Minggu, 09 November 2014

Tujuh purnama, berakhir sudah

sudah tujuh purnama
tapi kau belum kembali
telah habis rindu
tapi kau belum kembali
sudah menguap cinta
tapi kau belum kembali
mungkin memang sudah waktunya
waktu untuk kembali
kembali tidak berharap kau kembali
kembali menganggap kau tidak pernah ada
mungkin sudah waktunya
untuk berhenti merasa
untuk berhenti memikirkan
untuk berhenti berharap
semua tentangmu..

cinta cinta cinta
cinta itu sudah lama hilang
hanya aku yang merasa itu ada
dan hanya aku yang mengira kalau cintamu ada
aku memang gila terlalu lama berhalusinasi
terlalu lama menolak kenyataan
sayang... cinta itu sudah pergi..

tidak ada yang harus disesali
tidak ada yang perlu ditangisi
tidak ada yang harus diharapkan kembali
berakhir.. berakhir sudah
sejak dulu..
sejak pertama kali kau pergi..
bahkan yang kedua memang tak lagi sama
tak seperti yang pertama
karena sekali gelas pecah
tak akan pernah ia utuh seperti semula

selamat tinggal
jangan disesali
jangan ditangisi
tangis itu sudah habis sejak dulu,,
sejak kau pergi tujuh purnama yang lalu


-tiara-

Senin, 22 September 2014

am i totally wrong?

saya tidak tahu apa sesungghnya yang sedang saya rasakan
kadang terasa sakit namun sesungguhnya senang
apa yang tadinya hilang, kini kembali walau tidak seutuhnya
tidak ada lagi kita dalam ikatan
hanya ada kita untuk sekedar pelampiasan kah?
tanpa komitmen tanpa tuntutan memang terasa menyenangkan
tapi terkadang takut akan kehilangan dna ditinggalkan justru begitu besar
karena tidak berhak rasanya aku menuntut untuk kau tetap tinggal dan tak kemana-mana
memang aku ini siapa?
kekasihmu pun bukan
hanya sekedar teman yang berperan layaknya kekasih
apakah kita sedang saling mempermainkan perasaan?
ataukah hanya perasaanku yang sedang kau permainkan?
aku betul-betul tidak paham
menjadi seperti sekarang ini saja sudah membuatku bahagia
walau terkadang terpikir untuk kembali saling terikat
tapi katamu justru ikatan yang menghancurkan kita
apalahaku hanya budak cinta yang rela dipermainkan
asalkan aku bahagia walau dibaliknya terluka aku tak apa
asalkan bersamamu walau tanpa komitmen tanpa ikatan,
aku akan selalu baik-baik saja..
walaupun kata orang ini salah aku tak peduli
apakah aku sepenuhnya salah? tidak. cinta tidak pernah salah :)


with.LOVE

Tiara

Selasa, 10 Juni 2014

gadis berbibir merah jambu

Gadis bermata cokelat,
bibirnya merah jambu
memandang langit dengan sayu
menekuk wajahnya menahan kalut
bibirnya kelu menahan getir hidup
ditangannya ada sepucuk surat
dengan kertas yang sudah kust
mungkin bekas diremas kuat-kuat.
kalender bertanda silang ditiap tanggalnya, tergeletak disebelahnya
rupanya ia sedang menghitung hari,
mungkin menunggu, entah apa
entah sejak kapan, entah sampai kapan..

gadis berwajah sendu, dengan bibir merah jambu
masih menatap langit
meremas kertas ditangannya sesekali
sesekali ia menatap jam dinding
sesekali ia menghitung hari dikalender

gadis berkulit putih berparas jelita dengan bibir merah jambu,
ia masih saja gelisah
matanya berkaca-kaca
bibirnya bergetar lirih
rupanya ia menahan tangis
ia tak lagi menatap langit
rupanya awan hitam disana mulai berganti senja merah menyala

gadis bermata sipit dengan bibir merah jambu
kini memunggungi langit yang merona merah menyala
seakan ia takut kejelitaannya tersaingi

gadis bermata coklat dengan bibir merah jambu,
kini ia sibuk menghitung hari yg berlalu dikalender
sambil sesekali melihat jam dinding
sepanjang hari, sampai ia jatuh tertidur disisi jendela

gadis berbibir merah jambu masih terus menunggu
menghitung hari yang dijanjikan akan tiba
menunggu entah sudah berapa lama
entah sampai kapan...

Jumat, 06 Juni 2014

kenangan dalam peti mati

aku pernah menyimpan cinta dan menanamnya dihalaman hati
aku pernah memupuk cinta hingga berbunga indah
aku pernah memetik bunga cinta menaruhnya dalam gelas kaca
mengganti airnya tiap hari
memangkas bagian yang busuk biar tak merusak tubuhnya
aku memberi cinta pada bunga cinta dalam gelas kaca setiap hari
dengan cinta ku pikir cukup membuat bunga itu hidup
sayang, aku salah
perlahan bagian yang busuk semakin banyak
bunga cinta yang dulu berkelopak indah kini mulai layu
semakin hari indahnya semakin sirna
padahal semakin hari cintaku tak pernah berubah bahkan bertambah untuknya
aku ingin mempertahankannya walau sampai ia benar-benar mati
aku ingin menyimpannya walau ia tidak lagi tumbuh, 
tapi itu dulu..
dulu sebelum aku paham bahwa yang ingin pergi tak seharusnya ditahan
sebelum aku sadar yang tidak lagi berarti tidak semestinya disimpan..
kelopak-kelopaknya sudah ku satukan lagi..
bukan untuk kurawat..
aku ingin menyimpan bunga cinta yang mati ini didalam peti mati..
biarkan ia terkubur dalam-dalam..
mengubur kenangan-kenangan yang menyertainya...
membawa semua gundah kedalam liang lahatnya..
ku biarkan ia tenang didalm peti matinya..
tanpa pernah lagi mengusiknya..
membiarkannya terkubur bersama cinta yang mati.


T.

Kamis, 05 Juni 2014

pekat yang begitu lekat

saya tidak mampu lagi mendefinisikan apa yang saya rasakan saat ini. tidak cukup kata lelah, jemu, jenuh, untuk menjelaskannya. mungkin ini waktu dimana saya merasa sudah sampai dititik kemampuan untuk bersabar. mungkin sudah habis masanya untuk merasa kuat dan mampu. sudah saatnya untuk meluapkan apa yang tidak pernah tersampaikan.
saya pikir merasa kuat merasa bisa merasa mampu itu cukup untuk menghadapi segala macam tantangan kehidupan.. saya salah.. bahkan usaha pun tidak cukup membuat saya bertahan dengan ketegaran.. saya tidak paham apa yang kurang dari segala usaha saya..
saya tidak pernah lupa dengan Tuhan yang maha penguji hambanya. saya juga tidak pernah lupa untuk bertindak daripada hanya memikirkan masalah..
kurang apa dari segala usaha saya selama ini?
kenapa lelah itu kini mencapai titik terjenuh nya?
Tuhan memang tidak menjanjikan tidak akan menguji hambanya dengan ujian yang tidak bisa hambanya lalui.. lantas apa yang saya rasakan kali ini? kenapa saya merasa berada dititik teertinggi kemampuan saya untuk menghadapi semua pelajaran hidup yang datang silih berganti, tapi rasanya saya sudah tidak sanggup lagi  menghadapi apa yang akan datang esok hari?
bukan masalah cinta yang membuat saya akhirnya merasa  paling lemah.. patah hati hanya cerita lama.. bahkan gelombang ini lebih dahsyat menghanyutkan kekuatan saya ke pulau anta berantah dan menenggelamkan semangat saya untuk bertahan..
ternyata begini rasanya merasa tidak berdaya.. bukan lagi karena patah hati.. itu cerita beda dimensi.. beda masa... bukan lagi saatnya..
rasanya ingin menyerah dan melepaskan semuanya.. 
tapi bagaimana perasaan ayah ibu disana? mereka mengharapkan lebih dari ini.. tapi bahkan mereka pun tidak mampu menguatkan, justru membuat semakin merasa bersalah dan kian terpuruk...
bagaimana caranya untuk kembali bangkit melawan perasaan dan hasrat ingin lenyap dari muka bumi ini?
rasanya ingin rehat sejenak dari kenyataan hidup.. melupakan sejenak apa yang menunggu dihadapi.. rasanya ingin pergi ke negeri antah berantah tanpa membawa beban hidup sedikit pun..
ini lelah ini rindu yang ingin bebas... tapi inilah hidup yang minta dihadapi dengan sejuta pelajarannya yang kadang membuat senang dan sedih..
mungkin sekarang lebih baik berpura-pura mampu daripada menunjukkan ketidakmampuan itu sendiri.. malu rasanya sama hidup.. walau memang sudah lelah dan ingin pergi tapi belum saatnya.. sebelum membuat ayah ibu bangga dan mengakui kemampuan saya, saya harus mampu bertahan dengan kepura-puraan merasa kuat..

T.

Rabu, 30 April 2014

waktukah yang melambat?

Seminggu yang lalu saat kuliah konseling, buku yang sudah ku tutup rapat-rapat kembali di buka. Bukan salah dosen konseling yang menanyakan hal yang menyakitkan itu. Namun memang aku yang berusaha menghindar dari perasaan sakit dan kenyataan yang pahit.Luka yang sebenarnya belum sembuh itu kembali dikorek. Sakit sekali. Rasanya sama seperti pertama kali mendapatkannya. Perih.
Siang itu dosen konseling menanyakan bagaimana rasanya kehilangan? Aku menjawab dengan terbata, gemetar, tanganku dingin dan hanya mampu menjawab lirih. Sakit pak, sedih, bingung, tidak tahu harus bagaimana. Jawabku sejujurnya. Ya memang seperti itu rasanya walau masih banyak perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Ketika ditanya bagaimana caraku mengatasi kehilangan itu, aku bingung. Jujur aku lebih memilih pura-pura lupa daripada harus mengikhlaskannya. Aku sendiri belum mampu mengatasi kehilangan yang kualami. Akupun menjawab sekenanya. Dengan curhat keteman dan menulis kataku. Tulisanku pun tak ada satupun yang tidak menunjukkan perasaan negatif yang sedang kualami.
Tidak adil memang jika kita berbagi energi negatif ke orang lain. Walaupun sebenarnya niatku hanya meluapkan emosi kedalam tulisan. Aku tidak bermaksud membuat orang lain terhanyut merasakan pesan negatif dari tulisanku. Aku tidak ingin orang bersedih atas apa yang kualami. Aku hanya ingin menjadikan menulis sebagai terapi menyembuhkan luka sayatan yang begitu dalam. Walau memang tidak semudah itu. Aku harap seiring waktu berlalu ia akan sembuh.
Jujur aku lelah. Pikiran dan perasaaan ini begitu mengganggu aktifitasku. Ini sudah melebihi batas wajar ketika jam tidurku pun hanya sedikit setiap harinya. Kesehatanku apa kabar? Konsentrasi belajarku juga terganggu. Padahal tidak ada gunanya aku merisaukan hal yang tidak menguntungkan bagiku.
Kesakitan dan kebingungan. Itu yang aku rasakan. Aku tidak tahu haus berbuat apa melawan ini semua. Rasanya tidak ada yang paham dengan yang kurasakan. Kehilangan itu begitu menyakitkan. Bahkan lebih sakit dari ditinggal mati oleh orang yang kau kasihi.
Apa yang sebenarnya ada namun kini menjadi tidak ada. Aku kehilangan sosok yang menjadi sandaran ketika sedih dan berbagi tawa bersama.
Kenapa dia pergi tanpa rasa bersalah dan meninggalkan apa yang harusnya dia jaga? Bukankah cinta yang selalu membuat kita bertahan? Memang, katanya cinta itu telah mati. Lantas kenapa tidak ada usaha menumbuhkan cinta sebelum ia benar-benar mati? Bukankah memang tidak ada cinta yang abadi? Cinta ayah ibuku pun tetap bertahan karena komitmen dan kesetiaan. Bukan berarti cinta diantara mereka tidak memudar. Tapi mereka berusaha tetap menumbuhkan cinta yang kian hari menua bersama mereka.
Tidak bisakah kita belajar dari orang tua kita? Bukankah kau pernah menjanjikan menjadikanku yang pertama dan terakhir? Kenapa kau pernah mengucap itu jika tidak sanggup memenuhinya? Bukankah itu adalah hutang? Lantas haruskah aku menagih janji? Atau kah aku lebih baik menganggap janji itu tidak lagi berlaku?
Dulu sebelum aku banyak berharap, kau menjanjikanku banyak hal. Bercerita seakan memang kita adalah jodoh. Namun ketika aku mulai berharap kita berjodoh, diam-diam kau membunuh cinta diantara kita. Dan tanpa kutahu aku ternyata mencintai sebelah tangan yang tidak lagi berbalas.
Aku sadar aku tidak seharusnya begitu larut. Tapi aku tidak kuasa menghentikan otakku untuk tidak berpikir dan mematikan hatiku untuk tidak merasa. Mereka seakan berkonfrontasi membuatku semakin terpuruk.
Bantu aku menghentikan semua ini. Masa depanku begitu panjang jika harus dirusak oleh hal seperti ini. Aku tahu hanya Tuhan yang mengerti dan memahami. Tapi ia pun membiarkan mandiri menyelesaikan ini. Aku tahu ini adalah teguran karena dosa-dosaku. Lalu sampai kapan aku sanggup bertahan? Rasanya waktu berjalan begitu lambat.

                                                                                                                                   -tiara-

Kamis, 24 April 2014

ikhlas itu seberat baja

katanya kalau kita sudah mampu menertawakan masa lalu berarti kita sudah berdamai dengan masalah yang ada didalamnya. begitukah?

puluhan hari sudah berlalu setelah masalah yang muncul memaksaku berpisah dengan apa yang dulunya sangat ku sayangi. namun entah kenapa rasanya peristiwa itu masih kemarin sore. ingatan itu masih lekat mengingat pertengkaran melalui telfon hingga membuatku benar-benar menangis semalam. bahkan tiga malam.

hahahhaa kenapa drama percintaan ini terlalu dramatis rasanya?

rasanya baru kemarin dia malu-malu mengajak ku jalan berdua sebelum aku berangkat ke jakarta. bahkan kita belum pacaran. masih jelas juga ketika sehari setelah pengumuman SNMPTN yang menyatakan aku LULUS dan berarti kita berpisah sebagai sahabat, dia menangis semalaman. ya, dia menangis karena takut bahwa kita yang saat itu sudah saling merasa nyaman untuk bersama akan jadi berbeda jika harus berpisah. sering setiap aku pulang dia meminta agar aku tidak lagi pergi kemana-mana.

pacaran dengan harus menjalani LDR dalam waktu yang terbilang lama memang sangat sayang jika harus berakhir. tapi, kenapa harus dipertahankan jika hanya sebelah pihak yang bertahan? tidak akan pernah adil rasanya.masing-masing kita berhak memiliki kebahagiaannya walau salah satu harus merasakan sakit yang mendalam.

tidak masalah bagiku jika harus berkorban. toh masalah ini membuatku belajar banyak hal. membuatku semakin dewasa dalam menghadapi apapun. takdir ku memang menjadi perempuan tangguh yang mandiri. tidak untuk selalu bergantung kepada pria.

memang awalanya tidak terhitung berapa puluh ribu pulsa yang kuhabiskan untuk memohon memperbaikin keadaan. namun sayang, pengorbanan itu tidak memberiku balasan yang kuinginkan. sakit memang tapi tidak selamanya rasa itu akan tetap disitu. walaupun sayatannya dalam, suatu saat dia juga akan sembuh. walaupun tidak ada yang tahu kapan pastinya.

kehilangan membuatku lebih dekat kepada yang paling mencintaiku. mungkin ini teguran dariNya karena cinta manusia membuatku berpaling dariNya. dia yang paling mencintaiku tidak ingin kuduakan. Dia memberikan masalah yang membuatku kembali memohon kasih dan pertolonganNya. Dia yang tidak akan pernah meninggalkanku dan selalu mencintaiku.

lantas kapan aku akan berdamai dengan masa lalu dan masalahnya? mungkin sudah kulakukan. mungkin belum.

aku terkadang menertawakan masa lalu yang indah yang tanpa sengaja terkenang. entah melalui foto atau tulisan.dan ketika aku bertemu potongan masa lalu yang menyakitkan membuatku tidak bisa tidur semalaman. rasa sakit itu menjalar keseluruh pembuluh darah. rasanya tidak ada hasrat untuk melakukan apapun selain menangis.

kapan masalalu yang menyakitkan mau datang menyalamiku dan mengucap maaf? ataukah aku yang harus memaafkan walau dia tidak meminta? bukan tidak mau, tapi berat rasanya.

bisakah kita berdamai dengan masalah yang membuat kita menjadi orang yang berbeda yang bukan kita seharusnya. yang mengacaukan sebagian besar harapan kita?

walau tidak selamanya masalalu menyakitkan. walau ia bisa mengajarkan banyak hal. masih berat rasanya untuk melepas maaf dan mengikhlaskan. ya rasanya ikhlas itu seberat baja. berat. entah kenapa.

Oh ya dan satu lagi kenapa orang lain sering merasa paling benar menganggap kita yang baru kehilangan terlalu terpuruk akan masalah yang kita hadapi? kenapa mereka menganggap kita yang sengaja membuat diri kita terjebak didalam masalah itu sendiri? kenapa orang lain dengan mudahnya mengatakn, "yaudah lupain aja", hey kehilangan tidak seperti kenalan baru yang tidak berkesan yang baru semenit kita sudah lupa namanya. ikhlas? ya aku tahu, tapi itu berat. jangan pernah merasa paling benar dan paling tau harus berbuat apa untuk masalah orang lain. JANGAN.

-tiara-, ditulis dengan segenap rasa sakit 
dan setitik cinta yang tersisa.