Sabtu, 19 April 2014

Karma, ? (part. 3 END)



tio menghampiri rayne yang sedang duduk seorang diri didermaga. Rayne tampak terkejut namun masih bisa mengendalikan situasi.
“eh yo, kok kamu kesini juga?”
“entah ra, aku selama pulang dari bali tiap hari pasti kesini sekedar mampir atau malah menghabiskan waktu hingga malam.”
“kamu jangan disperate gitu dong mau aku tinggal nikah hehhe.” Canda rayne, namun terdengar kaku.
“ya tau sendiri ra, aku masih ga bisa maafin diri aku sendiri pernah mencampakkan kamu gitu aja.”
“yo, hidup tuh kedepan bukan kebelakang. Aku memang sayang sama kamu, tapi itu dulu. Dulu sekali yo, jauh sebelum kamu muncul lagi dihidup aku dan membuat aku sempat ragu untuk tetap menikah. Aku kini sadar yo, takdir, jodoh sebenarnya ada ditangan kita sendiri. Ya, dulu kita pernah saling mengucap janji untuk menikah. Tapi kamu malah memilih mengkhianati ketulusan aku, janji kita, mimpi kita. Bukan aku ingin menyalahkan kamu yo. Aku sadar aku juga salah. Kita sama-sama salah, tapi dulu yo, dulu sekali aku masih ngasih kamu kesempatan buat memperbaiki hubungan kita. Tapi respon kamu apa? Kamu bilang kamu udah ga sayang sama aku. katamu sudah tidak ada harapan buat kita. Ga ada yang bisa dan harus diperbaiki kan yo? Disitu tuh aku merasa hancur banget yo. Setahun aku berusaha bangkit dari rasa terpuruk dan kehilangan. Bukan hanya kamu aja yang menyesal membuat keputusan sepihak. Akupun dulu menyesal yo. Aku menyesal kenapa dulu aku maksain kamu ngasih kejelasan untuk hubungan kita toh saat itu kita masih baik-baik pun harusnya aku bersyukur. Tapi sekarang aku sadar yo, kita memang tidak ditakdirkan jalan beriringan. Walau sebenarnya bisa saja aku memilih kembali ke kamu tapi tidak aku lakuin.”
“kenapa?” tanya tio memelas.
“apa yang kita alami sebelumnya seolah nunjukin ke aku, siapa yang pantas dan tidak seharusnya aku pilih. Ya, berat memang buat memutuskan hal ini yo. Tapi aku sekarang yakin untuk tetap menikah minggu depan. Bukan berarti aku sayang kamu tapi aku ga sayang sama tunangan aku. aku sayang sama kamu, tapi itu dulu sebelum kamu memilih buat ninggalin aku gitu aja.”
Tio mematung mendengarkan semua isi hati rayne. Dia semakin merasa bersalah. Entah rayne sengaja membuat sakit dihati Tio semakin parah. Mungkin ini karma yang telah lama menunggu untuk dikirimkan pada yang dituju. Namun rasa sakit ini tidak sebanding dengan penolakan demi penolakan yang dulu dilakukan Tio ketika Rayne meminta maaf dan berusaha untuk kembali dengannya. Itu dulu, cerita yang sudah berlalu dan tidak bisa diperbaiki lagi. Rasa sakit rayne membuatnya dewasa untuk memilih melepas Tio dan tetap menikah dengan Riza.
Rayne tidak bisa membayangkan jika dirinya setega itu meninggalkan Riza, pria yang membantunya bangkit dari bayang-bayang masa lalu hanya demi kembali ke masa lalu yang pernah membuatnya hidupnya hancur. Bagi Rayne, cinta bukanlah pengorbanan tapi cinta adalah kedewasaan yang menuntun kita memilih orang yang tepat untuk menjatuhkannya. Tidak ada lagi yang pantas untuk dikorbankan mengejar cinta yang semu jika cinta yang nyata itu benar adanya. Cinta bukan sekedar keinginan untuk memiliki, tapi cinta yang membuat kita merasa dimiliki.
Cinta rayne ke tio perlahan memudar karena waktu dan tertutup luka. Sudah tidak ada lagi yang harus diperjuangkan dan dipertahankan diantara mereka. Mungkin, ini saatnya rayne menutup kisah lama, dan menyembuhkan luka yang perlahan-lahan sembuh seiring pudarnya rasa cintanya. Rayne sudah yakin untuk menikah denga Riza dan membiarkan masa lalunya tetap terkubur dipantai itu.
“Ra, aku minta maaf. Mungkin ini sudah terlambat. Aku merasa malu karena memaksa kamu sebegini ngototnya. Walaupun rasa sakit itu makin membesar mendengar semua ucapan kamu tadi, tapi aku ga nyalahin kamu. Semoga kamu bahagia dengan Riza. Maaf kalau aku tidak menghadiri pernikahanmu nanti. Kamu pasti mengerti.” Tio pun pergi meninggalkan Rayne yang kini kembali duduk sendiri didermaga. Rayne memandangi kepergian Tio dengan sebuah senyum kemenangan dan berkata dalam hati “Boys, you have got a karma. Semoga kamu ga sampai depresi ya. Maafkan aku yang terlalu jahat, tapi memang aku udah ga sayang sama kamu.” :)
The End.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar