bersambung ke part 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar