sudah tujuh purnama
tapi kau belum kembali
telah habis rindu
tapi kau belum kembali
sudah menguap cinta
tapi kau belum kembali
mungkin memang sudah waktunya
waktu untuk kembali
kembali tidak berharap kau kembali
kembali menganggap kau tidak pernah ada
mungkin sudah waktunya
untuk berhenti merasa
untuk berhenti memikirkan
untuk berhenti berharap
semua tentangmu..
cinta cinta cinta
cinta itu sudah lama hilang
hanya aku yang merasa itu ada
dan hanya aku yang mengira kalau cintamu ada
aku memang gila terlalu lama berhalusinasi
terlalu lama menolak kenyataan
sayang... cinta itu sudah pergi..
tidak ada yang harus disesali
tidak ada yang perlu ditangisi
tidak ada yang harus diharapkan kembali
berakhir.. berakhir sudah
sejak dulu..
sejak pertama kali kau pergi..
bahkan yang kedua memang tak lagi sama
tak seperti yang pertama
karena sekali gelas pecah
tak akan pernah ia utuh seperti semula
selamat tinggal
jangan disesali
jangan ditangisi
tangis itu sudah habis sejak dulu,,
sejak kau pergi tujuh purnama yang lalu
-tiara-
Minggu, 09 November 2014
Senin, 22 September 2014
am i totally wrong?
saya tidak tahu apa sesungghnya yang sedang saya rasakan
kadang terasa sakit namun sesungguhnya senang
apa yang tadinya hilang, kini kembali walau tidak seutuhnya
tidak ada lagi kita dalam ikatan
hanya ada kita untuk sekedar pelampiasan kah?
tanpa komitmen tanpa tuntutan memang terasa menyenangkan
tapi terkadang takut akan kehilangan dna ditinggalkan justru begitu besar
karena tidak berhak rasanya aku menuntut untuk kau tetap tinggal dan tak kemana-mana
memang aku ini siapa?
kekasihmu pun bukan
hanya sekedar teman yang berperan layaknya kekasih
apakah kita sedang saling mempermainkan perasaan?
ataukah hanya perasaanku yang sedang kau permainkan?
aku betul-betul tidak paham
menjadi seperti sekarang ini saja sudah membuatku bahagia
walau terkadang terpikir untuk kembali saling terikat
tapi katamu justru ikatan yang menghancurkan kita
apalahaku hanya budak cinta yang rela dipermainkan
asalkan aku bahagia walau dibaliknya terluka aku tak apa
asalkan bersamamu walau tanpa komitmen tanpa ikatan,
aku akan selalu baik-baik saja..
walaupun kata orang ini salah aku tak peduli
apakah aku sepenuhnya salah? tidak. cinta tidak pernah salah :)
with.LOVE
Tiara
kadang terasa sakit namun sesungguhnya senang
apa yang tadinya hilang, kini kembali walau tidak seutuhnya
tidak ada lagi kita dalam ikatan
hanya ada kita untuk sekedar pelampiasan kah?
tanpa komitmen tanpa tuntutan memang terasa menyenangkan
tapi terkadang takut akan kehilangan dna ditinggalkan justru begitu besar
karena tidak berhak rasanya aku menuntut untuk kau tetap tinggal dan tak kemana-mana
memang aku ini siapa?
kekasihmu pun bukan
hanya sekedar teman yang berperan layaknya kekasih
apakah kita sedang saling mempermainkan perasaan?
ataukah hanya perasaanku yang sedang kau permainkan?
aku betul-betul tidak paham
menjadi seperti sekarang ini saja sudah membuatku bahagia
walau terkadang terpikir untuk kembali saling terikat
tapi katamu justru ikatan yang menghancurkan kita
apalahaku hanya budak cinta yang rela dipermainkan
asalkan aku bahagia walau dibaliknya terluka aku tak apa
asalkan bersamamu walau tanpa komitmen tanpa ikatan,
aku akan selalu baik-baik saja..
walaupun kata orang ini salah aku tak peduli
apakah aku sepenuhnya salah? tidak. cinta tidak pernah salah :)
with.LOVE
Tiara
Selasa, 10 Juni 2014
gadis berbibir merah jambu
Gadis bermata cokelat,
bibirnya merah jambu
memandang langit dengan sayu
menekuk wajahnya menahan kalut
bibirnya kelu menahan getir hidup
ditangannya ada sepucuk surat
dengan kertas yang sudah kust
mungkin bekas diremas kuat-kuat.
kalender bertanda silang ditiap tanggalnya, tergeletak disebelahnya
rupanya ia sedang menghitung hari,
mungkin menunggu, entah apa
entah sejak kapan, entah sampai kapan..
gadis berwajah sendu, dengan bibir merah jambu
masih menatap langit
meremas kertas ditangannya sesekali
sesekali ia menatap jam dinding
sesekali ia menghitung hari dikalender
gadis berkulit putih berparas jelita dengan bibir merah jambu,
ia masih saja gelisah
matanya berkaca-kaca
bibirnya bergetar lirih
rupanya ia menahan tangis
ia tak lagi menatap langit
rupanya awan hitam disana mulai berganti senja merah menyala
gadis bermata sipit dengan bibir merah jambu
kini memunggungi langit yang merona merah menyala
seakan ia takut kejelitaannya tersaingi
gadis bermata coklat dengan bibir merah jambu,
kini ia sibuk menghitung hari yg berlalu dikalender
sambil sesekali melihat jam dinding
sepanjang hari, sampai ia jatuh tertidur disisi jendela
gadis berbibir merah jambu masih terus menunggu
menghitung hari yang dijanjikan akan tiba
menunggu entah sudah berapa lama
entah sampai kapan...
bibirnya merah jambu
memandang langit dengan sayu
menekuk wajahnya menahan kalut
bibirnya kelu menahan getir hidup
ditangannya ada sepucuk surat
dengan kertas yang sudah kust
mungkin bekas diremas kuat-kuat.
kalender bertanda silang ditiap tanggalnya, tergeletak disebelahnya
rupanya ia sedang menghitung hari,
mungkin menunggu, entah apa
entah sejak kapan, entah sampai kapan..
gadis berwajah sendu, dengan bibir merah jambu
masih menatap langit
meremas kertas ditangannya sesekali
sesekali ia menatap jam dinding
sesekali ia menghitung hari dikalender
gadis berkulit putih berparas jelita dengan bibir merah jambu,
ia masih saja gelisah
matanya berkaca-kaca
bibirnya bergetar lirih
rupanya ia menahan tangis
ia tak lagi menatap langit
rupanya awan hitam disana mulai berganti senja merah menyala
gadis bermata sipit dengan bibir merah jambu
kini memunggungi langit yang merona merah menyala
seakan ia takut kejelitaannya tersaingi
gadis bermata coklat dengan bibir merah jambu,
kini ia sibuk menghitung hari yg berlalu dikalender
sambil sesekali melihat jam dinding
sepanjang hari, sampai ia jatuh tertidur disisi jendela
gadis berbibir merah jambu masih terus menunggu
menghitung hari yang dijanjikan akan tiba
menunggu entah sudah berapa lama
entah sampai kapan...
Jumat, 06 Juni 2014
kenangan dalam peti mati
aku
pernah menyimpan cinta dan menanamnya dihalaman hati
aku
pernah memupuk cinta hingga berbunga indah
aku
pernah memetik bunga cinta menaruhnya dalam gelas kaca
mengganti airnya tiap hari
memangkas
bagian yang busuk biar tak merusak tubuhnya
aku
memberi cinta pada bunga cinta dalam gelas kaca setiap hari
dengan
cinta ku pikir cukup membuat bunga itu hidup
sayang,
aku salah
perlahan
bagian yang busuk semakin banyak
bunga
cinta yang dulu berkelopak indah kini mulai layu
semakin
hari indahnya semakin sirna
padahal
semakin hari cintaku tak pernah berubah bahkan bertambah untuknya
aku
ingin mempertahankannya walau sampai ia benar-benar mati
aku
ingin menyimpannya walau ia tidak lagi tumbuh,
tapi
itu dulu..
dulu
sebelum aku paham bahwa yang ingin pergi tak seharusnya ditahan
sebelum
aku sadar yang tidak lagi berarti tidak semestinya disimpan..
kelopak-kelopaknya
sudah ku satukan lagi..
bukan
untuk kurawat..
aku
ingin menyimpan bunga cinta yang mati ini didalam peti mati..
biarkan
ia terkubur dalam-dalam..
mengubur
kenangan-kenangan yang menyertainya...
membawa
semua gundah kedalam liang lahatnya..
ku biarkan ia tenang didalm peti matinya..
tanpa
pernah lagi mengusiknya..
membiarkannya
terkubur bersama cinta yang mati.
T.
Kamis, 05 Juni 2014
pekat yang begitu lekat
saya
tidak mampu lagi mendefinisikan apa yang saya rasakan saat ini. tidak cukup
kata lelah, jemu, jenuh, untuk menjelaskannya. mungkin ini waktu dimana saya
merasa sudah sampai dititik kemampuan untuk bersabar. mungkin sudah habis
masanya untuk merasa kuat dan mampu. sudah saatnya untuk meluapkan apa yang
tidak pernah tersampaikan.
saya
pikir merasa kuat merasa bisa merasa mampu itu cukup untuk menghadapi segala
macam tantangan kehidupan.. saya salah.. bahkan usaha pun tidak cukup membuat
saya bertahan dengan ketegaran.. saya tidak paham apa yang kurang dari segala
usaha saya..
saya
tidak pernah lupa dengan Tuhan yang maha penguji hambanya. saya juga tidak
pernah lupa untuk bertindak daripada hanya memikirkan masalah..
kurang
apa dari segala usaha saya selama ini?
kenapa
lelah itu kini mencapai titik terjenuh nya?
Tuhan
memang tidak menjanjikan tidak akan menguji hambanya dengan ujian yang tidak
bisa hambanya lalui.. lantas apa yang saya rasakan kali ini? kenapa saya merasa
berada dititik teertinggi kemampuan saya untuk menghadapi semua pelajaran hidup
yang datang silih berganti, tapi rasanya saya sudah tidak sanggup lagi menghadapi
apa yang akan datang esok hari?
bukan
masalah cinta yang membuat saya akhirnya merasa paling lemah.. patah hati
hanya cerita lama.. bahkan gelombang ini lebih dahsyat menghanyutkan
kekuatan saya ke pulau anta berantah dan menenggelamkan semangat saya
untuk bertahan..
ternyata
begini rasanya merasa tidak berdaya.. bukan lagi karena patah hati.. itu
cerita beda dimensi.. beda masa... bukan lagi saatnya..
rasanya
ingin menyerah dan melepaskan semuanya..
tapi
bagaimana perasaan ayah ibu disana? mereka mengharapkan lebih dari ini.. tapi
bahkan mereka pun tidak mampu menguatkan, justru membuat semakin merasa
bersalah dan kian terpuruk...
bagaimana
caranya untuk kembali bangkit melawan perasaan dan hasrat ingin lenyap dari
muka bumi ini?
rasanya
ingin rehat sejenak dari kenyataan hidup.. melupakan sejenak apa yang menunggu
dihadapi.. rasanya ingin pergi ke negeri antah berantah tanpa membawa beban
hidup sedikit pun..
ini
lelah ini rindu yang ingin bebas... tapi inilah hidup yang minta dihadapi
dengan sejuta pelajarannya yang kadang membuat senang dan sedih..
mungkin
sekarang lebih baik berpura-pura mampu daripada menunjukkan ketidakmampuan itu
sendiri.. malu rasanya sama hidup.. walau memang sudah lelah dan ingin pergi tapi
belum saatnya.. sebelum membuat ayah ibu bangga dan mengakui kemampuan saya,
saya harus mampu bertahan dengan kepura-puraan merasa kuat..
T.
Rabu, 30 April 2014
waktukah yang melambat?
Seminggu
yang lalu saat kuliah konseling, buku yang sudah ku tutup rapat-rapat
kembali di buka. Bukan salah dosen konseling yang menanyakan hal yang
menyakitkan itu. Namun memang aku yang berusaha menghindar dari perasaan sakit dan
kenyataan yang pahit.Luka yang sebenarnya belum sembuh itu kembali dikorek.
Sakit sekali. Rasanya sama seperti pertama kali mendapatkannya. Perih.
Siang itu dosen konseling menanyakan bagaimana
rasanya kehilangan? Aku menjawab dengan terbata, gemetar, tanganku dingin dan
hanya mampu menjawab lirih. Sakit pak, sedih, bingung, tidak tahu harus
bagaimana. Jawabku sejujurnya. Ya memang seperti itu rasanya walau masih banyak
perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Ketika ditanya bagaimana caraku mengatasi
kehilangan itu, aku bingung. Jujur aku lebih memilih pura-pura lupa daripada
harus mengikhlaskannya. Aku sendiri belum mampu mengatasi kehilangan yang
kualami. Akupun menjawab sekenanya. Dengan curhat keteman dan menulis kataku.
Tulisanku pun tak ada satupun yang tidak menunjukkan perasaan negatif yang
sedang kualami.
Tidak adil memang jika kita berbagi energi negatif
ke orang lain. Walaupun sebenarnya niatku hanya meluapkan emosi kedalam
tulisan. Aku tidak bermaksud membuat orang lain terhanyut merasakan pesan
negatif dari tulisanku. Aku tidak ingin orang bersedih atas apa yang kualami.
Aku hanya ingin menjadikan menulis sebagai terapi menyembuhkan luka sayatan
yang begitu dalam. Walau memang tidak semudah itu. Aku harap seiring waktu
berlalu ia akan sembuh.
Jujur aku lelah. Pikiran dan perasaaan ini begitu
mengganggu aktifitasku. Ini sudah melebihi batas wajar ketika jam tidurku pun
hanya sedikit setiap harinya. Kesehatanku apa kabar? Konsentrasi belajarku juga
terganggu. Padahal tidak ada gunanya aku merisaukan hal yang tidak
menguntungkan bagiku.
Kesakitan dan kebingungan. Itu yang aku rasakan.
Aku tidak tahu haus berbuat apa melawan ini semua. Rasanya tidak ada yang paham
dengan yang kurasakan. Kehilangan itu begitu menyakitkan. Bahkan lebih sakit
dari ditinggal mati oleh orang yang kau kasihi.
Apa yang sebenarnya ada namun kini menjadi tidak
ada. Aku kehilangan sosok yang menjadi sandaran ketika sedih dan berbagi tawa
bersama.
Kenapa dia pergi tanpa rasa bersalah dan
meninggalkan apa yang harusnya dia jaga? Bukankah cinta yang selalu membuat
kita bertahan? Memang, katanya cinta itu telah mati. Lantas kenapa tidak ada
usaha menumbuhkan cinta sebelum ia benar-benar mati? Bukankah memang tidak ada
cinta yang abadi? Cinta ayah ibuku pun tetap bertahan karena komitmen dan
kesetiaan. Bukan berarti cinta diantara mereka tidak memudar. Tapi mereka
berusaha tetap menumbuhkan cinta yang kian hari menua bersama mereka.
Tidak bisakah kita belajar dari orang tua kita?
Bukankah kau pernah menjanjikan menjadikanku yang pertama dan terakhir?
Kenapa kau pernah mengucap itu jika tidak sanggup memenuhinya? Bukankah itu
adalah hutang? Lantas haruskah aku menagih janji? Atau kah aku lebih baik
menganggap janji itu tidak lagi berlaku?
Dulu sebelum aku banyak berharap, kau menjanjikanku
banyak hal. Bercerita seakan memang kita adalah jodoh. Namun ketika aku mulai
berharap kita berjodoh, diam-diam kau membunuh cinta diantara kita. Dan tanpa
kutahu aku ternyata mencintai sebelah tangan yang tidak lagi berbalas.
Aku sadar aku tidak seharusnya begitu larut. Tapi
aku tidak kuasa menghentikan otakku untuk tidak berpikir dan mematikan hatiku
untuk tidak merasa. Mereka seakan berkonfrontasi membuatku semakin terpuruk.
Bantu
aku menghentikan semua ini. Masa depanku begitu panjang jika harus dirusak oleh
hal seperti ini. Aku tahu hanya Tuhan yang mengerti dan memahami. Tapi ia pun
membiarkan mandiri menyelesaikan ini. Aku tahu ini adalah teguran karena
dosa-dosaku. Lalu sampai kapan aku sanggup bertahan? Rasanya waktu berjalan
begitu lambat.
Kamis, 24 April 2014
ikhlas itu seberat baja
katanya kalau kita sudah mampu menertawakan masa lalu berarti kita sudah berdamai dengan masalah yang ada didalamnya. begitukah?
puluhan hari sudah berlalu setelah masalah yang muncul memaksaku berpisah dengan apa yang dulunya sangat ku sayangi. namun entah kenapa rasanya peristiwa itu masih kemarin sore. ingatan itu masih lekat mengingat pertengkaran melalui telfon hingga membuatku benar-benar menangis semalam. bahkan tiga malam.
hahahhaa kenapa drama percintaan ini terlalu dramatis rasanya?
rasanya baru kemarin dia malu-malu mengajak ku jalan berdua sebelum aku berangkat ke jakarta. bahkan kita belum pacaran. masih jelas juga ketika sehari setelah pengumuman SNMPTN yang menyatakan aku LULUS dan berarti kita berpisah sebagai sahabat, dia menangis semalaman. ya, dia menangis karena takut bahwa kita yang saat itu sudah saling merasa nyaman untuk bersama akan jadi berbeda jika harus berpisah. sering setiap aku pulang dia meminta agar aku tidak lagi pergi kemana-mana.
pacaran dengan harus menjalani LDR dalam waktu yang terbilang lama memang sangat sayang jika harus berakhir. tapi, kenapa harus dipertahankan jika hanya sebelah pihak yang bertahan? tidak akan pernah adil rasanya.masing-masing kita berhak memiliki kebahagiaannya walau salah satu harus merasakan sakit yang mendalam.
tidak masalah bagiku jika harus berkorban. toh masalah ini membuatku belajar banyak hal. membuatku semakin dewasa dalam menghadapi apapun. takdir ku memang menjadi perempuan tangguh yang mandiri. tidak untuk selalu bergantung kepada pria.
memang awalanya tidak terhitung berapa puluh ribu pulsa yang kuhabiskan untuk memohon memperbaikin keadaan. namun sayang, pengorbanan itu tidak memberiku balasan yang kuinginkan. sakit memang tapi tidak selamanya rasa itu akan tetap disitu. walaupun sayatannya dalam, suatu saat dia juga akan sembuh. walaupun tidak ada yang tahu kapan pastinya.
kehilangan membuatku lebih dekat kepada yang paling mencintaiku. mungkin ini teguran dariNya karena cinta manusia membuatku berpaling dariNya. dia yang paling mencintaiku tidak ingin kuduakan. Dia memberikan masalah yang membuatku kembali memohon kasih dan pertolonganNya. Dia yang tidak akan pernah meninggalkanku dan selalu mencintaiku.
lantas kapan aku akan berdamai dengan masa lalu dan masalahnya? mungkin sudah kulakukan. mungkin belum.
aku terkadang menertawakan masa lalu yang indah yang tanpa sengaja terkenang. entah melalui foto atau tulisan.dan ketika aku bertemu potongan masa lalu yang menyakitkan membuatku tidak bisa tidur semalaman. rasa sakit itu menjalar keseluruh pembuluh darah. rasanya tidak ada hasrat untuk melakukan apapun selain menangis.
kapan masalalu yang menyakitkan mau datang menyalamiku dan mengucap maaf? ataukah aku yang harus memaafkan walau dia tidak meminta? bukan tidak mau, tapi berat rasanya.
bisakah kita berdamai dengan masalah yang membuat kita menjadi orang yang berbeda yang bukan kita seharusnya. yang mengacaukan sebagian besar harapan kita?
walau tidak selamanya masalalu menyakitkan. walau ia bisa mengajarkan banyak hal. masih berat rasanya untuk melepas maaf dan mengikhlaskan. ya rasanya ikhlas itu seberat baja. berat. entah kenapa.
Oh ya dan satu lagi kenapa orang lain sering merasa paling benar menganggap kita yang baru kehilangan terlalu terpuruk akan masalah yang kita hadapi? kenapa mereka menganggap kita yang sengaja membuat diri kita terjebak didalam masalah itu sendiri? kenapa orang lain dengan mudahnya mengatakn, "yaudah lupain aja", hey kehilangan tidak seperti kenalan baru yang tidak berkesan yang baru semenit kita sudah lupa namanya. ikhlas? ya aku tahu, tapi itu berat. jangan pernah merasa paling benar dan paling tau harus berbuat apa untuk masalah orang lain. JANGAN.
Oh ya dan satu lagi kenapa orang lain sering merasa paling benar menganggap kita yang baru kehilangan terlalu terpuruk akan masalah yang kita hadapi? kenapa mereka menganggap kita yang sengaja membuat diri kita terjebak didalam masalah itu sendiri? kenapa orang lain dengan mudahnya mengatakn, "yaudah lupain aja", hey kehilangan tidak seperti kenalan baru yang tidak berkesan yang baru semenit kita sudah lupa namanya. ikhlas? ya aku tahu, tapi itu berat. jangan pernah merasa paling benar dan paling tau harus berbuat apa untuk masalah orang lain. JANGAN.
-tiara-, ditulis dengan segenap rasa sakit
dan setitik cinta yang tersisa.
Langganan:
Postingan (Atom)