Hari
ini adalah hari terakhir rayne di bali, besok ia harus kembali ke ibu kota untuk
menyelesaikan laporan penelitiannya dan sehari setelahnya ia harus pulang ke
kota kelahirannya untuk menyelesaikan urusan pernikahannya.
Rayne
sedang melamun sambil menikmati hembusan angin pantai kuta yang hari itu
lumayan sepi pengunjung, tiba-tiba ia dikagetkan dengan pria yang muncul di
hadapannya. Tio mengenakan kaos hitam kerah V, jeans belel dan sepatu kets yang
dulu style tio yang menjadi favorit Rayne. Entah apa maksudnya.
“selamat
pagi cantik. Masih di bali juga? Kapan balik ke jakarta?”
“pagi
yo. Ngapain disini? Aku balik besok pesawat subuh.”
“emang
ga boleh? Oh naik singa apa burung? Hati-hati delay hahhaha”
“terserah
sih. apa urusan kamu sih nanaya-nanya mulu.”
“selow
mba ga usah marah-marah.”
“mau
ngapain nyamperin aku? Kamu buntutin aku dari hotel ya?” tanya rayne penuh
curiga.
“dih
mba pede banget sih. aku abis breakfast di Mcd depan iseng aja main kesini eh
malah ketemu situ yaudah aku samperin ntar dikira sombong lagi.” Balas tio
ketus.
“oh
yaudah.” Ucap rayne.
Mereka
berdua lalu terdiam beberapa saat. Tio lalu duduk disebalh rayne memandangi
debur ombak sambil menikmati hembusan angin pantai di pagi hari dalam diam.
Lalu tio kembali melontarkan pertanyaan ke rayne.
“ra,
jujur nih ya aku masih sayang sama kamu seperti waktu kita pertama ketemu. Kamu
masih sayang juga kan sama aku?”
Rayne
terkejut mendengar pertanyaan tio. Ia bingung harus menjawab apa. Rasanya
lidahnya kelu. Semua kosa kata di otaknya seperti hilang tak bersisa. Semakin
ia gali kosa kata yang ingin ia ucapkan semakin sulit rasanya. Hingga
terucaplah kata yang membuat logikanya lumpuh.
“
iya yo aku masih sayang kamu.” Logika rayne kalah dengan kata hatinya. Semakin
ia memikirkan untuk mengtakan tidak semakin kuat kata iya aku masih sayang kamu
di kepalanya. Rayne pun terdiam setelah menjawab pertanyaan tio.
Tio
tidak begitu kaget tapi ia menyembunyikannya dari rayne.
“ra,
kamu serius mau nikah beberapa minggu lagi? Sama orang lain? Bukan aku?”
Rayne
semakin bingung ia kali ini betul-betul tidak sanggup berkata-kata. Lidahnya
kini semakin beku. Seluruh aliran darahnya rasanya beku. Ia hanya mematung.
Namun ada bulir-bulir air yang keluar dari matanya. Rayne terdiam menangis
dalam diam. Dan menjawab pertanyaan tio hanya dengan air mata.
“ra,
aku ga maksud bikin kamu nangis.” Tio mendekap rayne dalam pelukannya.
Rayne
tidak sanggup menolak pelukan tio. Tangisannya semakin pecah dan membuatnya
pusing hingga jatuh pingsan di pelukan tio. Tio pun panik dan segera
menggendong rayne mengantarkan ke rumah sakit terdekat.
Setibanya
di rumah sakit tio menunggu rayne di depan ruang tunggu pengunjung. Kata dokter
Rayne hanya kecapaian dan banyak pikiran. Sebaiknya ia tidak menghadapi situasi
yang begitu menekan pikirannya katanya lagi. Tio menunggu dengan sabar untuk
mengantarkan Rayne kembali ke hotel.
Rayne
dan tio hanya diam, tidak mengatakan satu kata pun selama perjalanan ke hotel.
Setibanya di hotel barulah tio membuka pembicaraan.
“ra,
maafin aku ya. Gara-gara aku kamu jadi begini. Padahal ini hari terakhir kamu
disini harusnya kamu relax bukan malah aku bikin stress dengan
pertanyaan-pertanyaanku tadi.”
“yo,
please jangan dibahas sekarang aku butuh istirahat. Aku butuh berpikir tenang.
Aku mau sendirian. Kamu pergilah kemanapun kamu mau.” Balas rayne.
“yasudah
kalo ada apa-apa atau ada yang bisa aku bantu kamu hubungi aku aja yah. Kamu
hati-hati jangan terlalu dipikirkan.”
“iya.
Bye” rayne pun berlalu menuju kamarnya.
Tinggallah
tio dengan perasaan bersalah. Ia sudah merasa putus asa untuk mendapatkan
cintanya kembali. Ia tidak ingin menyakiti rayne.
Rasanyatio
kini berada di jalan buntu. Jika ia lanjut maka ada yang harus ia rusak
walaupun itu tidak merugikannya tapi justru merugikan orang yang ia cintai. Ia
tidak ingin membuat rayne jatuh sakit memikirkan masalah percintaan mereka yang
rumit.
Ada
penyesalan dalam diri tio mengingat rayne pernah memberinya kesempatan namun
telah ia sia-siakan. Tio tidak lagi tahu harus berbuat apa untuk memperjuangkan
cintanya. Mungkin takdirnya adalah tidak bersama Rayne tapi rasanya ia tidak
sanggup menerima kenyataan ini.
Keesokan
harinya rayne bertolak ke jakarta, menyelesaikan apa yang harus ia selesaikan
sebelum pernikahannya. Di hari yang sama Tio juga kembali ke kota kelahirannya.
Membawa segala kenangan manis dan pahit yang ia peroleh dari liburan di bali
beberapa hari terakhir. Ada sesuatu yang hilang dari sebelah hatinya. Di
wajahnya pun tidak menunjukkan orang yang baru pulang dari liburan.
Waktu
berlalu hingga akhirnya tio dan rayne kembali bertemu tepat seminggu sebelum
pernikahan Rayne. Mereka bertemu di pantai akkarena, pantai yang dulunya
menjadi area nge date favorit mereka di kala senja. Senja disana memang begitu
indah bila langit tidak diselimuti awan.
Rayne
kesana tidak hanya untuk menghilangkan penat. Ada sesuatu yang menuntunnya hari
itu, sebuah kekuatan yang begitu besar hingga ia mau melihat kembali kenangan
yang telah ia kubur.
Bersambung ke
part 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar