Kamis, 12 September 2013

Pesan yang belum tersampaikan



Katamu jujur itu yang terpenting. Katamu, kau lebih suka jika aku sedikit terbuka.
Kata mereka pria tak pandai menebak. Kata mereka wanita tak pernah jujur.
Kataku aku baik-baik saja bahkan dengan begini. Kataku lebih baik diam jika bicara akan mengundang pertengkaran antara kita berdua.
Ya, aku menyimpan banyak hal untukku sendiri. Semenjak kau bilang kau tak suka melihatku menangis, bahkan tangispun aku sembunyikan dibalik punggungmu.
Kau bilang kau tak suka jika aku sedih. Bahkan sedihku pun aku sembunyikan dalam tawa saat kita bersama.
Bukan kamu yang membuatku menangis. Bukan kamu yang membuatku bersedih.
Mungkin ini hanya perasaan yang entah berasal dari symptom otak sebelah mana.
Hanya rangsangan visual dan auditori yang bahkan bagimu itu tidak penting untuk diperdebatkan yang menyebabkan itu semua. Bahkan jikalau aku bisa mengatur syptom di otakku untuk tidak memunculkan emosi tersebut aku akan melakukannya.
Apa aku masih belum berdamai dengan jarak? Mungkin.
Membayangkan untuk kembali membentang jarak denganmu saja aku sudah mual.
Rasanya seperti kau mendapat lotere kemudian hadiahnya di ambil lagi darimu.
Sakit bukan? Ya sangat sakit.
Bagimu aku terlalu berlebihan? Bagiku tak pernah ada yang salah soal cinta.
Cinta mampu membuatmu berlaku yang bagi orang itu sangat tidak wajar.
Ketika aku jatuh cinta yang aku tau hanya kamu.
Ketika aku jatuh cinta doa ku hanya merapal namamu.
Ketika aku jatuh cinta mimpiku hanya kamu.
Dan ketika aku sakit dan terluka itu bukan salahmu.
Kebodohanku yang membiarkan aku tersakiti.
Kebodohanku yang membiarkan diriku bersedih dan menangis.
Bahkan ketika kamu salah aku selalu membenarkan.
Bukan demi kamu, tapi demi kita.
Kalimat itu bahkan sudah berulang kali aku katakan.
Iya, berulang kali aku katakan walau dalam diam.
Aku bukan pengecut. Hanya saja sangat takut kehilangan lagi.
Kehilangan bagiku lebih menyakitkan dari mendapat ip rendah.
Kehilangan yang karena salahku bahkan bisa membuatku membenci diriku sendiri.
Bagiku “kita” adalah segalanya. Bahkan kamu tidak bisa membuatku merusaknya.
Bahkan diriku sendiri tidak akan kubiarkan untuk menghancurkannya.
Walau sebanyak apapun aku mengucapkan aku baik-baik saja yang berarti aku terluka, aku takkan pernah merusak ‘kita’.
Bahkan sebanyak apapun luka yang kusimpan walau tak tebendung aku akan tetap menjaga “kita”.
Saat diriku mendesak untuk egoispun aku menahan untuk “kita”.
Semoga “kita” akan baik-baik saja walaupun saat ini hubungan kita berjalan pincang seakan hanya aku yang bertahan sendirian.

Rabu, 05 Juni 2013

candu palsu (RINDU!)

saat rindu dinyalakan asapnya membakar hati
sel-sel rindu semakin menyempit memacu pilu yang kian mati
pikiran pun dipermainkan ego yang sakit jiwa
raga ini serasa terpisah dengan jiwanya
jiwa mengamuk menuntut rasa terbalas
dengan balasan yang tak menuntut balas
walau raga ini hanya bisa diam tak berkutik
suara suara berbisik
rindu hanya khayalanmu saja
jangan mau dipermainkan lara
pria saja tak pernah memikirkan rasa
jangan mau diperbudak pria
pria hanya budak nafsu
menjual janji-janji palsu
dengan mengobral cinta palsu
untuk memuaskan nafsu
itu bukan rindu
hanya sekadar candu palsu


Karma, ? (part.1)


Perasaan suka itu datang bukan hanya karena terbiasa namun karena kebutuhan untuk menyukai dan disukai. Itu yang dialami rayne pada teman sekelasnya tio. Sudah 2 minggu ia dan tio smsan namun setiap bertemu mereka seakan tidak saling mengenal. Rayne makin penasaran pada tio dan tanpa ia sadari ia suka pada tio. Tio cowo pendiam namun kadang nyebelin dan susah di tebak. Ini yang membuat rayne makin suka pada tio. Entah mungkin karena packaging tio yang sangat bagus. Tapi dalamnya hanya tio dan Tuhan yang tau.
Rayne sebenarnya bukan hanya tertarik pada Tio namun dia juga tertarik pada kakak kelas beda jurusan dengannya namun beberapa bulan belakangan Rayne dapat kabar bahwa kakak itu sudah punya pacar. Rayne lalu mengalihkan perhatiannya ke Tio walaupun sampai saat ini tidak ada kejelasan.
Tiga minggu berlalu barulah Tio dan Rayne makin akrab tidak hanya di sms tapi juga di kehidupan nyata. Dan tepat sebulan mereka dekat Tio dan Rayne pun memutuskan untuk pacaran. Entah ini terkesan terburu-buru tapi mereka berdua tidak suka berada dalam ketidakjelasan hubungan.
Hubungan rayne dan tio tidak berjalan mulus mereka harus LDR karena rayne memutuskan pindah kuliah dan mengulang dari semester awal di salah satu perguruan tinggi di ibu kota. Mimpi rayne menjadi seorang psikolog bukan seorang ilmuwan fisika seperti yang diimpikan Tio.
Seantero kampus tau Tio adalah anak cerdas yang punya gift menguasai rumus-rumus fisika sebelum diajarkan di kelas. Ya dia seperti keturunan Isac Newton dan Albert Enstein walaupun untuk urusan pacaran dia sama sekali masih awam dan Rayne adalah pacar pertama Tio.
Awal pacaran terlihat manis sama seperti yang lain. Tahun pertama mereka lalui dengan banyak cobaan di akhirnya dan mereka pun memutuskan untuk break. Beberapa bulan kemudian Rayne dan Tio bertemu. Mereka menyadari masih ada cinta yang tersisa dan belum terselesaikan diantara mereka, mereka pun kembali pacaran walaupun konsekuensinya harus LDR (lagi).
Tahun kedua mereka lalui begitu mulus walaupun sebenarnya Rayne menyimpan banyak unek-unek di hati. Rayne lebih sering mengalah saat bertengkar dan tidak ingin mengulang kejadian yang sama saat mereka break dulu.
Tahun ketiga masalah semakin rumit Tio makin sibuk dengan kegiatannya sebagai mahasiswa tingkat akhir  dan Rayne makin sibuk dengan tugas kuliahnya yang tidak pernah ada habisnya. Tio butuh pendamping yang nyata yang bisa mensupport dia mengerjakan tugas akhir namun Rayne jelas tidak bisa menyanggupi. Sementara Rayne butuh pacar yang memperhatikan dia ditengah kesibukannya dan karena Tio tipe cowok yang cuek Rayne pun hanya mampu bersabar.
Di tahun keempat saat Rayne sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir sementara Tio bekerja di sebuah perusahaan asing di kotanya. Rayne bisa memaklumi jika tidak ada waktu untuk mereka bermesraan walaupun hanya di telefon. Namun baginya hubungan ini hanya begini-begini saja tidak ada kejelasan akan kemana. Tio tidak pernah mengatakan apapun tentang masa depan hubungan mereka.
Rayne menyadari keadaan ini tidak bisa ia biarkan terus seperti ini. Bagi rayne, tio sudah cukup mapan untuk merencanakan pernikahan. Rayne terkadang menanyakan itu pada tio namun tio justru marah jika ditanyai hal tersebut. Entah karena apa.
Rayne tidak mau terus-terusan sabar dan mengalah sementara ia sendiri memiliki keinginan untuk menikah di usia muda. Baginya untuk apa berlama-lama pacaran jika kita sudah mampu lahir batin.  Rayne sadar sebentar lagi ia lulus kuliah melanjutkan sekolah lagi untuk menjadi psikolog dan artinya LDR mereka akan semakin lama.
Rayne tidak pernah menuntut banyak pada Tio. Rayne selalu mengerti keadaan Tio yang sibuk dengan pekerjaannya walaupun dia harus terabaikan. Namun masalah komitmen ini cukup membuat Rayne kesal dan tidak bisa bersabar lagi.
Rayne pun mengatakan pada Tio jika 6 bulan setelah ia lulus kuliah Tio belum juga memberikan kejelas hubungan mereka, Rayne lebih memilih memutuskan Tio dan mencari pria yang lain.  Tio hanya menanggapi dengan ucapan kita liat nanti saja kedepannya seperti apa.
Tepat setelah enam bulan kelulusan Rayne, Tio belum bertindak apa-apa. Rayne pun memutuskan Tio dan berjanji tidak akan pernah menghubunginya lagi. Tio seperti sudah bisa membaca keadaan dan tidak begitu shock mendengar keputusan Rayne. Tanpa ada rasa bersalah dan menyesal dari ekspresi Tio. Hal ini yang paling membuat Rayne sakit hati. Ia seakan hanya dipermainkan selama ini. Ada ataupun tidak ada dia baginya Tio akan baik-baik saja. Dan sepertinya seperti itu.
Setahun kemudian Tio mendapat kabar bahwa Rayne telah bertunangan dengan saudara jauh yang di jodohkan orangtuanya. Tunangan Rayne tinggal di Kanada sementara Rayne di Indonesia. Lagi-lagi Rayne LDR namun hubungannya saat ini sudah jelas. Entah kenapa Tio agak shock mendengar kabar tersbeut. Dia mengira tidak akan secepat itu. Tio cemburu namun ia sadar ini kesalahan dia setahun yang lalu yang telah melepas perempuan sebaik Rayne.
Tio lalu memutuskan menemui Rayne dan meminta maaf dan ia bersedia menikahi Rayne namun orangtua Rayne sudah sangat tidak suka pada Tio. Sementara Rayne akan menikah 3 bulan lagi setelah ia menyelesaikan sekolah profesi psikolognya.
Sebulan setelah pertemuan mereka, Rayne dan Tio kembali di pertemukan oleh semesta. Rayne sedang melakukan penelitian di pulau dewata sementara Tio sedang liburan menghilangkan kegalauannya. Mereka tanpa diduga menginap di hotel yang sama dan bertemu di lobi hotel tersebut. Tio yang melihat Rayne terlebih dahulu enggan menyapa, namun Rayne akhirnya menengok dan melihat Tio. Tanpa berpikir Rayne menghampiri Tio.
“eh yo, kok disini? Liburan ya? Ciee sama siapa?”
“mm iya lagi cuti nih dua minggu. Sendiri kok. Kamu sendiri ngapain?”
“aku ada urusan penelitian disini buat tesis aku nanti. Kok sendirian? Pacar kamu mana?”
“eh hehehhee masih dirahasiain sama semesta ra”
“hahhaaha ada-ada aja. eh ntar nikahan aku datang yak.”
“insyaallah”
“jangan insyaallah dong. Harus datang pokoknya di rumah kok ga di jakarta.”
“eh iya kalo ga ada kerjaan yah. Eh ntar malam ada janji ga? Diner yuk?”
“hah? Oh iya ntar aku kabarin kalo baliknya cepet yah. See you”
“eh oke bye.”
            Pertemuan yang singkat, obrolan yang singkat tapi kembali membuka luka lama yang hampir mengering di hati Tio. Rayne masih menjadi yang paling berharga bagi Tio. Rasa untuk merebut yang tadinya miliknya itu muncul kembali didalam diri Tio.
            Di perjalanan menuju universitas udayana Rayne melamun. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa semesta kembali mempertemukan mereka di sini di bali, tempat yang dulu mereka janji akan pergi berdua. Di saat dia akan menikah dua bulan lagi kenapa harus bertemu Tio? Hal ini sungguh membuat Rayne dilema.
            Sorenya Rayne memutuskan untuk diner dengan Tio. Mungkin ada hal yang harus mereka bicarakan. Harus ada yang mereka selesaikan tidak bisa terus-terusan seperti ini. Rayne sadar ini bisa merusak rencana pernikahan dia. Rayne tidak mau mengecewakan orang tuanya, dan tidak ingin kembali sakit hati.
            Jam 7 malam Tio menjemput Rayne di lobi hotel mereka lalu menuju pantai new kuta beach untuk dinner di salah satu resto disana. Setibanya di resto Tio tampak canggung namun Rayne berhasil memecah suasana yang dingin itu.
            “Yo kamu kok ngajak aku diner? Ada yang mau di omongi ya?”
            “eh iya ra. Ga papa kan? Tunangan kamu ga marah kan?”
            “Ga sih. Aku ga bilang ke dia ga sempet dia masih tidur kali secara disana masih tengah malam.”
            “Oh dia belum balik ke Indonesia ra?”
            “Belom tapi katanya sih 3 minggu lagi dia balik buat ngurus persiapan pernikahan kami”
            “oh gitu ya. Ra?”
            “iya tio, kenapa?
            “kamu mau ga nikah sama aku?”
            Rayne terdiam, dia shock mendengar ucapan Tio. Lalu dengan cepat ia menjawab permintaan Tio.
            “Tio, kamu sadar ga sih aku tuh sebulan lagi nikah. Ini tuh bukan main-main yo. Ini udah disiapin setahun sama keluargaku. Lagian aku udah ga ada rasa sama kamu. Aku udah ga berharap kita bisa sama-sama lagi”
            “ra, aku tau ini karena salahku. Tapi masa iya perasaan kamu ke aku udah benar-benar ga ada?”
            “Yo, kalaupun ada aku harus segera membunuh perasaan itu. Aku udah ngasih kamu kesempatan tapi malah kamu sia-siain yo. Tunangan aku yang sekarang beda sama kamu yo.”
            “Ra, tapi aku masih sayang sama kamu. Aku mau nikahnya sama kamu.”
            “Aku ga bisa. Maaf. Kamu tau aku tipe cewek yang setia.”
            “Kamu coba inget deh kita pernah janji mau kesini bareng dan kamu mau aku lamar di sini kan? Aku lagi memenuhi janjiku Ra.”
            “Tio maaf ya janji-janji kamu sekarang udah basi. Mending kamu cari cewek lain. Aku ga bisa.”
            “Ra, tapi aku cuman sayang sama kamu.”
            “tolong jangan paksa aku. Maaf.”
Rayne pun pergi meninggalkan Tio sendirian diresto itu. Impian Tio merebut Rayne musnah sudah. Rayne sudah bener-benar tidak menginginkan Tio kembali. Rayne sudah tenang dengan hidupnya yang sekarang walau tanpa Tio.
            Di perjalanan pulang menuju hotel Rayne menangis. Ia sebenarnya terluka melihat Tio seperti itu. Ia telah membohongi dirinya sendiri. Bagaimana mungkin hubungan yang lama antara mereka perasaannya bisa hilang hanya dalam setahun? Ini sungguh membuat Rayne bingung dan menyesal. Kenapa Tio tidak sadar sejak dulu. Kenapa haru sekarang? Kenapa di saat dia akan menikah Tio kembali datang dan ingin menebus semua janjinya? Bagi Rayne ini sudah terlambat. Mungkin ia harus menutup buku cerita dirinya dan Tio.
                                                           
                                                                                                                        Bersambung

Minggu, 17 Februari 2013

rindu ini (masih) untuk kamu

kita kembali menjadi kita
bukan hanya aku atau kamu
kita sempat melipat jarak mendekatkan cinta yang berarak
memecahkan rindu dengan bertemu
namun akhirnya kita kembali menguntai jarak
menciptakan rindu di sepanjang jalan
rindu yang tak pernah habis walau mentari bersinar terik
walau hujan turun membasahi bumi dan menyapu seluruh alam
walau angin bertiup kencang
rindu tetap disini tetap utuh dan semakin besar
rindu ini kembali menjadi candu
menyakitkan dan menyenangkan
rindu ini berbeda bukan lagi rindu sebelah tangan
rindu ini kamu
untuk kamu kekasih yang di pisahkan jarak ribuan kilometer
rindu ini untuk kamu
masih sama ketika ia pincang dan lalu utuh kembali
rindu ini masih menuju satu nama
untuk kamu dengan segala rindu yang semakin besar
aku menitipkan cinta dengan sejuta harap
harapan suatu saat kita akan kembali melipat jarak dan memecah rindu dengan bertemu

Sabtu, 02 Februari 2013

untitled

ragaku dan jiwaku akhirnya dituntun kembali
langkah ini menuntunku pulang
pulang ke kota kita, kota kita dulu
di sepanjang jalan ini tangispun pecah
aku memasang topeng tebal
menguatkan hati
disana nanti aku akan mencoba menjadi tak peka
seakan tak melihat bekas
serpihan kisah masa lalu
semoga hujan ini menghapus semuanya
menghapus rindu bahkan sisa cinta
yang masih menempel dihati

catatan saat aku pulang

rinai hujan membelai mesra jendela
mobil terus berpacu seperti jantung
yang kian cepat berpacu
ada resah dititipkan hujan siang ini
dinginny kian menusuk
memperbesar gundah yang perlahan
muncul setitik demi setitik di ruang hati
air mengalir meninggalkan bekas
menuju muara yang entah kemana
ada suara berbisik mendecit
seperti suara besi yang bergesekam
jangan takut ini hanya hujan
ini hanya air berkah dari semesta

Jumat, 01 Februari 2013

rindu dan hujan

air mata mengalir di tengah rinai hujan
samar memang tak terlihat
rindu kian membuncah ketika pemecah rindu
ada di ujung mata
tapi tak sanggup kau gapai dengan segala upayamu
rindu yang candu kian menjadi racun
racun yang merusak sebelah hati
atau bahkan dua hati sekaligus
rindu tak hanya butuh mata untuk saling menatap
lisan untuk saling berucap
rindu butuh pelukan pemecah rindu
rindu yang memuncak perlahan2 menjadi luka
membuat luka sang pemilik rindu dan yg dituju
aku tak mengerti mengapa rindu masih ada
ketika lisan berucap benci
karena aku tak sanggup membaca hati
hati yang kian abu-abu
karena terkena racun rindu
jangan pernah menanyakan mengapa aku menangis
mengapa aku merindu
mengapa aku masih berharap dan bertahan
ketika sejuta luka datang sebelumnya
aku menikmati rindu tapi aku tak menikmati luka
karena bagiku penikmat luka adalah pecandu cinta
aku mencinta bukan untuk menjadi candu
aku mencinta untuk kembali menjadi "kita"
kepada kamu yang selalu mengisi rindu
menjadikannya racun namun tetap ku cinta
walau aku tak benar paham apa itu cinta
rindu ini selalu untuk kamu
dalam rinai hujan ini biarkan rindu mencari celah menuju pemiliknya