tio
menghampiri rayne yang sedang duduk seorang diri didermaga. Rayne tampak
terkejut namun masih bisa mengendalikan situasi.
“eh
yo, kok kamu kesini juga?”
“entah
ra, aku selama pulang dari bali tiap hari pasti kesini sekedar mampir atau
malah menghabiskan waktu hingga malam.”
“kamu
jangan disperate gitu dong mau aku tinggal nikah hehhe.” Canda rayne, namun
terdengar kaku.
“ya
tau sendiri ra, aku masih ga bisa maafin diri aku sendiri pernah mencampakkan
kamu gitu aja.”
“yo,
hidup tuh kedepan bukan kebelakang. Aku memang sayang sama kamu, tapi itu dulu.
Dulu sekali yo, jauh sebelum kamu muncul lagi dihidup aku dan membuat aku
sempat ragu untuk tetap menikah. Aku kini sadar yo, takdir, jodoh sebenarnya
ada ditangan kita sendiri. Ya, dulu kita pernah saling mengucap janji untuk
menikah. Tapi kamu malah memilih mengkhianati ketulusan aku, janji kita, mimpi
kita. Bukan aku ingin menyalahkan kamu yo. Aku sadar aku juga salah. Kita sama-sama
salah, tapi dulu yo, dulu sekali aku masih ngasih kamu kesempatan buat
memperbaiki hubungan kita. Tapi respon kamu apa? Kamu bilang kamu udah ga
sayang sama aku. katamu sudah tidak ada harapan buat kita. Ga ada yang bisa dan
harus diperbaiki kan yo? Disitu tuh aku merasa hancur banget yo. Setahun aku
berusaha bangkit dari rasa terpuruk dan kehilangan. Bukan hanya kamu aja yang
menyesal membuat keputusan sepihak. Akupun dulu menyesal yo. Aku menyesal
kenapa dulu aku maksain kamu ngasih kejelasan untuk hubungan kita toh saat itu
kita masih baik-baik pun harusnya aku bersyukur. Tapi sekarang aku sadar yo,
kita memang tidak ditakdirkan jalan beriringan. Walau sebenarnya bisa saja aku
memilih kembali ke kamu tapi tidak aku lakuin.”
“kenapa?”
tanya tio memelas.
“apa
yang kita alami sebelumnya seolah nunjukin ke aku, siapa yang pantas dan tidak
seharusnya aku pilih. Ya, berat memang buat memutuskan hal ini yo. Tapi aku
sekarang yakin untuk tetap menikah minggu depan. Bukan berarti aku sayang kamu
tapi aku ga sayang sama tunangan aku. aku sayang sama kamu, tapi itu dulu
sebelum kamu memilih buat ninggalin aku gitu aja.”
Tio
mematung mendengarkan semua isi hati rayne. Dia semakin merasa bersalah. Entah rayne
sengaja membuat sakit dihati Tio semakin parah. Mungkin ini karma yang telah lama
menunggu untuk dikirimkan pada yang dituju. Namun rasa sakit ini tidak
sebanding dengan penolakan demi penolakan yang dulu dilakukan Tio ketika Rayne
meminta maaf dan berusaha untuk kembali dengannya. Itu dulu, cerita yang sudah
berlalu dan tidak bisa diperbaiki lagi. Rasa sakit rayne membuatnya dewasa
untuk memilih melepas Tio dan tetap menikah dengan Riza.
Rayne
tidak bisa membayangkan jika dirinya setega itu meninggalkan Riza, pria yang
membantunya bangkit dari bayang-bayang masa lalu hanya demi kembali ke masa
lalu yang pernah membuatnya hidupnya hancur. Bagi Rayne, cinta bukanlah
pengorbanan tapi cinta adalah kedewasaan yang menuntun kita memilih orang yang
tepat untuk menjatuhkannya. Tidak ada lagi yang pantas untuk dikorbankan
mengejar cinta yang semu jika cinta yang nyata itu benar adanya. Cinta bukan
sekedar keinginan untuk memiliki, tapi cinta yang membuat kita merasa dimiliki.
Cinta
rayne ke tio perlahan memudar karena waktu dan tertutup luka. Sudah tidak ada
lagi yang harus diperjuangkan dan dipertahankan diantara mereka. Mungkin, ini
saatnya rayne menutup kisah lama, dan menyembuhkan luka yang perlahan-lahan
sembuh seiring pudarnya rasa cintanya. Rayne sudah yakin untuk menikah denga
Riza dan membiarkan masa lalunya tetap terkubur dipantai itu.
“Ra,
aku minta maaf. Mungkin ini sudah terlambat. Aku merasa malu karena memaksa
kamu sebegini ngototnya. Walaupun rasa sakit itu makin membesar mendengar semua
ucapan kamu tadi, tapi aku ga nyalahin kamu. Semoga kamu bahagia dengan Riza. Maaf
kalau aku tidak menghadiri pernikahanmu nanti. Kamu pasti mengerti.” Tio pun
pergi meninggalkan Rayne yang kini kembali duduk sendiri didermaga. Rayne memandangi
kepergian Tio dengan sebuah senyum kemenangan dan berkata dalam hati “Boys, you
have got a karma. Semoga kamu ga sampai depresi ya. Maafkan aku yang terlalu
jahat, tapi memang aku udah ga sayang sama kamu.” :)
The End.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar